Mina Tani Dorong Warga Terdampak Bandara YIA Geluti Budidaya Lele
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
YOGYAKARTA — Kawasan lahan berpasir di pesisir pantai tak menghalangi sejumlah warga di dusun Selong, Palihan, Temon, Kulonprogo untuk membudidayakan ikan tawar konsumsi jenis lele.
Tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Mina Tani, sejumlah warga pun menyiasati keterbatasan kondisi yang ada, dengan memanfaatkan kolam ikan sistem terpal.
Mulai berjalan sejak tahun 2010 silam, Pokdakan Mina Tani yang memiliki sekitar 20 anggota ini, bahkan mampu memproduksi ikan lele siap konsumsi hingga mencapai 3 ton per bulan.
Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar sekitar Kulonprogo, mereka juga mampu mendukung program bantuan sosial pemerintah setempat bagi warga miskin yakni PKH.
“Kita memiliki sekitar 49 kolam terpal serta 7 kolam bioflok untuk budidaya. Dari jumlah itu setiap minggunya kita rutin memasok 5 kwintal lele konsumsi ke pedagang. Serta 5 kwintal per bulan untuk program PKH,” ujar ketua Pokdakan Mina Tani, Hardono (66), Senin (21/06/2021).
Memanfaatkan air dari sumur bor, pembudidaya ikan yang mayoritas merupakan warga terdampak pembangunan bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA) ini, juga aktif mendorong warga sekitar untuk beralih dari sektor pertanian ke perikanan.
Selain menjadi solusi bagi warga terdampak pembangunan bandara, usaha perikanan budidaya ikan lele ini juga berkontribusi membantu pemenuhan kebutuhan pasar ikan lele yang sangat besar di wilayah Yogyakarta.
“Banyak warga di sekitar sini yang sebelumnya menganggur karena lahan pertanian mereka dialihfungsikan untuk pembangunan bandara. Karena itu kita dorong mereka untuk membudidayakan ikan lele. Setahun terakhir ini sudah terbentuk satu pokdakan baru berisi belasan anggota dengan 40an kolam terpal,” katanya.
Selain tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas, usaha budidaya ikan lele dikatakan Hardono memiliki potensi yang tidak kalah dari sektor pertanian. Pasalnya disamping memiliki pasar yang stabil, jumlah pelaku usaha budidaya ikan lele sampai saat ini juga masih sangat terbatas.
“Kelebihan kolam terpal itu mudah dan murah dari sisi pembuatan. Selain itu, kualitas air juga lebih mudah dikontrol. Sedangkan dari sisi produktivitas tidak kalah dengan sistem kolam tanah atau kolam lainnya. Yang membedakan hanya soal perawatannya saja,” ungkapnya.