Pola Hidup Bersih dan Sehat Cara Ampuh Cegah DBD
Editor: Koko Triarko
YOGYAKARTA – Sejumlah Puskesmas di wilayah Kulon Progo, masih mewaspadai penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di puncak musim penghujan seperti saat ini. Pasalnya, DBD masih menjadi salah satu penyakit menular mematikan yang memiliki angka kasus cukup tinggi.
“DBD masih menjadi penyakit yang setiap tahun selalu muncul kasus. Bahkan, kemarin di wilayah Temon ini ada 1 temuan kasus DBD, meski bisa ditangani dan tidak berakibat fatal,” ujar Petugas Puskesmas Temon 2 Kulon Progo, Agus Priyanto.
Tak hanya kerap terjadi di wilayah padat penduduk seperti perkotaan, kasus DBD juga sering menyerang wilayah pedesaan seperti di Kulon Progo.
Agus Priyanto menyebut, ada dua dua faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Pertama, kasus DBD terjadi akibat perilaku mobilitas masyarakat di pedesaan. Sebagian warga biasanya ada yang sering berpindah-pindah lokasi tempat tinggal. Sehingga memungkinkan terserang penyakit DBD saat berada di luar tempat tinggal aslinya.
“Kan di wilayah pedesaan, seperti Temon tak sedikit warga yang bekerja atau bersekolah di daerah lain. Sehingga dimungkinkan di sana mereka terserang DBD, lalu secara tidak sengaja disebarkan ke tempat tinggal asalnya,” katanya.
Selain itu, ada pula warga desa yang memang terserang DBD, karena faktor lingkungan sekitar yang tidak sehat. Dimungkinkan banyak terdapat tempat berkembang-biak nyamuk Aides Aigepty yang merupakan penyebar DBD.
“Selama ini, DBD diidentikkan kerap muncul di daerah perkotaan yang kumuh dan padat penduduk. Padahal, di desa pun sebenarnya juga sama. Justru dengan kondisi lingkungan yang lebih luas, tempat-tempat berkembangnya nyamuk justru sulit terdeteksi,” katanya.
Untuk mengantisipasi penyebaran DBD, pembiasaan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi salah satu cara yang dinilai paling ampuh. Yakni dengan melakukan gerakan 3M, atau Menguras Menutup dan Mengubur. Tak hanya itu, upaya khusus seperti fogging atau penyemprotan juga perlu dilakukan untuk membasmi sarang nyamuk.
“Persoalannya memang gerakan PHBS dan 3M belum membudaya di masyarakat. Mungkin ada sebagian masyarakat yang sudah melakukan. Tapi jika masih ada masyarakat yang acuh dan tidak mau melakukan, kan sama saja. Karena nyamuk tetap bisa berkembang, dan akhirnya menularkan,” katanya.
Karena itu, sosialisasi secara terus menurus harus terus dilakukan di tengah masyarakat. Tidak hanya menunggu munculnya kasus, namun yang terpenting adalah mengantisipasi, agar kasus DBD tidak muncul atau terjadi.