Jatim kembangkan komoditas pisang cavendish untuk pasar ekspor
Admin
JAWA TIMUR, Cendana News – Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menjadikan pisang cavendish dari Bondowoso sebagai komoditas unggulan untuk pasar ekspor.
Hal tersebut mengingat potensi pisang cavendish di Bondowoso yang besar.
“Pisang cavendish dari Bondowoso punya spesifik tersendiri dibanding pisang dari daerah lain,” kata Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, dikutip dari laman jatimprov, Senin (28/11/2022).
Dia mengatakan, jika dikonversi dari GGM bisa mencapai senilai 300 per tandan, sedangkan satu hektare bisa ditanami 2.400 pohon.
Dari hasil percontohan di lahan seluas 1,8 hektare sama dengan 4.400 pohon. Artinya, omzetnya bisa mencapai Rp1,32 miliar.
“Katakanlah margin 20 persen, kita bisa lihat sendiripotensinya sekitar Rp260 juta per 1,8 hektare,” kata Dardak.
Menurutnya, impor pisang dalam negeri masih short rate sekitar 40 persen. Sedangkan untuk ekspor masih banyak potensi pasar-pasar yang bisa dikembangkan lagi.
Namun, dia mengingatkan agar petani pisang tidak terburu-buru melebarkan jaringan.
Hal tersebut karena secara simultan komoditas pisang cavendish juga akan dikembangkan di Ponorogo, Blitar, dan Jember.
Sementara itu, saat ini sasaran pasar pisang cavendish dari Bondowoso sudah ada dan terbilang cukup aman.
Bahkan, dirinya mengatakan ke depan akan disiapkan lahan seluas 30 hektare lagi.
Ke depan Wagub Dardak menuturkan Pemprov Jatim akan mendukung petani pisang cavendish dalam memasarkan produknya hingga luar negeri.
Pemprov Jatim akan mendorong pembiayaan agro dari Bank Jatim, bank UMKM.
Dardak mengatakan, besarnya pangsa ekspor buah-buahan dunia khususnya pisang menjadi peluang bagi Indonesia. Khususnya, Jatim untuk terus meningkatkan produksi baik dari segi kuantitas, kontinuitas, maupun kualitas.
Sejalan dengan hal ini, Pemprov Jatim turut mendorong pelaksanaan program pengembangan holtikultura berorientasi ekspor, untuk mensubstitusi impor produk holtikultura, dan meningkatkan pemerataan ekonomi daerah.
Dia menjelaskan, data eksportasi komoditas pertanian di Jatim selama 15 hari periode 16-30 Desember 2021 volume ekspor mencapai 142,275 ton dengan nilai Rp2,71 triliun.
Jumlah itu terdiri dari nilai ekspor komoditas holtikultura senilai Rp297 miliar atau 10,96 persen dari total ekspor.
Dengan demikian, Wagub Dardak menegaskan bahwa Pemprov Jatim memberi apresiasi atas inisiatif pelaksanaan program ini untuk mendorong petani membangun model bisnis korporasi dengan skala ekonomi yang efisien.
Sehingga bisa mempermudah petani dalam mengakses pembiayaan, teknologi dan memperkuat pemasaran produk.
“Kerja sama kemitraan antara pemerintah pusat, daerah, swasta, dan petani adalah solusi untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan kontinuitas produk pisang cavendish,” katanya.