Tinju Adat ‘Sadok Nonga’ Khas Lewolema, Meriahkan Festival Lamaholot
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LARANTUKA – Saat pagelaran festival Nubun Tawa tahun 2018, Sadok Nonga atau tinju adat masyarakat komunitas adat Lewolema sudah dipertontonkan. Sadok Nonga pun kembali dipentaskan dalam festival Lamaholot tahun 2019 di desa Bantala, kecamatan Lewolema, kabupaten Flores Timur, NTT.
Dalam pembukaan Festival Lamaholot tahun 2019 di Desa Bantala Kecamatan Lewolema, kabupaten Flores Timur, atraksi Sadok Nonga merupakan salah satu atraksi yang dipentaskan warga desa Bantala.
“Penamaan Sadok Nonga dari kata bahasa Lamaholot yaitu Sadok yang artinya tinju sementara Nonga yang berarti bakul. Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu,” kata Dominikus Balun, salah seorang peserta Sadok Nonga, Jumat (13/9/2019).
Dikatakan Dominikus, pelaksanaan Sadok Nonga biasa dilakukan saat pesta syukuran usai panen padi di ladang. Atraksi ini merupakan ungkapan kegembiraan karena hasil panen melimpah sehingga perlu dirayakan.
Tinju tradisional ini tidak mengadu kekuatan, tapi memiliki makna memperlihatkan kekuatan tenaga seorang lelaki. Kekuatan lengan lelaki itu yang dipertontonkan saat atraksi yang melambangkan kerja keras.
“Tidak ada yang kalah atau menang dalam tinju tradisional Sadok Nonga ini sebab ini hanya ungkapan kegembiraan, rasa suka cita dan syukur atas perolehan hasil panen di ladang,” ucapnya.
Tinju adat ini juga tambah Dominikus, menunjukkan jiwa ksatria seorang pria serta menjadi pertaruhan harga diri seseorang yang terlibat dalam atraksi ini. Petinju atau orang yang memukul Nonga atau wadah berisi jerami, tangannya bisa berdarah karena meninju sekuat tenaga dan wadahnya sobek.
Sadok Nonga seperti dijelaskan Petrus Eban Tukan tokoh adat Lewolema yang ditanyai Cendana News, merupakan tinju tradisional dengan media kantong anyaman dari daun lontar.

Tinju ini kata Petrus, sapaan karibnya, biasanya dilakukan pada hari terakhir panen padi di sekitar mesbah yang ada di tengah ladang.
Padi terakhir yang dipanen kata dia, disimpan dalam wadah (karanee) yang berukuran tidak besar untuk kemudian diantar menuju pondok tempat penyimpanan padi yang berukuran lebih besar.
“Wadah yang kecil atau sedang tersebut kemudian diisi jerami dan dibawa oleh para pria ke sekitar mesbah disertai teriakan menantang pria-pria di sana untuk memukul sekuat dan sekeras mungkin, menyobek dan menembus wadah,” terangnya.
Ini menjadi ajang tinju spontan dan ramai kata Petrus dan masing-masing mencari penantang. Yang membawa wadah tersebut lanjutnya, menekan lawan yang menantangnya dengan pukulan tangan kosong tanpa alas.
Setelah itu, tandasnya, padi terakhir dipanen, disarungi, dipangku layak manusia.
Padi ini pun sebutnya, diantar menuju pondok dengan tarian mengelilingi pondok sebelum akhirnya disatukan dan disemayamkan di sana.
“Sesudahnya, dibunuhlah binatang untuk memulihkan kembali wadah anyaman (karanee) yang sudah sobek dalam adu tinju tersebut,” ujarnya.
Sadok Nonga tutup Petrus, merupakan ekspresi suka cita, kegembiraan, semangat kesatria pria Lewolema. Sadok Nonga juga sekaligus perayaan kesuburan, simbol perkawinan.