PKBSI: Ibu Tien Soeharto Berpikir ke Depan dalam Pelestarian Puspa dan Satwa

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

JAKARTA — Sekretaris Jenderal Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI), Tony Sumampau menyebutkan, Ibu Negara Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto selaku pembina PKBSI merupakan orang yang telah memprakarsai penetapan 5 November 2018 sebagai Hari Cipta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN).

“Ibu Tien, pembina PKBSI berpikir ke depan dalam pelestarian puspa dan satwa Indonesia. Peringatan HCPSN merupakan titik tolak dari peringatan HUT PKBSI yang jatuh pada 5 November setiap tahunnya,” kata Tony dalam sambutannya pada HUT HCPSN di Candi Bentar Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Sabtu (3/11/2018).

Dia menyampaikan, pernyataan tertulis oleh Ibu Tien Soeharto pada tanggal 30 Oktober 1989 menyebutkan, dewan pembina PKBSI diharapkan memohon pada pemerintah bahwa tanggal 5 November sebagai HCPSN dapat diresmikan.

Dengan demikian tanggal 10 Januari 1993, pada saat itu Presiden ke 2 RI, Soeharto mencanangkan tahun 1993 sebagai Tahun Lingkungan Hidup di Api Tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Sekaligus mempelopori gerakan penghijauan sejuta pohon setiap provinsi di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), Tony Sumampau (kanan ujung) pada HUT HCPSN bertajuk “Mari Lestarikan Puspa dan Satwa Indonesia” di Candi Bentar TMII, Jakarta, Sabtu (3/11/2018). Foto : Sri Sugiarti

Dalam pidato Presiden Soeharto juga diamanatkan bahwa 5 November ditetapkan sebagai HCPSN dengan pernyataan untuk terus menerus mengingatkan agar selalu menjaga pelestarian fungsi lingkungan. Dengan penetapan satu hari setiap tahunnya, menggugah kesadaran dan kecintaan pada puspa dan satwa alam Indonesia.

“Untuk itu saya (Presiden Soeharto) menetapkan tanggal 5 November sebagai HCPSN,” itulah isi pidato Presiden Soeharto, saat itu jelas Tony.

Sejak itu pula, sebut dia, setiap tahun ditanggal 5 November dirayakan HCPSN. Pada 2007, HCPSN di pusatkan di TMII dengan tema “Atasi Kepunahan Satwa dan Puspa Akibat Perubahan Iklim.”

“Tahun 2018 HCPSN kembali dipusatkan di TMII dengan tema ‘Mari Lestarikan Puspa dan Satwa Indonesia’. Dengan maskot satwa adalah Julang Sulawesi dan puspa yaitu pohon Sialang,” ujar Tony.

Jenis satwa dan puspa tersebut, merupakan kebanggaan Indonesia yang harus dilestarikan. Mengingat saat ini ada ancaman kepunahan ragam jenis hayati yang disebabkan pihak yang tidak bertanggungjawab.

Diketahui bahwa TMII memiliki empat unit lembaga korservasi yaitu, Dunia Air Tawar, Dunia Serangga Taman Kaktus, Museum Komodo dan Taman Reptil serta Taman Burung.

Lembaga konservasi TMII tersebut memiliki sebagian jenis koleksi satwa dan puspa sesuai dengan kelompoknya masing-masing.

Lihat juga...