Mengenal Keragaman Budaya Bangka Belitung di Anjungan Terpadu TMII

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

DKI — Provinsi Bangka Belitung (Babel) merupakan pemekaran dari Provinsi Sumatera Selatan, yang terdiri dari dua pulau Bangka dan pulau Belitung. Ini disahkan berdasarkan Undang-Undang (UU) No.27 tahun 2000.

Bangka Belitung menjadi provinsi ke 31 dengan Ibukota Pangkal Pinang. Provinsi ini memiliki luas wilayah 81.725,14 kilo meter persegi, terbagi menjadi enam kabupaten dan satu kotamadya. Yakni, Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan,  Bangka Timur, Belitung dan Kotamadya Pangkal Pinang.

Kepala Anjungan Bangka Belitung TMII, Adi Faidullah. Foto : Sri Sugiarti

Keberadan anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menjadi salah satu cara dalam melestarikan dan pengembangan khazanah budaya.

“Anjungan ini tampil di TMII sebagai wahana pelestarian seni budaya Bangka Belitung, dan pusat informasi potensi wisata yang menarik,” kata Kepala Anjungan Bangka Belitung Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Adi Faidullah kepada Cendana News, Jumat (23/11/2018).

Anjungan ini dibangun pada 2008 dan terletak di area anjungan terpadu untuk provinsi baru. Ada tujuh provinsi di lokasi tersebut, di antaranya Banten, Gorontalo, Sulawesi Barat, Papua Barat, Kepulauan Riau, Maluku Barat dan Bangka Belitung.

Dikatakan terpadu, jelas Adi, karena satu kesatuan fasilitas umumnya. Yaitu panggung dipakai secara bergiliran oleh tujuh anjungan manakala menggelar acara, seperti pentas seni atau paket khusus budaya daerah.

Anjungan yang diresmikan oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Eko Maulana Ali, pada 29 Maret 2009 menampilkan rumah panggung tradisional berarsitektur Melayu. Berbahan kayu dengan atap berhias ukiran lada putih.

“Lada putih ciri khas Bangka Belitung. Karena zaman dulu, Bangka Belitung penghasil lada terbesar Indonesia. Rumah penduduk di sana rata-rata berbentuk panggung, tapi sudah modern dimodifikasi,” ujarnya.

Umumnya rumah panggung tradisional di Bangka Belitung digunakan sebagai rumah keluarga. Sementara rumah tradisional tersebut hadir di TMII digunakan sebagai tempat pameran khazanah budaya Bangka Belitung.

Dipamerkan benda-benda budaya dan sejarah, seperti alat musik tradisional harpa, akordeon, gendang belah anak atau kecil, gitar dambus atau gambus, seruling melayi, gong, biola, gendang Melayu, perkusi dan tambori.

Tersaji juga peralatan rumah tangga dan ragam keterampilan tangan, seperti akar bahar, anyaman rumput resam, tenunan rumput, tampi padi, suyak atau tudung saji, dan kain cual yakni kain tenun khas masyarakat Bangka Belitung dan lainnya.

Koleksi paling unik adalah batu Satam. Yaitu jelas Adi, sejenis batu mineral hitam dengan urat-urat khas sebagai hasil dari proses alami yang mengandung kadar timah tinggi.

Batu Satam merupakan batuan khas yang hanya ada di Indonesia, khususnya di Provinsi Bangka Belitung. Jenis batu ini banyak diburu kolektor mancanegara maupun lokal. Adapun kata Satam berasal dari bahasa Cina. Yakni, Sa berarti pasir dan Tam berarti empedu.

Selain perhiasan, batu Satam dipercaya memiliki khasiat sebagai obat dan untuk melindungi pemakainya dari gangguan psikis.

Selain batu Satam, Provinsi Bangka Belitung yang sangat kaya dengan sektor pertambangan juga memamerkan batu kapur, batu gunung granit, batu apung, batu besi, pasir timah, gamping abu-abu, gamping merah dan lainnya.

Dipamerkan juga busana adat tradisional dan busana pengantin Bangka Belitung, yang disebut busana paksian. Yaitu, busana perpaduan antara Melayu, Arab dan Cina.

Adapun tradisi leluhur masyarakat suku Sawang Pulau Belitung adalah Buang Jong. Yang bermakna, membuang atau melayangkan sebuah miniatur perahu bernama Jong dan Ancak, yang berisi sesaji.

Ragam kerajinan tangan sektor pertambangan Provinsi Bangka Belitung, salah satunya batu Satam ditampilkan di Rumah Panggung di Anjungan Bangka Belitung TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Prosesi tradisi ini meminta perlindungan agar terhindar dari marabahaya di lautan lepas. Di saat suku Sawang sedang melaut di musim ombak besar bulan Agustus atau November, yang dikenal dengan musim barat.

Miniatur perahu Jong dan Ancak tampil di rumah panggung ini menjadi pemandangan menarik pengunjung. Selain itu, ada miniatur perahu kater atau perahu tradisional yang biasa digunakan para nelayan.

“Khazanah budaya dan ragam kerajinan tangan yang dipamerkan mencirikan kekhasan produk daerah. Memang saat ini belum lengkap, ke depannya isi display akan lebih dilengkapi sesuai dengan produk kabupaten kota Bangka Belitung,” ungkapnya.

Dengan hadirnya anjungan ini di TMII menurutnya, menjadi etalase untuk mengenalkan khazanah budaya Bangka Belitung. Saat memasuki anjungan ini pengunjung sudah merasakan langsung kebudayaan melayu yang sangat kental. Penduduk aslinya disebut juga suku Melayu Bangka Belitung.

Lihat juga...