BATAN Tegaskan Keamanan dan Keselamatan Reaktor RDE
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
JAKARTA — Temuan zat radioaktif di salah satu perumahan menimbulkan pertanyaan akan keamanan reaktor nuklir yang dimiliki oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Tapi hal ini dijawab dengan pemaparan terkait keamanan dan keselamatan di Reaktor Daya Eksperimental (RDE) oleh pihak BATAN.

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan mengatakan, ada tiga hal yang menjadi kunci dalam pemanfaatan iptek nuklir.
“Keselamatan, keamanan, dan seifgard atau akuntansi bahan nuklir adalah tiga kata kunci dalam pemanfaatan iptek nuklir di berbagai bidang,” kata Anhar saat dihubungi, Selasa (3/4/2020).
Sebagai Badan Pelaksana di bidang ketenaganukliran, tegas Anhar, BATAN juga menjadikan tiga kata kunci tersebut sebagai prinsip dasar dalam semua kegiatan litbang dan pemanfaatan iptek nuklir.
“Penerapan ketiga kata kunci tersebut ditentukan oleh manusia yang menjalankannya, oleh karena itulah BATAN berkomitmen menumbuhkembangkan budaya keselamatan dan budaya keamanan nuklir,” urainya.
Peneliti Senior BATAN Geni Rina Sunaryo menyebutkan masyarakat memang sering terpengaruh oleh ledakan di PLTN Chernobyl, Ukraina (dulu bagian Uni Soviet).
“PLTN itu meledak 26 April 1986. Peristiwa tragis tersebut menjadi pelajaran, bagaimana seharusnya desain PLTN yang aman. Sejak tragedi Chernobyl, para pakar mencari formula, baik aspek konstruksi maupun pendingin PLTN yang save,” kata Geni saat dihubungi secara terpisah.
Ia menjelaskan bahwa PLTN Chernobyl yang kurang aman tersebut berpendingin air yang masuk kategori PLTN Generasi 1 (PLTN G-1).
“Sedangkan PLTN Fukushima di Jepang yang rusak akibat terjangan tsunami masuk karegori PLTN G-2. Pendinginnya juga masih air. Sebetulnya tingkat keamanan PLTN G-2 lebih tinggi dari PLTN G-1. Tapi terjangan tsunami yang sangat kuat, menyebabkannya goyah, lalu rusak, dan zat radioisotop yang radiasinya tinggi bocor. Kasus Fukushima pun jadi pelajaran lagi. Para pakar nuklir kembali tertantang untuk membuat desain PLTN yang aman dari guncangan gempa skala tinggi dan terjangan tsunami besar,” ujarnya.
Belajar dari kasus Chernobyl dan Fukushima, lanjut Geni, pakar desain PLTN sudah berhasil merancang PLTN G-3 dan G-4. PLTN G-3 tentu lebih aman dari G-2. Terus, PLTN G-4 lebih aman dari G-3. PLTN G-4 tingkat keamanan dan keselamatannya sangat tinggi. Kedepan para pakar nuklir niscaya akan terus memperbaiki tingkat keamanan PLTN. Sampai tahap zero risk.
“Perlu diketahui, filosofi keselamatan dalam PLTN, menyangkut prinsip keselamatan kerja, masyarakat sekitar, dan lingkungan. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kasus Chernobyl dan Fukushima, PLTN G-4 akan aman. Ini karena desain reaktornya sudah dirancang bisa melindungi pekerja, masyarakat sekitar, dan lingkungannya. Aman dan ramah,” tandasnya.