Kemarau Pengaruhi Kualitas Produksi Pisang di Lamsel

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Ukuran pisang yang tidak seragam saat kemarau, membuat petani memilih menjual pisang dengan sistem timbangan. Musim kemarau telah membuat ukuran pisang menyusut dan kurang diminati pembeli.

Kholani, petani Dusun Pinang Gading, Desa Bakauheni, Lampung Selatan, menyebut, sebelumnya pisang dijual dengan sistem tandan. Namun karena ukuran menyusut saat kemarau, sistem tandan mulai kurang diminati pengepul.

Diakuinya, sistem timbangan menguntungkan petani karena dihitung berdasarkan berat. Kholani yang memiliki tanaman pisang seluas satu hektare, mengandalkan pisang sebagai sumber penghasilan. Hasil panen pisang dari kebun setengah bulan sekali, dipakai untuk biaya keperluan sehari-hari. Dari sekitar 250 batang pohon pisang, ia bisa memanen sekitar 100 tandan dua pekan sekali.

Iwan, pemilik usaha jual beli hasil pertanian menimbang pisang milik petani di Desa Tanjung Heran, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (23/9/2019). -Foto: Henk Widi

Penjualan sistem tandan, menurut Kholani, umum dilakukan petani saat hasil panen melimpah. Sebab, dengan menghitung jumlah tandan sekaligus ukuran pisang, ia sudah bisa memprediksi hasil yang diperoleh. Jenis pisang yang ditanam olehnya meliputi jenis  Ambon lumut,  Janten, Raja Serai, Kepok, Muli, Tanduk dan sejumlah pisang lain.

“Saat musim kemarau, penjualan dengan sistem timbangan akan memudahkan petani karena dihitung berdasarkan bobot dan harga sudah disepakati,” ungkap Kholani, Senin (23/9/2019).

Kholani mengatakan, hasil panen tanaman pisang saat kemarau mengalami penyusutan jumlah sisir. Pada saat penghujan, pisang bisa menghasilkan maksimal sekitar 20 sisir. Namun, saat kemarau sebanyak 15 sisir sudah cukup menjanjikan.

Jumlah sisir yang sedikit kurang diminati oleh pengepul. Satu tandan pisang pada kondisi normal kerap dibeli dari harga Rp5.000 hingga Rp30.000 melihat jumlah sisir.

Menjual sekitar seratus sisir dengan rata-rata harga Rp10.000 per tandan, ia bisa mendapatkan hasil Rp1 juta. Sebaliknya, dengan menjual pisang dengan sistem timbangan dengan rata-rata harga Rp2.500 per kilogram, sebanyak 500 kilogram ia bisa mendapat hasil Rp1,2 juta. Sistem timbangan memudahkan petani dan pengepul, karena tidak memperhitungkan ukuran dan bentuk fisik pisang.

“Sistem tandan pengepul kerap melihat penampilan fisik, jika bagus dihargai tinggi, tapi jika pisang kerdil dihargai murah, sementara sistem timbangan berdasarkan bobot,” ungkap Kholani.

Kholani menyebut, pada musim hujan ia bisa menghasilkan sekitar 1.000 kilogram pisang dalam sebulan. Namun saat kemarau dengan pasokan air yang kurang, ia hanya menghasilkan sekitar 800 kilogram pisang.

Semua jenis pisang yang dijual dipanen secara manual dan dikumpulkan di tepi jalan. Setelah semua pisang terkumpul, pembeli akan membawa ke lokasi penimbangan.

Senada,  Sugiyono, petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, juga menyebut penjualan sistem timbangan menguntungkan petani. Sebab, pisang yang ditanam di dekat aliran sungai memiliki kadar air yang bagus. Sistem timbangan membuat petani kerap memberikan pupuk tambahan dari kompos, agar bobot lebih banyak.

“Tanaman pisang yang kekurangan pasokan air akan memiliki bobot yang lebih ringan,” katanya.

Menanam pisang menjadi sumber penghasilan dibandingkan hasil pertanian lain. Sebab, beberapa jenis pisang seperti Muli bisa dipanen saat memasuki usia 14 hari.

Pisang yang dijual dengan sistem timbangan, mendorong petani melakukan perawatan lebih baik. Sebab, dengan pemberian pupuk dan pengairan yang baik, buah pisang memiliki bobot yang baik.

“Penjualan dengan sistem timbangan memperhitungkan kualitas buah, makin bagus perawatannya, maka bobotnya akan makin bertambah,” ungkapnya.

Iwan, pengepul hasil bumi pemilik Asyifa KPS (Kelapa, Pisang, Sayuran), menyebut sejak tiga tahun ia menjalankan jual beli pisang dengan sistem timbangan. Sistem timbangan cukup menguntungkan petani, karena akan menanam pisang dengan mempertahankan kualitas buah di tandan untuk memperoleh bobot yang maksimal.

Sebelumnya, ia menyebut banyak pembeli pisang masih membeli pisang dengan sistem tandan, sehingga pisang muda, belum layak untuk dijadikan pisang buah sudah dibeli.

Sementara untuk pisang buah segar harus dalam kondisi tua, sehingga memakai sistem timbangan. Dengan sistem timbangan, mendorong petani menjaga tanaman pisang hingga memasuki usia tua saat panen.

Sistem timbangan, diakuinya memperhatikan kualitas pisang. Jenis pisang yang dibeli meliputi pisang Ambon, Janten,Raja Nangka, Kepok, Serai berbagai kelas. Pada musim kemarau ini, jenis pisang Ambon lumut mencapai harga Rp2.400 per kilogram, pisang super Rp2.000 per kilogram, pisang Tanduk Rp2.500 per kilogram, pisang Rames Rp1.200 per kilogram, pisang nangka Rp1.000 per kilogram. Pisang Muli Rp1.000 per kilogram.

Harga komoditas pertanian tersebut bisa berubah sewaktu-waktu, menyesuaikan harga pasar dan kondisi pasokan barang di lapangan. Sebagian petani  sengaja menjual komoditas pertanian kepadanya layaknya sebuah bank, dengan sistem menyimpan nota penjualan.

“Saat petani membutuhkan biaya besar, di antaranya keperluan kuliah anak, maka nota bisa dicairkan sehingga pengepul sekaligus bisa menjadi tempat menabung,” ungkap Iwan.

Hasil pertanian pisang, menurut Iwan, menjadi investasi bagi sejumlah petani. Penanaman pisang cukup mudah dan tidak membutuhkan perawatan yang sulit seperti komoditas pertanian lain.

Pemeliharaan pisang dengan pemberian pupuk yang cukup, pembersihan lahan menjadi syarat utama pisang menghasilkan buah yang baik. Pada musim kemarau, ia menyebut pengairan bisa dilakukan dengan memanfaatkan air sungai memakai mesin sedot. (Ant)

Lihat juga...