Kampung Kranggan Bekasi Gelar Ritual Ngarak Kepala Kebo Bule

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Kampung Kranggan, Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, dikenal sebagai kampung yang masih mempertahankan adat-istiadat. Salah satunya, adalah babaritan atau sedekah bumi.

Bagi masyarakat Kampung Kranggan, upacara adat sedekah bumi merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas anugerah memasuki tahun Alif, yang dilaksanakan dengan ritual Ngarak Kebo Bule keliling kampung.

Sedekah Bumi Ngarak Kebo Bule digelar usai salat Jumat, dan hanya dilaksanakan 8 tahun sekali.

“Ngarak kepala kebo bule berkeliling kampung hanya sebagai simbol ucapan rasa syukur, yang digelar 8 tahun sekali saat memasuki tahun Alif. Giat budaya tersebut sebagai ungkapan rasa syukur,”ungkap salah satu tokoh adat kesepuhan Kranggan, Suta Tjamin, Jumat (14/1/2022).

Untuk tahun ini, warga Kranggan mengelar acara puncak dari tradisi babarit dengan memotong kebo bule, dan mengaraknya bersama sesajian hasil bumi berupa buah-buahan, kue, ikan, daging, serta nasi lima warna, yang diletakkan dalam sebuah jalinan bambu beralaskan daun pisang berukuran 1,5×1,5 meterpersegi.

Ribuan warga mengikuti acara Ngarak Kebo Bule dengan menggunakan pakaian adat khas Kranggan. Giat itu juga dimulai dengan pertunjukan seni khas Kranggan, seperti silat dan lainnya.

“Maknanya adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta, bahwa masyarakat telah diberikan kesehatan, cukup diberikan sandang, pangan, papan, tidak ada bencana, tidak ada bala selama setahun ini,” ungkap Suta Tjamin.

Di tempat yang sama, salah satu tokoh masyarakat Kranggan, Anim Imamudin, mengatakan bahwa tradisi ini telah membaur sekian lama dengan masyarakat.

Meskipun sarat dengan adat Sunda, babarit telah menjadi kebutuhan spiritual masyarakat, terlepas dari berbagai perbedaan latar belakang kehidupan pribadinya.

Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi ini juga menjelaskan, acara tradisi hari ini merupakan hajat bersama warga Kranggan, tanpa melihat suku, ras, agama atau kepercayaan tertentu. Namun demikian, di setiap momen diselingi dengan doa menurut kepercayaan agama Islam.

“Ini acara bersama, tidak lihat suku, ras, agama, atau kepercayaan. Semua warga Kranggan akan mengikuti adat buhun, adat leluhur,” ucap Anim.

Lihat juga...