Nelayan di Lamsel tak Melaut Akibat Cuaca Buruk

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah nelayan tangkap ikan di wilayah Lampung Selatan, memilih menepikan perahu, bagan congkel, bagan apung, akibat kondisi cuaca buruk. Sukandar, salah satu nelayan tangkap ikan menggunakan bagan congkel di pusat pendaratan ikan (PPI) Muara Piluk, Bakauheni, memilih tidak melaut sejak tiga hari terakhir.
Angin kencang dan gelombang tinggi yang terjadi di perairan Selat Sunda, menjadi faktor sejumlah nelayan memilih menunda untuk melaut.
Sukandar menyebut, kecepatan angin normal di Selat Sunda yang aman untuk melakukan aktivitas melaut berkisar 5-10 knots. Namun saat menjelang sore hingga malam hari, ketika nelayan kerap melaut kecepatan angin meningkat menjadi 15-20 knots. Karena itu, nelayan tangkap di pesisir Lamsel memilih istirahat dan melakukan kegiatan di darat.
Sukandar sebagai salah pemilik bagan congkel pencari ikan teri dan cumi, bahkan memilih memperbaiki peralatan tangkap.
“Cuaca perairan kerap berubah sewaktu-waktu. Dengan dominasi angin kencang dan gelombang tinggi sangat berisiko perahu terbalik, jadi kami memilih sementara beristirahat dan menepikan perahu,” terang Sukandar, di PPI Muara Piluk saat ditemui Cendana News, Jumat (16/11/2018).
Sejumlah nelayan lain juga memilih memeriksa mesin bagan congkel serta membersihkan cekeng atau keranjang wadah teri. Istirahat melaut akibat kondisi cuaca tidak bersahabat juga diisi dengan kembali ke kampung halaman. Sebagian nelayan merupakan  warga dari wilayah pesisir timur Lamsel yang memilih menambatkan perahu di dermaga PPI Muara Piluk.
Sejumlah bagan congkel yang ditambatkan di dermaga sebagian diberi jarak dengan dermaga dan kapal lain. Pemberian jarak lebih lebar dibandingkan saat kondisi normal, menghindari kapal saling berbenturan.
Kuatnya angin yang berhembus di perairan Selat Sunda, sekaligus membuat nelayan menyiapkan bantalan khusus dari ban bekas, agar kapal terbuat dari kayu tidak berbenturan dengan dermaga.
Cuaca tidak bersahabat juga membuat sejumlah nelayan tangkap jenis bagan apung atau bagan drum di wilayah kampung nelayan Minang Rua, Desa Kelawi, memilih meminggirkan bagan.
Darmo (duduk) mengisi waktu istirahat tidak melaut dengan melakukan perbaikan bagan apung bersama pemilik bagan apung lain yang sengaja ditepikan selama cuaca buruk melanda wilayah Minang Rua -Foto: Henk Widi
Darmo, salah satu nelayan pemilik bagan apung, mengaku memilih melakukan perbaikan bagan yang mengalami kerusakan pada bagian tiang penopang. Bagan apung yang ditempatkan sekitar satu mil dari pantai, mengalami kerusakan akibat dihantam gelombang.
“Sudah empat hari kita tepikan bagan apung terbuat dari bambu dan kayu, menghindari kerusakan atau tenggelam sekaligus perbaikan dengan bambu dan kayu,” terang Darmo.
Menurut Darmo, bagan apung menjadi fasilitas tangkap ikan tradisional di wilayah tersebut, untuk menangkap cumi-cumi, teri serta berbagai jenis ikan lain.
Memanfaatkan teluk Minang Rua, sekitar puluhan bagan ditempatkan di wilayah tersebut untuk menangkap ikan.
Berkaca dari pengalaman sebelumnya, Darmo menyebut kerusakan bagan apung penangkap ikan kerap disebabkan angin kencang. Hantaman gelombang yang sebagian kerap membawa material sampah dari kiriman banjir sungai, juga membuat kerusakan pada bagan.
Solusi menghindari kerusakan sejumlah nelayan menarik bagan menggunakan perahu dan menepikan ke tepi pantai, menghindari terbawa arus dan kerusakan.
Menurut Darmo, nilai satu bagan apung bisa mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta, sehingga kerugian akan cukup besar saat bagan hilang akibat terbawa arus atau tenggelam dampak cuaca buruk.
“Meminimalisir kerugian saat cuaca buruk langkah yang dilakukan nelayan dengan tidak melaut, menepikan bagan,” beber Darmo.
Kondisi cuaca tidak bersahabat yang mengakibatkan nelayan tidak melaut tersebut, juga diinformasikan oleh BMKG Maritim Lampung.
Sesuai prakiraan cuaca yang diinformasikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lampung. melalui laman resminya, kondisi Selat Sunda bagian Selatan didominasi hujan ringan, angin bertiup dari Selatan ke arah Barat berkecepatan 3-15 knots dan ketinggian gelombang 0,25-2,5 meter.
Perairan timur Lampung, kondisi cuaca hujan ringan, angin bertiup dari arah Selatan ke Barat dengan kecepatan 3-20 knots, dan ketinggian gelombang 0,25-2,5 meter.
Perairan barat Lampung, kondisi cuaca hujan ringan, angin berhembus dari Barat ke Utara dengan kecepatan 3-15 knots, gelombang 1-2 meter.
Perairan Samudera Hindia Barat Lampung, kondisi cuaca hujan ringan, angin bertiup dari arah Barat ke Utara dengan kecepatan 3-15 knots, gelombang mencapai 1,25-3 meter.
Selat Sunda bagian Utara cuaca hujan ringan,angin bertiup dari arah Selatan ke arah Barat dengan kecepatan 3-15 knots, gelombang 0,25-2,5 meter.
Lihat juga...