Petani Rumput Laut di Lamsel Terdampak Sampah

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG-Sejumlah pembudidaya rumput laut jenis Spinosum, mengalami dampak bertambahnya volume sampah di perairan laut Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel).

Nakim, salah satu pembudidaya rumput laut menyebut, sejak sebulan terakhir hujan melanda wilayah tersebut membawa material sampah pada sejumlah aliran sungai. Sampah yang terbawa di aliran sungai Asahan, Way Pisang terbawa ke Way Sekampung dan terbawa ke perairan Ketapang.

Sampah yang dominan berupa limbah pertanian, sampah plastik serta berbagai jenis sampah lainnya, membuat lingkungan laut menjadi kotor. Lahan budi daya rumput laut sebanyak ratusan jalur miliknya pun ikut terdampak.

Sampah dari Way Pisang yang terbawa arus Way Pisang terbawa ke laut menjadi sampah -Foto: Henk Widi

Jalur penanaman rumput laut spinosum atau rumput laut merah kerap putus akibat sampah terbawa arus laut. Sampah yang tersangkut jalur terbuat dari tambang membuat tanaman rumput laut, rusak.

Konsentrasi sampah pada perairan laut Ketapang, sebut Nakim, sebagian terdampar ke pantai berimbas menghambat jalur pendaratan perahu nelayan, dan proses pemanenan rumput laut.

Meski kerap dibersihkan, sampah yang terbawa aliran sungai akan kembali bertambah menyesuaikan arus perairan di wilayah tersebut. Aktivitas pembuangan sampah di sepanjang aliran sungai yang belum menjadi kesadaran warga, membuat volume sampah meningkat, terlebih saat musim penghujan.

“Meski sampah berasal dari aliran Way Sekampung dan sejumlah sungai lain, namun dampaknya terasa bagi nelayan dan pembudidaya rumput laut, serta kerang hijau di perairan Ketapang mengganggu aktivitas nelayan,” terang Nakim, saat ditemui Cendana News, Rabu (13/3/2019).

Upaya pembersihan sampah, sebut Nakim, kerap dilakukan bersamaan dengan proses perawatan jalur budi daya rumput laut. Sampah yang berada di sekitar jalur dengan jumlah 200 baris atau seluas dua hektare, kerap menjadi sarang penyakit lumut yang menular ke tanaman rumput laut.

Kumpulan sampah yang menjadi rumpon, bahkan menjadi tempat berkembang ikan Semadar, yang menjadi ikan pemakan rumput laut muda serta bulu babi.

Pembersihan sampah di sekitar lokasi budi daya rumput laut diakuinya menjadi cara menghindari munculnya hama penyakit pada rumput laut.

Keberadaan sampah sungai yang berasal dari limbah pertanian, juga diakui oleh Sutikno, salah satu petambak udang vaname di Desa Bandar Agung,Kecamatan Sragi.

Ia menyebut, sampah sungai tersebut sebagian menyumbat sejumlah saluran air atau klep aliran Way Sekampung. Terlebih, aktivitas masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Pisang, Way Sekampung, memilih sungai sebagai lokasi pembuangan limbah. Sejumlah petani sawit, bahkan memilih membuang limbah pertanian tersebut ke sungai, untuk efesiensi biaya dan waktu.

“Pemilik kebun sawit kerap membuang tandan sawit yang sudah tidak terpakai ke aliran sungai, sebagian menyumbat saluran klep untuk sumber pengairan lahan tambak,” beber Sutikno.

Sampah yang terbawa aliran Way Pisang dan Way Sekampung, kata Sutikno, pada sejumlah titik ikut menyumbang pendangkalan sungai (sedimentasi). Sedimentasi yang cukup cepat membuat alur masuk dan keluar bagi sejumlah nelayan yang menggunakan kapal, terhalang oleh sampah.

Muara Kuala Sekampung yang ikut dipenuhi sampah dan konsentrasi enceng gondok, membuat kapal mengalami hambatan saat akan melakukan olah gerak kapal, termasuk mengganggu baling-baling kapal.

Sedimentasi pada sejumlah saluran air untuk tambak dan lahan pertanian, sebut Sutikno, semakin bertambah saat musim penghujan.

Nakim, salah satu pembudidaya rumput laut di pesisir timur Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Pada sejumlah bendungan, di antaranya bendungan Indah Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, sampah limbah pertanian mengakibatkan pintu air tertutup sampah. Volume sampah yang bertambah, bahkan mengakibatkan Way Pisang meluap, dan tanggul penangkis di desa tersebut jebol.

“Sampah yang terbawa arus sungai akan terbawa ke laut, sehingga menganggu jaring nelayan penangkap ikan serta berpotensi mengakibatkan pendangkalan sungai,” beber Sutikno.

Hasan, salah satu pemilik kebun kelapa sawit di Desa Labuhan Ratu, Lampung Timur, mengaku memilih membuang limbah tandan sawit dan pelepah ke Way Sekampung.

Cara tersebut diakuinya lebih efesien dibandingkan harus membakar. Ia juga mengaku tidak memperhitungkan kondisi sungai yang tercemar akibat sampah limbah sawit, karena selain dirinya sejumlah warga juga melakukan hal yang sama.

Kegiatan bongkar muat tandan buah segar sawit, disebutnya telah dilakukan selama bertahun-tahun. Limbah sawit yang tidak terangkut hingga belasan ton, kerap dibuang ke Way Sekampung, karena lebih praktis. Ia menyebut, membuang sampah sisa limbah sawit karena merupakan sampah yang mudah membusuk dan terurai.

Lihat juga...