Tradisi ‘Lelengkah Halu’ Rasa Syukur Anak Bisa Berjalan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Rasa syukur atas anak yang baru bisa berjalan kerap diungkapkan oleh orangtua dengan menggelar saweran.

Via Noviana, warga Dusun Serungku, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni menyebut ia menggelar saweran bagi anak ketiganya yang bisa berjalan. Tradisi saweran dilakukan saat anak baru bisa berjalan atau dalam bahasa Sunda dikenal lelengkah halu.

Via Noviana menyebut saweran sengaja dibuat oleh keluarganya sebagai ungkapan syukur anak ketiga bisa berjalan. Sang anak bernama Alfarizi yang merupakan anak ketiga mulai bisa berjalan saat memasuki usia 10 bulan.

Sebagai cara menjaga tradisi keluarga turun temurun lelengkah halu tetap dilakukan. Tradisi tersebut menjadi ungkapan syukur kepada sang pencipta dan kepada sesama di sekitar tempat tinggal.

Tradisi lelengkah halu menurut Via Noviana kerap diumumkan kepada anak anak hingga orang dewasa. Pengumuman dilakukan sehari sebelum pelaksanaan, kerap memanfaatkan momen hari libur.

Saat hari yang ditentukan tiba, keluarga akan menyiapkan sejumlah bahan saweran. Saweran yang disiapkan meliputi koin, permen, uang kertas yang dilipat dan dibentuk bulat, beras kuning.

“Satu jam sebelum pelaksanaan saweran semua tetangga telah menunggu di halaman rumah menunggu orangtua anak yang akan melakukan lelengkah halu menebarkan saweran dalam wadah baskom,” ungkap Via Noviana saat ditemui Cendana News, Minggu (1/12/2019).

Saweran menurut Via Noviana memiliki makna sesuai dengan barang yang akan disawerkan. Uang menurutnya menjadi simbol kemakmuran sehingga saat anak dewasa akan bisa hidup makmur.

Beras yang dicampurkan dengan kunyit menjadi simbol kesejahteraan. Permen menjadi simbol dalam perjalanan kehidupan sang anak akan manis. Uang kertas dan uang koin menjadi simbol berbagi oleh warga yang melakukan lelengkah halu.

Saat proses menyawer tersebut Via Noviana menyebut sang ibu bernama Rusnah ikut dilibatkan. Rusnah sang ibu menyebut saweran merupakan ungkapan kebahagiaan orangtua, melestarikan tradisi.

Rusnah (kanan) sang nenek dan Radmiadi sang ayah dari Alfarizi menyiapkan saweran pada tradisi lelengkah halu saat anak mulai bisa berjalan, Minggu (1/12/2019) – Foto: Henk Widi

Mengundang tetangga mulai anak-anak, ibu-ibu menjadi bentuk ungkapan syukur dan memeriahkan tradisi lelengkah halu. Sebab kehadiran anak-anak sekaligus menjadi cara memberi kebahagiaan bagi sang anak yang kelak akan menjadi kawan sepermainan.

“Selain anak-anak, ibu-ibu kerap bapak-bapak juga ikut terlibat dalam kegiatan saweran karena semakin banyak yang ikut akan meriah,” terang Rusnah.

Rusnah menyebut simbol kebahagiaan, saweran lelengkah halu rutin dilakukan oleh keluarga yang melestarikan tradisi. Sebagai warga yang berasal dari Sunda ia masih menjaga tradisi tersebut meski zaman mulai modern.

Meski jumlah uang koin, uang kertas yang disawer jumlahnya tidak seberapa namun kebersamaan, kebahagiaan menjadikan saweran tetap dipertahankan.

Pada kegiatan saweran yang dilakukan untuk sang cucu, ia menyebut nilai uang yang disiapkan mencapai Rp500.000. Sebab uang yang disawer meliputi pecahan Rp500, Rp1.000, Rp2.000 dan berbagai jenis permen.

Selain uang dan permen yang disawer, pada tradisi lelengkah halu pemilik acara akan menyimpan nomor undian dalam kertas. Saweran akan dilemparkan tepat di atas payung sang ibu yang menggendong sang anak yang akan menjalani tradisi lelengkah halu.

“Variasi saweran kerap dilakukan dengan menambah nomor undian pada kertas berjumlah puluhan, hadiahnya berupa makanan dan minuman ringan,” bebernya.

Warsi, salah satu warga memperlihatkan hasil saweran yang diperoleh saat tradisi lelengkah halu di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lamsel, Minggu (1/12/2019) – Foto: Henk Widi

Sebelum saweran ditebarkan, Rusnah menyebut terlebih dahulu mendoakan sang cucu. Doa yang dipanjatkan meliputi kesehatan, kebahagiaan bagi sang anak dan orangtua.

Sebagai bentuk ungkapan berbagi dalam bentuk saweran ia juga mendoakan sang anak ringan tangan dalam membantu sesama. Sebab simbol berbagi dalam hal sederhana akan dilanjutkan dengan berbagi hal besar saat anak dewasa.

Santi, salah satu ibu rumah tangga yang ikut saweran mengaku rela berdesak-desakan mengambil saweran. Saat proses memperebutkan saweran ia harus rela terjatuh dan terinjak hingga koin, uang, permen, beras dalam baskom habis. Seusai mendapatkan saweran ia akan menghitung hasil uang dan permen yang diperoleh.

“Selain mendapatkan uang dan permen, saat saweran ada yang mendapatkan kertas dengan nomor undian nanti bisa ditukarkan dengan makanan ringan,” ungkap Santi.

Santi yang tinggal di Desa Kelawi menyebut tradisi saweran masih dijalankan oleh warga. Saat kelahiran anak dalam sebuah keluarga dipastikan akan digelar saweran.

Meski tradisi tersebut terbilang kuno namun nilai kebersamaan, persaudaraan sebagai kerabat masih dipertahankan.

Ia menyebut tidak mempersoalkan besaran atau bentuk barang yang disawer karena menyesuaikan kemampuan. Sebab lelengkah halu menjadi cara bersyukur saat anak mulai bisa berjalan.

Lihat juga...