Kunjungan ke Jayapura, Panglima TNI: Indonesia Rumah Kita
JAYAPURA — Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dalam kunjungan kerjanya ke Jayapura, Selasa (27/8/) malam melakukan pertemuan tertutup dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Pertemuan tertutup yang diikuti sekitar 50 orang itu berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Seusai pertemuan, Kapolri mengatakan, dalam pertemuan tersebut para tokoh agama memberikan saran agar tidak terjadi diskriminasi terhadap orang Papua.
Panglima TNI ingin meminta beberapa hal masukan dari para tokoh-tokoh daerah yang hadir untuk mencari solusi yang terbaik terkait kejadian kerusuhan beberapa waktu lalu di wilayah Papua meliputi Sorong, Manokwari, Timika, Nabire, Fakfak dan Jayapura. “Semua ini adalah rumah kita Indonesia, rumah yang besar perlu kita jaga bersama,” ujarnya seperti tersebut dalam rilis yang diterima Cendana News, Rabu (28/8/2019).
“TNI dan Polri prihatin dengan kejadian itu dan menyadari bahwa tugas yang diemban adalah menjaga stabilitas keamanan baik nasional maupun lokal. TNI mempunyai komitmen bahwa tidak boleh ada kelompok manapun yang melakukan rasis terhadap kelompok yang lain,” ungkap Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.
Terkait dengan apa yang sudah terjadi, Panglima TNI mengatakan bahwa ini semua harus benar-benar menggunakan akal sehat dan pikiran yang jernih, hati yang bersih serta tenang untuk menyelesaikan masalah ini, karena negara kita adalah negara besar yang dikagumi oleh banyak negara di dunia karena keberagamannya.
Dikatakan juga, masalah Papua tidak dapat diselesaikan dari sudut pandang yang lain, harus dipandang dari sudut Papua itu sendiri. “Apabila salah dalam memandang maka akan salah dalam mengambil keputusan,” katanya.
“Oleh sebab itu kejadian yang sudah terjadi tidak menggoyahkan dan tidak merobek-robek semangat kita untuk menjadi negara yang besar. Mari kita jaga semuanya ini, kejadian yang lalu merupakan suatu pembelajaran bagi kita semua,” imbau Panglima TNI.
Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menyampaikan bahwa semua harus menyadari masih banyak kekurangan di antara sesama kita, oleh sebab itu saling mengisi dan harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia.
Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menjelaskan, Undang-undang tentang Diskriminasi sudah ada sehingga bila ada yang melakukan sudah pasti akan dilakukan tindakan pelanggaran hukum, termasuk investigasi di Surabaya juga sudah dilakukan.
“Mahasiswa Papua yang bersekolah di luar diminta bisa menyesuaikan diri dengan budaya lokal setempat, seperti halnya yang masyarakat pendatang yang ada di Papua menghormati budaya setempat,” kata Jenderal Pol Tito Karnavian.
Dia mengatakan, dalam pertemuan itu juga ada yang menanyakan tentang penambahan personel di Manokwari dan Sorong, padahal personel yang dikerahkan ke wilayah Papua Barat untuk mengamankan pemilihan suara ulang (PSU) yang akan dilaksanakan di Pegunungan Arfak dan Sorong. “Kalau hanya untuk mengamankan aksi demo yang dilakukan cukup dengan pasukan organik yang ada,” katanya.
Namun bila situasi sudah aman maka pasukan tersebut akan ditarik kembali, kata Tito Karnavian, seraya menjelaskan untuk kasus Nduga itu disebabkan adanya pembantaian terhadap 34 orang karyawan PT.Istaka Karya.
“Ada beberapa kasus yang terjadi di Nduga, namun tidak dilakukan penambahan personel, tapi dengan terjadinya insiden pembantai terhadap karyawan yang sedang melakukan pembangunan jembatan maka pasukan ditambah untuk mengamankan dan melakukan penegakan hukum,” kata Kapolri.
Menyinggung tentang permintaan penarikan pasukan, Kapolri menegaskan hal itu bisa dilakukan bila ada tokoh yang kredibel yang menjamin keamanan di wilayah tersebut.
“Adakah yang bisa menjamin Egianus Kogoya dan kelompoknya tidak melakukan kekerasan?” kata Kapolri Jenderal TNI Tito Karnavian.
Kapolri dan Panglima TNI sebelum berkunjung ke Jayapura terlebih dahulu berkunjung ke Biak dan pada Rabu (28/8) ke Timika.
Dalam kunjungan kerjanya ke Papua, Kapolri dan Panglima TNI membawa tiga mantan petinggi, yaitu dua mantan kapolda, yakni Irjen Pol Paulus Waterpauw dan Irjen Pol Martuani Sormin serta Mayjen TNI George Supit, mantan Pangdam XVII Cenderawasih.