Lomba Mewarnai Meriahkan Bulan Soeharto di TMII

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Puluhan siswa pendidikan usia dini dan taman kanak-kanak mengikuti lomba mewarnai yang digelar di Balai Panjang Museum Indonesia Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (8/3/2020).

Lomba ini diadakan untuk mengeduksi anak sejak dini, agar mengenal sejarah bangsa, sehingga tumbuh jiwa nasionalisme.  Lomba bertema ‘Swasembada Pangan’ ini digelar dalam rangka memyemarakam Bulan Maret Bulan Soeharto 2020.

Dalam kertas putih itu, tergambar sosok Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto, yang dikenal dengan sebagai Bapak Pembangunan yang telah sukses mengharumkan bangsa Indonesia swasembada pangan, hingga mendapatkan penghargaan dari Food and Agricultur Organization (FOA) pada 1985.

Pelaksana Lomba Lomba Mewarnai Bulan Maret Bulan Soeharto, Oetari Nur Permadi, foto bersama peserta lomba di Balai Panjang Museum Indonesia TMII, Jakarta, Minggu (8/3/2020). -Foto: Sri Sugiarti

Dalam lomba ini, puluhan siswa usia dini itu harus mewarnai sosok Pak Harto bersama petani di area sawah di pedesaan, saat panen padi.

Pelaksana Lomba, Oetari Nur Permadi, mengatakan, tema Swasemba Pangan pada lomba mewarnai ini adalah untuk mengingatkan kepada generasi muda dimulai usia dini, bahwa kita itu punya banyak tokoh-tokoh bangsa yang pantas untuk diteladani.

“Kalau presiden saja ada tujuh, tapi kan kalau untuk anak PAUD kan kasihan kalau ingat ke-7-nya. Tadi saat awal lomba ditanyakan dua saja, siapa presiden yang diingat. Mereka menjawab, Pak Harto dan Pak Jokowi. Jadi, lomba ini supaya anak-anak itu mengenal sejarah bangsa secara usianya,” kata Oetari, di Balai Panjang Museum Indonesia TMII.

Ia menjelaskan, tema swasembada pangan ini juga untuk mengingatkan anak-anak, bahwa dari kecil mereka sudah harus sadar, kalau bangsa Indonesia  punya cukup makanan dari yang tumbuh di tanah sendiri.

“Nah, tadi di awal lomba ada cerita dari juri, untuk mengiringi anak,  kan itu konsep yang tidak mudah diterima anak. Tapi, kalau kita jelaskan ada jagung, singkong, beras ubi. Anak biar mengenal. Tadi saja ada yang lucu saat ditanya dua makanan khas daerah. Dijawab nasi dan jagung, ya nggak apa-apa, namanya juga PAUD,” ujar Oetari sambil tersenyum.

Dengan lomba ini, dia berharap anak-anak berani mengekspresikan diri, karena melalui melukis itu mereka merasakan kesenangannya.

“Mereka senang menggambar, lalu berani mengekspresikan diri, mau menang mau nggak yang penting mereka happy. Makanya semua anak dapat hadiah,” imbuhnya.

Tujuan lain lomba ini, yakni jelas dia, juga diarahkan untuk sesuai tema biar peduli kepada kondisi bangsa.

“Kan mereka seperti kertas putih, mau hijau, merah kuning, mau bureng itu karena kita. Tugas kita mngingatkan mereka pusaka-pusaka yang kita miliki, baik dari segi kekayaan flora fauna, makanan atau para pemimpin kita,” ujarnya.

Sedianya, lomba ini diikuti oleh ratusan peserta, namun yang hadir sekitar 80 anak. Hal ini menurut Oetari, karena sekolah mereka mendapatkan edaran dari Diknas Pendidikan supaya tidak ikut keramaian dulu, akibat wabah virus corona.

“Kita dukung kebijakan itu, tapi karena ini sudah terjadwal, ya kita usahakan tetap berjalan.Pesertanya sejabodetabek, yang daftar banyak, tapi yang ikut kira-kira 40 persen,” ujarnya.

Ada pun hadiah yang didapat dalam lomba itiu, juara 1 mendapatkan piala, dan uang sebesarRp 1.000.000, juara 2, piala dan uang sebesar Rp800.00, juara 3 mendapatkan piala dan uang Rp600.000.

Sedangkan juara harapan 1 mendapatkan piala dan uang sebesar Rp 500.000, juara harapan 2 piala dan uang Rp300.000, dan juara harapan 3 selain piala juga uang sebesar Rp250.000.

Selain lomba mewarnai tingkat usia dini, perayaan Bulan Maret Bulan Soeharto juga dimeriahkan dengan lomba menggambar tingkat Sekolah Dasar se-Indonesia. Juga lomba Info Grafis untuk umum mulai dari siswa SMA sampai usia di atasnya.

“Kedua lomba tersebut diadakan di seluruh Indonesia. Hasil kreativitas mereka ikut lomba dikirimkan ke panitia. Jadi, lombanya tidak di ruang terbuka seperti hari ini,” pungkasnya.

Lihat juga...