Padang Kenang Momen 30 September Gempa 7,6 SR

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

PADANG — Setiap 30 September Pemerintah Kota Padang mengenang momentum gempa dahsyat 7,6 SR yang menghantam Ibu Kota Provinsi Sumatera Barat tersebut.

Wakil Wali Kota Padang, Hendri Septa mengatakan, momen tersebut tidak hanya untuk diperingati, tapi juga bagaimana menguatkan masyarakat agar senantiasa siap dan cerdas dalam menghadapi berbagai bencana dan ancaman.

Hendri menceritakan, berbicara gempa 30 September 2009, kini memang telah berlalu 10 tahun. Dimana peristiwa itu menyisakan banyaknya korban jiwa dan kerusakan infastruktur pemerintah dan masyarakat.

”Pasca gempa itu, Kota Padang sempat lumpuh total. Namun alhamdulillah, secara perlahan kita terus beranjak bangkit dan berbenah lebih kurang dalam lima tahun,” katanya, Senin (30/09/2019).

Disebutkan, saat ini Pemerintah Kota Padang terus berupaya menjadikan Kota Padang menjadi kota yang unggul di segala bidang. Hal ini sesuai dengan visi Kota Padang yakni mewujudkan Padang Sebagai Kota yang Madani Berbasis Pendidikan, Perdagangan, dan Pariwisata Unggul serta Berdaya Saing.

“Kita akan terus menguatkan 3 poin yang ada dalam visi Kota Padang tersebut, yaitu bagaimana pendidikan kita harus lebih unggul dari daerah lain. Selanjutnya di sektor perdagangan, saat ini kita sudah berbenah dan mulai menggeliat. Begitu juga terhadap sektor pariwisata, alhamdulillah kunjungan wisatawan baik dari lokal hingga mancanegara terus meningkat ke Padang dari tahun ke tahun,” ungkapnya.

Sementara itu, Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat, Erman Rahman, mengatakan, gempa 7,6 SR 10 tahun silam dalam satu kali goncangan, telah menelan korban sebanyak 1.195 jiwa. Lain dari itu ada rumah rusak, bahkan gedung-gedung
pemerintahan, perhotelan, pertokoan, dan lain-lainnya hancur tidak berbentuk.

Erman menyatakan kendati kondisi yang demikian, masyarakat Sumatera Barat yang terkenal dengan azas badunsanak dan kegotongroyongannya cepat bangkit dan pulih. Ada perasaan malu, jika tak mengulurkan tangan membantu dunsanak. Tak cukup sebulan, warga Sumatera Barat berupaya kembali menjalani hidup dengan segenap kemampuan.

Bahkan, dunia internasionalpun mengakui kalau warga Sumatera Barat termasuk tinggi daya lentingnya menghadapi bencana. Bahkan di beberapa sudut kota Padang, 7-14 hari gempa terjadi acara baralek (pesta pernikahan) tetap dilangsungkan.

“Hari ini kita mengenang 10 tahun Gempa 2009 yang juga nanti akan direfleksikan melalui pertunjukan teaterikal, semoga kita semua bisa menikmati dan kembali pulang dengan semangat terus bangkit dan membangun,” ucapnya.

Lihat juga...