Keong Mas Serang Tanaman Padi Petani di Lamsel
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Sejumlah petani padi di Lampung Selatan, terpaksa melakukan penyulaman benih, akibat serangan hama keong mas (pomacea Canaliculata). Penyulaman benih baru dilakukan untuk meminimalisir kerugian akibat serangan hama tersebut.
Jumono, petani di Desa Pasuruan, Penengahan, menyebut, penyulaman merupakan penanaman bibit baru untuk mengganti tanaman rusak imbas hama keong mas. Siklus hidup keong mas yang cepat berimbas bibit padi usia muda rentan diserang hama pemangsa daun, batang padi muda tersebut.
Menurut Jumono, hama keong mas menyebar dengan cepat saat masa tanam pertama (MT1). Sebab, potensi genangan air yang tinggi dan banjir mengakibatkan penyebaran keong mas sangat cepat. Hama keong mas harus rutin dipantau dengan keberadaan telur yang kerap menempel pada tanaman padi. Fase telur hingga menetas selama dua pekan, membuat ia harus rutin melakukan pemantauan.

Populasi hama keong mas pada musim tanam rendengan, bisa dikendalikan dengan obat kimia dan manual. Selama proses pemantauan hama, ia juga melakukan penyulaman bibit padi dengan tanaman baru.
Bibit padi untuk penyulaman diperoleh dari sisa bibit yang tidak seluruhnya ditanam. Cara paling efesien dilakukan menggunakan pemencaran bibit yang sudah ditanam pada petak sawah.
“Penyulaman tanaman yang mati akibat hama keong mas bisa dilakukan memakai rumpun padi yang sudah tumbuh agar usia tanaman bisa seragam, sekaligus mengurangi rumpun yang terlalu banyak untuk pemencaran,” ungkap Jumono, Senin (10/2/2020).
Hama keong mas, menurut Jumono menyerang hampir semua varietas padi. Terlebih hama tersebut menyerang tanaman padi muda yang baru ditanam usia 15 hari. Penanaman padi dengan sistem pemindahan bibit dari persemaian, menurutnya menjadi cara meminimalisir hama keong mas. Sebab, benih padi yang diambil dari lokasi pembenihan (uritan) dominan memasuki usia 25 hari.
Hama keong mas sebagai organisme pengganggu tanaman (OPT), jika tidak dikendalikan berpotensi merusak tanaman padi. Setiap pagi dan sore, Jumono selalu melakukan pemantauan sekaligus menyulam tanaman yang dimangsa hama keong mas. Keong mas yang dipungut dengan tangan bisa dimanfaatkan sebagai pakan bebek, entok yang dicampurkan dengan dedak.
“Pengendalian hama keong mas sekaligus menjadi proses pencarian pakan unggas, bahkan bisa dikonsumsi untuk dibuat sate keong,” beber Jumono.
Tanpa penanganan yang baik, tanaman padi yang dibudidayakan menurut Jumono akan mengalami kerugian. Sebab, hama keong mas bisa menghilangkan tanaman 10 hingga 40 persen. Penyiapan cadangan benih di lokasi darat menjadi cara mengantisipasi penyediaan bibit, akibat hama keong mas pada lahan persawahan.
“Sistem pengeringan dan umpan daun pepaya, talas pada satu petak juga efektif memancing keong agar lebih mudah diambil,” cetus Jumono.
Pengendalian hama keong mas, menurut Jumono dominan dilakukan dengan cara manual. Cara tersebut efektif tanpa mengeluarkan biaya yang banyak untuk membeli obat kimia. Penyebaran hama keong mas yang mulai ada sejak 1995 di wilayah tersebut, mulanya hanya merupakan hewan hias di kolam. Imbas banjir, keong mas terbawa ke area persawahan dan menjadi hama.
Petani lain bernama Wiyono, menyebut pengendalian keong mas dilakukan secara rutin agar hama bisa dikurangi. Seusai anjuran dari penyuluh pertanian dan petugas pemantau OPT, keong mas dapat dikendalikan dengan sejumlah langkah. Meliputi pemilihan bibit tanaman yang sehat, pelestarian musuh alami seperti bangau dan belibis, pengamatan secara rutin.
“Pengendalian hama secara terpadu juga memaksimalkan kearifan lokal dengan teknik penggunaan daun pepaya, talas dan memanfaatkan keong untuk pakan,” tutur Wiyono.
Petani yang menanam bibit padi sekitar 20 kilogram varietas Ciherang itu, mengaku pengendalian hama akan meminimalisir kerugian. Dengan pencegahan hama, masa pertumbuhan padi akan makin cepat, ditambah pengaplikasian pupuk secara tepat. Saat tanaman padi berusia sekitar 30 HST, maka keong mas mulai berkurang. Pengendalian dengan penyulaman tanaman baru sekaligus memulihkan tanaman yang rusak.
Pada kondisi normal, tanpa serangan hama keong mas, Wiyono memastikan bisa mendapat produksi padi maksimal. Pada lahan seluas satu hektare, lahan padi bisa menghasilkan 5 ton gabah kering panen (GKP).
Musim rendengan dengan curah hujan yang tinggi, selain OPT pada tanaman padi, kerugian juga bisa diakibatkan banjir. Sebab, lokasi lahan padi sebagian berada di dekat aliran sungai yang kerap meluap saat banjir.