Melatih Fokus, Belajar Panahan di TMII

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Puluhan pemanah berdiri tegap dengan posisi kaki sejajar garis tembak. Mereka terlihat fokus dan konsentrasi untuk menembakkan anak panah ke garis lurus targetnya.

Panahan merupakan cabang olahraga yang diminati masyarakat di era sekarang. Klub-klub panahan tumbuh sumbur di berbagai daerah di Indonesia.

Di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) klub panahan bernama SDR TMII. Klub ini berada di bawah pembinaan Museum Olahraga TMII. Mereka rutin berlatih setiap hari. Untuk hari Senin hingga Jumat berlatih pukul 16.00-18.00 WIB, sedangkan Sabtu-Minggu dari pagi hingga pukul 15.00 WIB.

Pelatih (coach) DSR TMII, Yanusani Alugoro, mengatakan, olahraga panah sangat populer saat ini dan diminati masyarakat. Hingga klub-klub panahan tumbuh pesat di berbagai daerah, dan hadir pula di TMII.

Pelatih (coach) DSR TMII, Yanusani Alugoro saat ditemui di area Museum Olahraga TMII, Jakarta, Sabtu (29/2/2020). Foto: Sri Sugiarti

“Kita sudah 3 tahun di Museum Olahraga TMII. Tujuannya untuk memasarkan olahraga panahan di masyarakat supaya makin massal bisa merasakan olahraga panahan,” kata Sani demikian panggilan Yunasani Alugoro kepada Cendana News, Sabtu (29/2/2020).

Karena menurutnya, pada 5 tahun lalu sangat sulit untuk menjangkau olahraga panahan. “Adanya cuma di Senayan dan Ragunan di sekolah atlet. Jadi sekarang kita lebih masuk ke masyarakat supaya bisa dijangkau,” ujarnya.

Dalam berlatih panahan, jelas dia, ada empat nilai untuk ditanamkan ke peserta klub panahan.

Pertama adalah ketenangan. Jadi dalam berlatih jelas dia, mereka mesti tenang dulu. Karena ketika memanah tangannya goyang, dan hatinya tidak tenang pasti pikirannya ke mana-mana.

Kedua yaitu fokus. Artinya kata dia, fokus ini bukan hanya pada target, tapi fokus pada teknik dan proses untuk mencapai target tersebut.

Adapun ketiga adalah keberanian. Karena kalau di panahan itu kita buat evaluasi hasil. “Misalnya, anak panahnya nggak kena target kuning, tapi ke atas semua. Jadi harus berani mengevaluasi teknik,” ujar Sani.

Target panahan itu ada poin terbesar. Yakni 10 poin di tengah kuning anak panah tepat ditembakkan.

“Di target tengah kuning itu ada dua nilai 9-10, kedua garis merah ada nilai 8-7, warna biru nilai 6-5, warna hitam yaitu nilai 4-5,dan putih adalah 2-1,” urainya.

Terakhir keempat, adalah punya jiwa pemenang. Karena dalam klub panahan, mereka itu tidak hanya berlatih saja, tetapi ada lomba.

“Nah, anak itu biasanya ketika lomba bukan menang menjadi juara, tapi menang mengalahkan dirinya sendiri. Nah, ketika anak sudah terbiasa itu, maka ini akan menjadi karakter,” tandasnya.

Memang menurutnya, tujuan utama di panahan ini adalah pembentukan karakter. “Karena di panahan itu banyak nilai sangat positif bisa menjadi keseharian,” ujar Sani.

Lebih lanjut dia menjelaskan, panahan itu semakin mereka banyak menembak dengan frekuensi latihan sering, itu akan semakin dapat apalagi dengan teknik hasilnya makin baik.

Sehingga berbeda dengan yang sudah latihan lama tahunan, tapi frekuensi latihan cuma seminggu sekali. “Itu perkembangan akan stagnan, tidak ada hasil maksimal. Berbeda dengan mereka yang latihan setahun dan latihan tiap hari terus menerus, itu lebih baik hasilnya,” kata Sani.

Menurutnya, panahan ini sebenarnya olahraga yang mudah, tidak banyak gerakan. Karena prosesnya hanya menarik dan melepas anak panah dengan harus fokus, konsentrasi dan menjaga keseimbangan.

Panahan ini tidak banyak lari-lari. Istilahnya kalau dalam olahraga adalah keterampilan tertutup gerakannya hanya itu-itu saja. Berbeda dengan olahraga lainnya yang banyak variasi gerakannya.

“Kayak tenis, gerakannya banyak yang harus dihapalkan. Kalau panahan nggak banyak gerakan, tapi konsisten hanya tarik lepas anak panah,” ujarnya.

Sani bangga anak didiknya sangat antusias berlatih panahan dan banyak bibit menjadi atlet yang bisa berlaga dalam perlombaan panahan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Apalagi kata dia, lomba panahan selalu digelar di setiap daerah di Indonesia. “Di luar sekarang sudah banyak lomba panahan sudah kayak olahraga futsal. Karena sudah massal itu tiap bulan selalu ada lomba panahan bisa di tingkat Jakarta atau jabodetabek hingga daerah,” ungkapnya.

Namun sekarang ini menurutnya, yang banyak menggelar lomba adalah club open, bukan multi event.

“Itu artinya penyelenggara jalur prestasi atlet. Kayak misalnya Pelatda (Pemusatan Latihan Daerah) Panahan tingkat DKI Jakarta, lalu naik ke PON (Pekan Olahraga Nasional),” jelasnya.

Sani bangga anak didiknya sukses menjadi juara dalam lomba panahan. Seperti lomba Indonesia Memanah dan lainnya.

“Bangga, kita punya bibit bagus menjadi atlet bisa berlaga. Diharapkan bisa hingga tingkat dunia,” ujarnya.

Namun demikian, kata dia, dengan olahraga ini yang paling utama bukan mereka mendapatkan prestasi banyak. Tapi diharapkan mereka bisa menerapkan empat nilai dari panahan dalam kehidupan keseharian.

“Menjadi karakter yang positif, lebih tenang menghadapi berbagai masalah. Juga lebih fokus untuk mencapai tujuan, dan lebih berani mengevaluasi diri dalam menghadapi apa pun serta mempunyai jiwa pemenang,” ujarnya.

Tercatat selama tiga tahun ini sebanyak 200 peserta DSR TMII. Namun dari jumlah tersebut yang aktif berlatih panahan sebanyak 70 orang.

Sani juga merasa bersyukur bisa melatih panahan di TMII, yang merupakan wahana kebudayaan yang dibangun oleh Ibu Negara Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto.

“Bangga ya, melatih panahan di TMII. Anak-anak selain latihan juga bisa wisata belajar ragam budaya bangsa,” ucapnya.

Menyambut perayaan HUT ke 45 TMII, Sani berharap panahan bisa tampil memeriahkan dengan peserta semua anjungan daerah ikut memanah.

“Saya siap melatihnya, apalagi panahan ini kan budaya warisan leluhur. Di Solo dan Yogyakarta itu ada namanya Jemparingan. Ini seni panahan asli Yogyakarta sangat sarat nilai budaya,” ujarnya.

Jemparingan adalah olahraga panahan khas Kerajaan Mataram. Berasal dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, atau dikenal juga dengan jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta.

Keberadaan jemparingan dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta.

Yaitu, Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), raja pertama Yogyakarta, yang mendorong pengikutnya untuk belajar memanah sebagai sarana membentuk watak ksatria.

Watak ksatria yang dimaksud adalah empat nilai yang diperintahkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk dijadikan pegangan oleh rakyat Yogyakarta, yaitu sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh.

Dijelaskan, sawiji artinya konsentrasi, greget itu semangat, sengguh adalah rasa percaya diri, dan ora mingkuh berarti memiliki rasa tanggung jawab.

Pada awalnya, permainan ini hanya dilakukan di kalangan keluarga Kerajaan Mataram, dan dijadikan perlombaan di kalangan prajurit kerajaan.

Namun seiring waktu, seni panahan ini semakin diminati dan dimainkan oleh banyak orang dari kalangan rakyat biasa.

“Jemparingan ini, mereka manahnya sambil duduk bersila dengan memakai pakaian adat Yogya, yaitu beskap. Jadi otomatis panahan ini pelestarian budaya,” kata Sani.

Karena dulu di zaman kerajaan juga memakai alat panahan ini untuk berburu dan bertempur.

Saat ini kata Sani, panahan ini dipakai untuk olahraga yang sarat nilai dan pelestarian budaya.

“Jadi kalau saya berharap Indonesia punya olahraga ciri khas. Kalau Thailand ada munghtai. Kalau di Indonesia pengennya panahan ini selain pencak silat. Panahan juga bisa menjadi yang dibanggakan dari Indonesia menjadi warisan budaya dunia,” ujar Sani.

Addiena Khansa, salah satu peserta klub DSR TMII mengaku baru setahun berlatih panahan.

Addiena Khansa saat ditemui di area Museum Olahraga TMII, Jakarta, Sabtu (29/2/2020). Foto: Sri Sugiarti

Adapun manfaat yang dirasakan setelah rutin latihan, yakni siswi SMP Bunda Hati ini, merasa lebih tenang dan fokus dalam menghadapi segala hal.

“Awalnya cuma ngisi waktu latihan panahan ini. Tapi merasa manfaatnya banyak ya, saya jadi lebih fokus dan tenang. Saat ikut lomba Indonesia Memanah VI, saya juara 2, bangga ya,” ujar Addiena kepada Cendana News.

Lihat juga...