Nasionalisme Papua vs Skenario Belanda

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 20/09/2026

 

Terdapat indikasi historis kuat bahwa Gerakan Papua Merdeka merupakan DNA kolonialis. Bukan berarti setiap orang Papua yang mendukungnya adalah agen Belanda. Melainkan karena proyek politik Papua merdeka pada fase awalnya tumbuh dalam strategi kolonial Belanda untuk mempertahankan Papua tetap di luar Indonesia.

Nasionalisme Papua sendiri bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul hari ini. Sejak 1945, terdapat orang-orang Papua (Orang Asli Papua) yang secara terbuka memilih bergabung dengan Indonesia. Nasionalisme Papua beririsan erat dengan nasionalisme Indonesia.

Frans Kaisiepo, Silas Papare, Marthen Indey, dan tokoh lainnya menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia memiliki basis di kalangan orang asli Papua. Gerakannya tersebar di Biak, Serui/Yapen, Hollandia, Manokwari, Sorong, dan wilayah lainnya.

Lalu, apa dasar Indonesia mengklaim Papua?

Dalam hukum internasional, salah satu prinsip penting dekolonisasi adalah uti possidetis juris. Ketika suatu bangsa merdeka dari kekuasaan kolonial, batas wilayah yang diwarisinya pada prinsipnya mengikuti batas administratif kolonial.

Ini juga berkaitan dengan state succession atau suksesi negara. Dalam konteks Indonesia, dasarnya adalah Republik Indonesia merupakan negara penerus wilayah Hindia Belanda.

Indonesia berpandangan bahwa Papua merupakan bagian dari wilayah bekas Hindia Belanda yang seharusnya ikut diserahkan ketika Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949. Belanda mengingkarinya.

Belanda berusaha mempertahankan Papua dan menunda penyelesaiannya. Perundingan 1950–1955 pun gagal.

Ketika mempertahankan Papua sebagai wilayah kolonial semakin sulit dilakukan secara terbuka, Belanda mengubah strateginya. Kolonialis Belanda tidak lagi sekadar mempertahankan Papua sebagai koloni. Tetapi membangun proyek politik Papua yang terpisah dari Indonesia.

Memasuki akhir 1950-an dan terutama 1961, Belanda membangun lembaga-lembaga politik Papua dan mendorong gagasan pemerintahan sendiri serta self-determination. Dewan Nugini dibentuk, kemudian muncul identitas “West Papua”, Bintang Kejora, dan perangkat politik menuju pemerintahan sendiri.

Pejabat Belanda bahkan menjelaskan bahwa inti kebijakan mereka adalah mempersiapkan orang Papua untuk self-determination. Sebuah skenario mengingkari hukum internasional.

Lebih tegas lagi, analisis pemerintah Amerika Serikat pada 1961 mencatat bahwa Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Luns melihat self-determination sebagai konsep yang lebih dapat diterima dunia internasional daripada kolonialisme. Tetapi sekaligus dapat menjaga wilayah itu (Papua Barat) tetap di luar tangan Indonesia.

Di sinilah hubungan hukum, sejarah, dan strategi kolonial Belanda menjadi jelas. Ketika klaim Indonesia sebagai negara penerus Hindia Belanda tidak mudah dipatahkan — karena memiliki kedudukan hukum internasional yang kuat—, medan pertarungan dialihkan. Dari mempertahankan kolonialisme secara langsung menjadi membentuk identitas dan proyek politik baru yang dapat memisahkan Papua dari Indonesia.

Inilah yang sering tidak dipahami generasi hari ini. Papua merdeka kerap dianggap sebagai kelanjutan langsung dari nasionalisme Papua. Padahal, jauh sebelum proyek politik Papua merdeka terbentuk, sudah ada nasionalisme Indonesia di kalangan orang Papua sendiri.

Papua merdeka bukanlah bentuk awal nasionalisme Papua. Bahkan tidak tepat dikatakan sebagai bagian nasionalisme Papua.

Gerakan Papua Merdeka lahir sebagai konstruksi politik dalam strategi Belanda untuk mempertahankan Papua tetap di luar Indonesia. Ketika kolonialisme terbuka semakin sulit dipertahankan.

Pada 1961, Belanda bahkan mengubah nama wilayah menjadi West Papua. Menetapkan bendera dan konstitusi. Langkah Belanda itu dipandang Indonesia sebagai upaya mendorong keterpisahan Papua.

Itulah makna kalimat “Gerakan Papua Merdeka merupakan DNA kolonialis.” Bukan DNA orang Papua dan bukan tuduhan bahwa setiap pendukungnya adalah agen Belanda. Melainkan jejak kolonial dalam asal-usul proyek politik (Gerakan Papua Merdeka) tersebut.

Tanpa memahami sejarah ini, generasi hari ini mudah mengira bahwa Papua merdeka adalah warisan nasionalisme Papua. Apalagi dianggap satu-satunya.

Padahal nasionalisme Indonesia di Papua memiliki akar sejarah sendiri sejak 1945 dan diperjuangkan oleh rakyat Papua sendiri. Gerakan Papua Merdeka merupakan proyek kolonialis Belanda untuk memupus gerakan nasionalisme Papua yang sesungguhnya itu.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

 

Lihat juga...