Petani Jagung di Lamsel Terbantu dengan Lancarnya Pupuk Bersubsudi

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Memasuki usia tanam 18 hari, petani jagung di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) mulai melakukan pemupukan pertama pada musim tanam yang berbarengan dengan musim hujan. Mereka merasa terbantu dengan lancarnya penyaluran pupuk bersubsidi di daerah tersebut.

“Saya melakukan pemupukan saat jagung memasuki usia 18 hari didukung distribusi yang lancar,” sebut Agus Irawan, petani jagung di Dusun Pegantungan, Desa Bakauheni, Senin (6/1/2020).

Agus Irawan menyebut harga pupuk subsidi menurutnya sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Sesuai dengan aturan yang baru mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian No 1 Tahun 2020 harga sejumlah pupuk bersubsidi perkilogram di antaranya Urea seharga Rp1.800, SP-36 seharga Rp2.000, ZA seharga Rp1.400 dan NPK seharga Rp2.300.

Ia menyebutkan, pada masa tanam sebelumnya, ia baru dapat memupuk tanaman jagung saat memasuki usia 25 hari akibat keterlambatan distribusi pupuk.

Musim penghujan yang mulai lancar membuat pertumbuhan tanaman cukup pesat. Namun, hal lain yang diwaspadai petani yakni pertumbuhan gulma rumput dan hama ulat grayak.

“Antisipasi gulma rumput, saya menggunakan herbisida, sebagian dicabut dengan tangan. Sementara untuk hama ulat grayak disemprot dengan insektisida,” terangnya.

Ia menyebut pada masa tanam pertama petani jagung dihantui serangan hama ulat grayak (Spodoptera exigua). Meski serangan tidak luas namun tanaman jagung yang diserang pada bagian daun dan batang berimbas kerusakan.

“Beruntung petani di Bakauheni menerapkan tumpang sari dengan jenis sayuran lain sehingga hama ulat grayak bisa dikurangi,” tuturnya.

Hasan, petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan menyebutkan, masa pemupukan pertama ia mudah mendapat pupuk yang dibeli dengan cara online melalui kelompok tani. Namun memasuki masa pemupukan pertama serangan hama ulat grayak dan gulma rumput cukup mengganggu.

“Biaya operasional pada masa tanam jagung tahun ini cukup tinggi karena harus mengeluarkan obat hama dan gulma,” beber Hasan.

Ia yang melakukan proses pembersihan secara manual dengan mencabut rumput mengaku masih harus memakai herbisida. Obat kimia yang diaplikasikan dengan cara penyemprotan menjadi cara mengurangi gulma pada lahan.

Jenis gulma rumput yang kerap mengganggu pertumbuhan jagung di antaranya rumput gelagah, padi padian dan kawatan.

Lihat juga...