Gotong Royong Tanam Jagung Masih Lestari di Lamsel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Memasuki masa tanam, tradisi gotong royong penanaman jagung menjadi cara saling membantu antarpetani.

Jumino, petani Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) mengaku tahapan penanaman jagung masih dikerjakan gotong royong. Meski musim kemarau tiba, sebagian petani seperti dirinya masih tetap menanam jagung.

Tahapan gotong royong yang dilakukan petani mulai dari perun (pembersihan lahan), tajuk (penanaman jagung), besrik (pembersihan lahan), mupuk hingga proses pemanenan.

Awalnya semua tahap dilakukan dengan gotong royong melalui sistem gantian. Sebab penanam jagung awalnya hanya beberapa warga. Sistem gantian menanam jagung menjadi cara meringankan pemilik lahan pada masa tanam jagung.

Pemerunan menurut Jumino dilakukan oleh kaum laki-laki dengan pengumpulan tebon atau batang jagung. Sebagai limbah, batang jagung dibersihkan dengan cara dibakar.

Sistem tebas bakar masih dilakukan mempersingkat pembersihan lahan dan menghemat biaya. Setelah semua lahan dibersihkan, proses penggemburan lahan dilakukan dengan traktor atau bajak memakai sapi.

“Petani di wilayah Penengahan sebagian masih melestarikan tradisi turun temurun saling membantu, urun tenaga atau kami kenal dengan arisan pertanian untuk saling membantu antar petani dari awal masa panen hingga pascapanen,” ungkap Jumino saat ditemui Cendana News, Minggu  (28/7/2019) sore.

Meski masih ada yang mempertahankan cara tersebut, semakin banyaknya penanam jagung mengakibatkan tenaga kerja kerap sulit diperoleh.

Pergeseran cara dengan mengupah tenaga dari proses pemerunan, penanaman hingga panen juga masih menjadi cara saling membantu. Meski demikian ia memastikan di desanya, Banjarmasin, kekeluargaan yang kental membuat cara gotong royong masih dipertahankan.

Sistem gotong royong dalam penanaman jagung juga diterapkan dalam menanam padi dan cengkih. Melalui gotong royong tersebut sebagian petani mendapat bantuan tenaga mempercepat proses penanaman.

Aminah, salah satu warga yang membantu tajuk atau menanam jagung dilakukan bersama sejumlah tetangga. Pada sistem arisan, pemilik lahan jagung hanya menyediakan makanan, minuman tanpa upah.

Aminah (paling depan) melakukan penanaman jagung dengan tajuk yang dilakukan secara arisan, Minggu (28/7/2019) – Foto: Henk Widi

“Pemilik lahan akan menyediakan makanan dan minuman karena saat petani lain melakukan penanaman jagung, akan dibantu juga,” ungkap Aminah.

Hariri, sang pemilik lahan menyebut sistem bergantian dalam penanaman jagung meringankan petani. Sebab saat dilakukan penanaman petani memerlukan banyak tenaga sesuai dengan luasan lahan.

Hariri, warga Desa Banjarmasin Kecamatan Penengahan Lampung Selatan memulai penanaman jagung di kebun miliknya, Minggu (28/7/2019) – Foto: Henk Widi

Penanaman dengan sistem tajuk kerap dilakukan memakai tonggak kayu yang ujungnya diberi besi.

Selain dikerjakan kaum laki-laki proses tajuk bisa dilakukan juga oleh wanita.

Meski sistem itu masih dilakukan dengan cara bergantian, Hariri memastikan kerap memberikan uang lelah. Uang lelah diakuinya diberikan sebagai ganti satu hari kerja.

Saat petani lain mengerjakan proses penanaman jagung, ia juga melakukan proses membantu. Efisiensi penggunaan tenaga pada sistem penanaman akan dilakukan hingga proses pemetikan jagung  dan pengangkutan.

Pada musim kemarau, Hariri mengaku banyak petani memilih tidak menanam jagung. Lahan yang kering kurang pasokan air membuat petani memilih mengistirahatkan lahan.

Namun sumber air yang dekat dengan lahan jagung miliknya membuat masih bisa menanam jagung. Bantuan tenaga dari sejumlah petani lain lebih mudah diperoleh karena banyak petani tidak menggarap lahan.

 

Lihat juga...