Prestasi Sumbar di MTQ 2018, Turun Drastis

Editor: Koko Triarko

Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Sumatra Barat, S. Budi Syukur/Foto: M. Noli Hendra 
PADANG – Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Sumatra Barat, S. Budi Syukur, meminta agar pembinaan kafilah-kafilah untuk ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dikembalikan ke LPTQ. 
Hal ini seiring adanya LPTQ Sumatra Barat yang hanya dijadikan peninjau. Sementara pembinaan langsung dilakukan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Sumatra Barat, yaitu Biro Bina Mental dan Kesejahteraan Sosial, Setdaprov Sumatra Barat.
“Pembinaan kafilah itu idealnya ada di LPTQ bukan di OPD. Ini sudah menjadi sorotan. Untuk itu, kembalikan saja kepada LPTQ sebagai wadahnya,” kata Budi Syukur, Rabu (17/10/2018), menanggapi merosotnya prestasi kafilah Sumatra Barat di MTQ 2018, yang telah digelar di Sumatra Utara, Medan, belum lama ini.
Budi mengatakan, LPTQ merupakan lembaga pengembangan tilawatil quran, yang salah satu fungsinya adalah melakukan pembinaan kepada qori dan qoriah di Sumatra Barat. Hanya saja, peran tersebut belum bisa dilaksanakan secara maksimal, karena peran itu diambil oleh OPD.
Ia menyebutkan, LPTQ tugasnya hampir sama dengan Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) yang berfungsi melakukan pembinaan terhadap atlet. Sementara OPD, dalam hal ini Biro Bintal dan Kesos merupakan supervisi dan tidak harus terlibat dalam hal teknis pembinaan kafilah.
“Kalau di olah raga ada KONI, dan di tilawatil quran ada LPTQ. Seleksi qori hingga pembinaannya ada di LPTQ. Jadi, fungsi ini harus dikembalikan sehingga pembinaan benar-benar terukur,” jelasnya.
Menurut Budi, dengan ditunjuknya Sumatra Barat menjadi tuan rumah MTQ 2020, maka tugas berat sudah menanti. Sumatra Barat harus sukses prestasi dan penyelenggaraan.
Melihat hasil di MTQ 2018, prestasi Sumbar menurun tajam dari peringkat 7 ke 14, maka Sumbar harus mempersiapkan diri sejak dini.
“Kalau ingin sukses, persiapan tentu harus dimulai dari sekarang. Kita harus punya database qori dan qoriah hasil dari penyelanggaraan MTQ tingkat kabupaten dan kota. Selanjutnya qori dan qoriah ini harus kita training centre (TC), ” jelasnya.
Lalu, untuk sistem promosi dan degradasi, seperti atlet di KONI harus dilaksanakan. Semuanya harus terukur dan ditunjang dengan dana yang cukup. Begitu juga perangsang bonus bagi qori berprestasi harus disiapkan. Jika bisa, katanya, nilainya sama dengan atlet olah raga peraih PON. Karena mereka sama-sama mengharumkan nama Sumatra Barat.
Budi optimis, jika pembinaan terukur dilaksanakan, prestasi Sumbar di MTQ 2020 bisa ditingkatkan. Hanya saja, semua itu tentunya berpulang kepada kesiapan anggaran dari pemerintah.
Sementara, Kepala Biro Bintal dan Kesos Setdaprov Sumatera Barat, Ifrah, membantah proses pembinaan qori mulai dari seleksi hingga training centre tidak melibatkan LPTQ.
“Perlu diluruskan, kita melibatkan LPTQ Sumatra Barat. Soal akademik, kita serahkan kepada LPTQ, namun soal anggaran tentu ada di kita,” terangnya.
Mengenai turunnya prestasi Sumbar di MTQ 2018, Ifrah menyebutkan dikarenakan sejumlah kafilah andalan Sumatra Barat tidak turun karena kuliah di luar negeri. “Ada beberapa kafilah andalan kita yang tidak turun, karena kuliah di luar negeri, sehingga kafilah yang kita turunkan tentu pelapisnya,” kata Ifrah.
Soal bonus atas keberhasilan kafilah Sumatra Barat mendapatkan satu emas dan satu peran di MTQ 2018, Irfah mengatakan, tidak bisa dibayarkan tahun ini. Pasalnya, pembahasan anggaran sudah dilaksanakan.
“Untuk perubahan 2018, saya rasa tidak mungkin. Begitu juga dengan anggaran 2019 murni, karena sudah dibahas. Mungkin di perubahan 2019-lah,” tegasnya.
Lihat juga...