Khilafah di Sana, Khilafah di Sini
Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi
Lain lagi pikiran Ibnu Khaldun (w. 1406), sarjana yang menggotong gagasan Ashabiyyah (solidaritas sosial berdasarkan darah dan suku) tersebut. Ilmuan yang lahir dari rahim ibu orang Berber di Tunisia sekarang, merasa tidak perlu rumit-rumit mempertahakan klaim otoritas kaum Quraisy atas khilafah itu. Orang Quraisy itu juga manusia seperti kaumnya di Tunisia. Walau di tengah kaum Quraisy itu pernah lahir manusia mulia seperti Nabi, Abu Bakar hingga Ali, tapi di sana ada juga Abu Lahab, Abu Jahal yang bakhilnya naudzubillahimindzalik. Maka untuk apa susah memikir kaum Quraisy yang sakit itu. Kalau memang hebat dan ada restu dari langit karena keturunan kaum Quraisy, tidak mungkin Khilafah Abbasiyah itu disapu oleh cucu Jenghis Khan, Hulagu, semudah menyapu daun kering.
Jadi, menurut Ibnu Khaldun yang mengagumi Jenghis Khan dari ujung hidung hingga ujung kaki, sebuah khilafah akan kuat bin hebat jika didukung oleh Ashabiyyah yang kuat. Khilafah, lanjut Ibnu Khaldun yang menulis kitab Al-‘Ibar yang tebalnya bukan kepalang itu, harus diserahkan kepada Ashabiyyah kuat biar tercipta otoritas politik yang stabil dan akhirnya menghasilkan peradaban. Jangan diserahkan kepada Ashabiyyah sakit-sakitan, yang jangankan menguruskan daulah yang kuat, mengurus dirinya belum tentu becus.
Khilafah itu, menurut sarjana muslim yang hidup menjelang ajal Daulah Mameluk yang berkuasa di Mesir, memang anak kandung Arab Islam. Tapi bukan berarti Arab harus didorong terus-menerus untuk mengambil-alih kepemimpnan dunia Islam. Kalau Ashabiyyah ini sedang sakit, mau didorong bagaimanapun akan tetap saja ngadat di jalan. Maka dalam situasi seperti itu, khilafah yang berbasiskan Ashabiyyah Mongol pun boleh didukung asalkan mampu menjamin ketertiban daulah.