Ribuan Ikan di Sumberagung-Sleman, Mati

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Ribuan ikan milik warga di Desa Sumberagung, Moyudan, Sleman, diketahui mati sejak beberapa hari terakhir. Kematian ikan yang dipelihara di kolam-kolam itu diduga disebabkan penyebaran virus penyakit menular. 
Salah seorang peternak, Esti Wuryani, warga Dusun Pendulan, Sumberagung, Moyudan, menyebut, puluhan ikannya mati sejak sekitar dua minggu terakhir. Memelihara ikan gurami di tiga kolam tanah sekitar rumahnya, ia mendapati puluhan ikannya mati mengambang setiap hari.
“Setiap hari paling tidak ada lima ekor ikan yang mati mengambang. Ciri-ciri ikan yang mati itu mengalami banyak luka di tubuhnya. Ukurannya sudah cukup besar, beratnya sekitar 1/5 kilogram lebih,” ujarnya, saat ditemui, Rabu (17/10/2018).
Akibat kematian puluhan ikannya itu, Esti mengaku mengalami kerugian cukup besar. Ikan yang semestinya menjadi tabungannya itu terpaksa dibuang dan dikubur, tanpa bisa dijual.
Esti Wuryani, warga dusun Pendulan, Sumberagung, Moyudan Sleman menunjukkan ikan miliknya yang mati. –Foto: Jatmika H Kusmargana
“Ya, cuma diambil dan dikubur. Padahal, usianya sudah setahun. Biasanya umur dua tahun itu dipanen bisa dapat Rp2 juta. Sekilo dihargai Rp33 ribu. Tapi karena banyak yang mati, ya jelas gagal panen,” katanya.
Dukuh Pendulan, Wagiharto, mengatakan. kematian ratusan bahkan ribuan itu tidak hanya terjadi di Dusun Pendulan, saja. Namun juga terjadi di sejumlah dusun lain di desa Sumberagung, Moyudan. Seperti di desa Saren, Kaliduren, Karang hingga Tegaldono.
“Memang di daerah sini banyak yang memiliki kolam dan memelihara ikan. Di Pendulan ini saja dari 120 KK, hampir semuanya punya kolam. Kebanyakan memelihara ikan gurami,” ungkapnya.
Wagiharto mengatakan, kematian ribuan ikan gurami itu memang kerap terjadi setiap musim kemarau seperti sekarang ini. Hal itu disebabkan kondisi cuaca yang mengalami perubahan ekstrim, sehingga memunculkan banyak penyakit.
“Memang tiap tahun, khususnya saat musim kemaru, ikan di sini sering mati. Karena kan siang panas sekali, sedang saat malam dingin sekali. Sehingga ikan mudah kena penyakit seperti virus menular. Apalagi, kemarin banyak warga yang terlambat untuk mengantisipasi,” katanya.
Penularan virus yang menyerang ikan itu dikatakan disebabkan sebelumnya banyak warga membuang bangkai ikan di saluran air. Sehingga warga yang mengairi kolamnya dari saluran tersebut ikut terkena serangan virus penyakit.
“Untuk antisipasinya, ikan yang mati kita minta untuk dikubur. Tidak dibuang di saluran air. Untuk mengobati ikan yang sakit, dari PPL juga sudah menyarankan, agar diberikan obat penghilang luka serta vitamin. Walau ada juga warga yang membuat obat tradisional sendiri dari daun pepaya, pace dan tempe busuk,” katanya.
Lihat juga...