Abaikan Imbauan, Petani: Lebih Sehat Berpanasan di Kebun
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
PESISIR SELATAN — Situasi yang tengah membuat banyak masyarakat mulai gelisah terkait meningkatnya kasus virus COVID-19 atau virus corona di Indonesia, ternyata tidak membuat para petani urung beraktivitas. Mereka menilai, tetap bekerja di bawah terik matahari adalah cara yang sehat, ketimbang bermenung di rumah.
Seperti yang dikatakan oleh Ridho, petani di Sutera, Pesisir Selatan Sumatera Barat, bukankah menghadapkan tubuh dengan situasi terik matahari adalah cara yang bisa mendapatkan kekebalan dari serangan virus Covid-19.
“Jauh sebelum ada soal virus Corona atau Covid-19 ini, kami para petani sudah tahu bahwa terik matahari adalah salah satu hal yang bisa membuat seseorang itu sehat. Tapi bukan berarti harus berpanasan dari pagi hingga sore, namun ada waktunya juga untuk berteduh dan berisitirahat,” katanya di Painan, Senin (16/3/2020).
Ia menyebutkan, selain bicara soal bekerja di kebun atau sawah dalam situasi yang panas untuk membuat seseorang itu lebih bugar. Selain itu, mau tidak mau petani harus tetap menggarap lahan yang ada. Hal ini mengingat, akan masuknya bulan Ramadan dan setelah itu lebaran, maka ekonomi perlu untuk ditingkatkan.
Apabila petani memilih diam di rumah, maka ekonomi petani bakal terganggu. Karena tidak tau hal apa yang akan dilakukan, apabila hanya duduk berdiam diri di rumah. Namun, mengingat cuaca selama ini di Pesisir Selatan cerah, adalah petunjuk bahwa Sang Pencipta memberikan jalan yang mudah untuk makhluk-Nya.
“Kalau dipahami betul, terutama untuk petani ini, kenapa harus takut dengan virus Covid-19 itu. Cuaca yang cerah ini bukankah sebuah petunjuk, bahwa selagi ada cuaca cerah, tubuh manusia yang akan merasakan panas, dan tidak bisa bagi virus untuk menyerang. Jadi, syukuri saja,” sebutnya.
Diperkirakan, dengan kini padi yang telah ditanam, maka usai lebaran nanti akan berlangsung panen raya bagi petani yang ada di Sutera Pesisir Selatan. Padahal jika dihitung waktu, seharusnya usai lebaran itu, petani menikmati panen kedua di tahun 2020. Akan tetapi, karena kendala air di awal tahun, membuat musim tanam terpaksa diundur.
Tidak hanya Ridho, petani sawit di daerah yang sama, Pengki juga mengatakan, untuk satu bulan bisa dilakukan dua kali panen, atau per 15 hari. Jika petani ikut berdiam diri di rumah, bisa mengalami kerugian besar.
“Saya rasa, tetap bekerja di situasi Covid-19 ini adalah hal yang bagus. Karena tubuh bisa sehat, karena saat berada di kebun, bisa dihitung sebagai aktivitas olahraga juga. Alhmadullilah, kami petani di sini dalam keadaan sehat-sehat saja,” ujarnya.
Pengki menyebutkan, bicara soal kekhawatiran tentulah ada. Namun setelah membaca terkait cara membuat tubuh tetap kuat dari dari serangan virus Covid-19 itu, ternyata banyak hal berhubungan dengan aktivitas para petani.
“Ya ada disebutkan agar tubuh sehat harus berada di suhu panas di atas 27 derajat celcius. Sementara kami sebagai petani menghadapi langsung suhu panas matahari hingga 33 derajat celcius setiap harinya. Jadi, baiknya tetap menggarap lahan, bukan berdiam diri ke rumah,” ungkapnya.
Sebelumnya, Pemprov Sumatera Barat mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan atau rumah, serta tidak lagi melakukan kegiatan rapat untuk mengumpul. Tujuan hal ini disampaikan, sebagai upaya pemerintah untuk mencegah virus Covid-19 menyebar.