Kerusakan Ekosistem Pantai, Berdampak pada Pembudidaya Rumput Laut
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Kerusakan Pantai Alami di Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan berimbas pada petani pembudidaya rumput laut.
Jaya, salah satu petani pembudidaya rumput laut mengaku, Pantai Alami di desa tersebut awalnya merupakan wilayah habitat pohon cemara, pandan laut, waru laut serta pohon lain. Lokasi tersebut juga diakuinya menjadi lokasi budidaya rumput laut dengan sistem jalur memanfaatkan tali, bekas botol air mineral, yang sudah tidak terpakai.
Jaya menyebut, ekosistem pesisir Pantai Alami, diakuinya, mulai mengalami kerusakan. Pasalnya, pada sejumlah area bibir pantai terjadi abrasi pantai akibat ombak, angin yang berasal dari pantai timur Lampung.
Kerusakan ekosistem pantai tersebut, membuat warga tidak bisa menemukan lagi sejumlah pohon endemik di wilayah tersebut. Sejumlah pohon yang merupakan pohon endemik di antaranya pohon gebang, pandan laut, sudah sukar ditemui.
Sejumlah embung yang berada di dekat Pantai Alami, tempat habitat burung tepi pantai, bahkan sudah sukar ditemui. Beberapa embung yang masih bertahan di antaranya masih menjadi habitat alami sejumlah burung laut.
Jaya bahkan mengingat lokasi Pantai Alami yang sebelumnya kerap menjadi lokasi wisata, mulai jarang dikunjungi karena pantai tersebut sudah jarang ditumbuhi pepohonan. Meski demikian, warga setempat masih bertahan membudidayakan rumput laut jenis spinosum.

“Keberadaan pepohonan yang sebelumnya ada di wilayah Pantai Alami memang berdampak pada lingkungan. Terutama abrasi pantai yang disebabkan oleh ombak laut serta angin, penahan gelombang juga mulai berkurang,” terang Jaya, salah satu warga Desa Ruguk, saat ditemui Cendana News, Rabu (28/11/2018).
Kerusakan ekosistem pantai di wilayah tersebut, diakui Jaya, mulai semakin parah akibat berkurangnya tanaman pantai. Sejumlah pemilik usaha tambak disebut Jaya bahkan terpaksa membuat tanggul buatan dari batu.
Meski demikian, sejumlah area yang tidak diberi talud mengalami kerusakan di antaranya pepohonan yang tumbang. Tumbangnya pohon tersebut bahkan mengakibatkan bibir pantai yang semula jauh dari daratan semakin dekat. Beberapa pohon penahan abrasi, diakuinya terkena imbas dari tidak adanya penanaman di wilayah tersebut.
Keberadaan pepohonan tersebut, diakui Jaya sangat membantu masyarakat yang membudidayakan rumput laut. Selain sebagai lokasi berteduh, keberadaan sejumlah pohon di wilayah tersebut memiliki fungsi pagar alami bagi wilayah pedesaan pesisir.
Saat angin kencang wilayah Desa Ruguk kerap dilanda angin kencang berasal dari wilayah pantai timur Lampung. Warga disebutnya berniat melakukan penghijauan, namun sebagian pantai sudah dimiliki oleh sejumlah pemilik usaha tambak udang vaname.
Pemilik usaha tambak, diakui Jaya, sebagian mengeluarkan air sisa pemanenan udang, berimbas merusak budidaya rumput laut.
Hal tersebut diakui oleh Rodi, salah satu pembudidaya rumput laut yang membenarkan ekosistem perairan Pantai Alami sempat tercemar. Air sisa pembuangan dari area pertambakan udang vaname milik sejumlah pemilik usaha tambak, kerap membuat rumput laut rusak. Pasalnya, air buangan tersebut kerap mengandung zat kimia yang berdampak pada rumput laut.

“Saat dibuang ke perairan aromanya kerap busuk dan pada budidaya rumput laut berimbas kerusakan tanaman muda,” beber Rodi.
Rodi menyebut, pembudidaya udang mengalami dampak ekosistem pantai yang rusak, abrasi, dampak limbah dari pembuangan usaha tambak udang. Pada saat musim ombak pasang, sebagian pantai di wilayah Ketapang tersebut, kerap tercemari oleh sampah.
Sampah yang kerap terbawa arus adalah botol plastik air mineral. Meski demikian sejumlah pembudidaya rumput laut memanfaatkan botol tersebut untuk budidaya rumput laut.
Pemanfaatan botol limbah yang mencemari pantai tersebut diakuinya juga dilakukan dengan memanfaatkan botol dari tempat penjualan barang bekas. Botol plastik air mineral disebut Rodi dibeli dari pengepul penjualan barang bekas dengan harga Rp200 per botol.
Botol tersebut bisa digunakan sebagai pelampung budidaya rumput laut dengan kebutuhan berkisar 2000 botol plastik. Pemanfaatan botol plastik tersebut sekaligus upaya menjaga lingkungan agar sampah tidak mencemari.
Rodi dan sejumlah pemilik usaha budidaya rumput laut berharap, wilayah pantai bisa dihijaukan kembali. Meski demikian, kendala untuk penghijauan terhambat oleh kepemilikan lahan yang sebagian dikuasai oleh pemilik usaha tambak udang vaname.
Pemeliharaan pantai di wilayah tersebut diakuinya bisa memberikan keuntungan untuk keamanan wilayah pedesaan pantai dari abrasi pantai.