Masyarakat Bakauheni Manfaatkan Sumur di Tepi JTTS

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Ratusan warga Desa Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel), memanfaatkan sumber air di tepi jalan tol selama kemarau, untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari.

Usman, warga Dusun Kenyayan, Bakauheni, menyebut sumber air bersih tersebut berada di tepi Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) KM 0 ruas Bakauheni-Terbanggi Besar. Sumur berdiameter dua meter dan kedalaman lima meter itu menjadi sumber air bersih saat kemarau.

Sumur di tepi akses masuk JTTS tersebut, menurut Usman, sangat jernih dan meski dekat laut, namun memiliki air tawar.

Sumur yang dibuat oleh pengelola jalan tol, PT Hutama Karya untuk proses penyiraman rumput dan tanaman tersebut, sejak pagi hingga sore ramai ditimba oleh warga.

Tungki (menuang air) bersama istri memanfaatkan air di tepi Jalan Tol Trans Sumatra KM 0 Bakauheni, Lampung Selatan, Minggu (3/11/2019). -Foto: Henk Widi

Sebelum pembangunan jalan tol, lokasi tersebut awalnya perumahan warga yang memiliki sumber air melimpah, karena berada di cekungan.

Lokasi yang kini menjadi kawasan penghijauan di area JTTS tersebut, masih ditumbuhi pepohonan, meski kemarau melanda. Sejak dua tahun silam, warga Bakauheni yang kesulitan air bersih memilih mengambil air dengan jerigen, galon dan drum plastik.

Selain masyarakat, truk tangki milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kerap memanfaatkan sumur tersebut untuk memasok air ke warga yang kekurangan air.

“Warga yang datang kerap datang dengan membawa tali timba, agar tidak mengantre, kalau mobil tangki memakai mesin alkon penyedot air, agar bisa didistribusikan kepada warga yang membutuhkan,” ungkap Usman, saat ditemui Cendana News di lokasi, Minggu (3/11/2019).

Usman dan ratusan warga lain mengau sangat terbantu, sebab selama ini sebagian warga harus membeli air. Pengelola jalan tol bahkan membuat srumbung dari gorong-gorong, sehingga sumur tersebut tidak runtuh.

Sebelumnya, kata Usman, ada dua sumur berjarak sepuluh meter dari sumur pertama. Namun akibat tertimbun longsoran batu, sumur tersebut tertutup dan tidak bisa digunakan.

Fasilitas sumur umum yang disediakan oleh pengelola jalan tol Sumatra, disebutnya juga membantu petugas pemadam kebakaran. Sebab, kemarau berimbas terbakarnya semak-semak di sekitar jalan tol, jalan lintas Sumatra, bisa dipadamkan dari air yang tersedia di sumur tersebut.

Sebuah selang khusus untuk kendaraan tangki pemadam kebakaran di jalan tol, bahkan disiapkan di lokasi sumur sebagai cadangan.

“Setiap pagi dan sore, saya mengambil air dengan galon dan jerigen atau ngangsu, ditampung di bak mandi yang ada di rumah,” tuturnya.

Stok air bersih yang diambil pada pagi hari, bisa dipergunakan untuk keluarga selama dua hari. Setelah habis, ia akan mengambil air bersih di sumur tersebut.

Usman mengaku kerap mengajak serta sang anak. Sebab, ia bisa menghemat air yang ada di rumah dengan memandikan sang anak dengan air dari sumur tersebut.

Warga lain bernama Tungki, mengaku air bersih di JTTS KM 0 tersebut membantu baginya sebagai pedagang makanan. Sebab selama kemarau, laki-laki yang bersama sang istri memiliki warung di depan Menara Siger Bakauheni sulit memperoleh air.

Fasilitas instalasi air bersih dari perusahaan daerah air minum (PDAM) Tirta Jasa Bakauheni, bahkan tidak mengalir saat kemarau.

“Sehari saya mengambil empat jerigen air untuk mencuci piring dan memasak, untuk minum beli air galon,” ujarnya.

Selama dua tahun lebih memanfaatkan air bersih sumur tersebut, pengelola tol mempersilakan warga. Sebab kondisi air dalam sumur yang kerap diambil akan makin jernih. Memiliki kedalaman sekitar lima meter, menjadikan sumber air bersih tersebut menjadi rujukan mengambil air.

Joni, warga yang tinggal di Muara Piluk dekat pesisir pantai, juga mengaku mengambil air bersih dengan mobil. Dibantu sang anak, ia membawa belasan jerigen dengan total kapasitas sekitar seribu liter.

Air bersih yang diambil dari sumur di JTTS KM 0 tersebut diakuinya sangat membantu warga. Ia bahkan berharap, agar pengelola tol bisa menyediakan fasilitas bak penampungan dan mesin pompa pada lokasi tersebut, agar memudahkan warga saat kemarau.

Terkait hal tersebut, Kepala Desa Bakauheni, Sahroni, menyebut kala kemarau warganya kesulitan air bersih. Sumber air bersih yang ada di dekat jalan tol dan memiliki sumber air bersih sangat membantu warga. Sebelumnya, Desa Bakauheni telah mendapat fasilitas sumur bor dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sumur bor tersebut berlokasi di Dusun Semampir dengan kedalaman 175 meter.

“Kami sudah usulkan agar di setiap dusun yang kekurangan air bisa dibuat sumur bor, tapi kendalanya kerap tidak mendapat air pada kedalaman tertentu,” ungkap Sahroni.

Pemanfaatan sumur pada area JTTS disebutnya akan ditingkatkan fungsinya untuk kebutuhan warga. Pihak desa bahkan akan mengajukan usulan kepada pengelola tol, agar dibuatkan fasilitas kamar mandi atau toilet umum di sekitar sumur tersebut. Meski ada di area tol, sumur itu bisa dimanfaatkan masyarakat Bakauheni.

Lihat juga...