Jember: Berhasil Bandara, Gagal Demand Generator

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 07/08/2026

 

 

Pada dekade 1990-an, ketika saya kuliah di Jember, pembangunan bandara menjadi salah satu diskursus besar yang kerap diperbincangkan. Baik di forum-forum seminar maupun obrolan warung kopi.

Alasannya masuk akal. Sebagai salah satu pusat ekonomi Jawa Timur, kota pendidikan dengan perguruan tinggi negeri, dan daerah penghasil tembakau Besuki Na-Oogst yang telah lama dikenal pasar cerutu premium Eropa, Jember memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Pada masa itu Jember bahkan dikenal sebelumnya memiliki sekitar 60 eksportir besar tembakau Na-Oogst yang berhubungan dengan pasar internasional. Terutama Bremen Jerman.

Namun di sisi lain, Jember mengalami defisit konektivitas. Jauh dari pusat-pusat pengambilan Keputusan kebijakan.

Perjalanan darat menuju Surabaya membutuhkan empat hingga lima jam. Ironisnya, pada masa itu perjalanan dari Jakarta menuju Jember justru terasa lebih sulit (lebih lama) dibanding terbang ke Singapura, Kuala Lumpur, bahkan Bangkok.

Jember dekat secara geografis, tetapi jauh dalam konektivitas. Bandara dipandang sebagai jawaban untuk mengakhiri keterisolasian itu.

Mimpi tersebut akhirnya terwujud. Bandara Notohadinegoro berdiri. Namun harapan bahwa kehadiran bandara akan otomatis menggerakkan mobilitas ternyata tidak menjadi kenyataan.

Sejumlah rute yang pernah dibuka tidak bertahan lama. Frekuensi penerbangan terbatas. Tingkat okupansi rendah.

Fakta ini menghadirkan pelajaran penting dalam perencanaan pembangunan. Bandara bukanlah pencipta permintaan perjalanan, melainkan fasilitas yang melayani permintaan yang telah lebih dahulu tercipta.

Infrastruktur adalah sisi pasokan (supply). Sedangkan keberlanjutan penerbangan ditentukan oleh kekuatan sisi permintaan (demand).

Di sinilah persoalan Jember. Daerah ini berhasil membangun bandara, tetapi belum berhasil membangun demand generator yang mampu menghasilkan arus perjalanan udara secara berkelanjutan.

Komoditas tembakau Besuki Na-Oogst memang bernilai ekspor tinggi, tetapi lebih banyak menggerakkan logistik barang daripada mobilitas manusia. Dunia pendidikan belum berkembang menjadi pusat riset internasional yang menarik ilmuwan, mahasiswa asing, dan konferensi global.

Potensi wisata pun belum memiliki daya tarik yang cukup unik untuk menciptakan perjalanan udara dalam skala besar.

Padahal peluang itu tetap ada. Jember dapat memosisikan diri sebagai pusat konferensi internasional kakao dan tembakau. Pusat riset pertanian tropis. Pusat pendidikan pesantren berjejaring global.

Aktivitas-aktivitas seperti itulah yang menciptakan kebutuhan perjalanan secara rutin. Bukan sekadar pada musim liburan, melainkan sepanjang tahun.

Kesalahan terbesar Jember bukan membangun bandara. Kesalahannya adalah menganggap bandara dapat menciptakan permintaan.

Yang terjadi justru sebaliknya: permintaanlah yang menghidupkan bandara. Selama kota belum memiliki generator ekonomi, pendidikan, bisnis, atau pengetahuan yang berskala nasional maupun internasional, landasan pacu hanya akan menjadi simbol keberhasilan membangun infrastruktur. Bukan keberhasilan membangun mobilitas.

Bandara bukan mesin pertumbuhan. Bandara adalah cermin dari pertumbuhan. Ia akan ramai ketika sebuah kota memiliki alasan yang cukup kuat untuk didatangi.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Penulis Independen, esais, aktivis reformasi 1998. Menulis tema/isu Sosial, Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.