Papua Kampung Atlet

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 14/09/2026

 

 

Persoalan Papua tidak semata-mata soal pembangunan yang belum merata. Di balik kemarahan atas ketimpangan, marginalisasi, dan rasa tidak memperoleh bagian yang adil dari pembangunan, terdapat persoalan yang lebih mendasar: Papua membutuhkan gambaran tentang masa depannya sendiri.

Identitas Papua kuat, tetapi proyek masa depan bersama yang dapat menyatukan identitas itu dengan Indonesia belum cukup kuat. Karena itu, narasi politik mudah diisi oleh gagasan bahwa masa depan Papua hanya dapat dicapai melalui pemisahan.

Pembangunan membutuhkan lebih dari jalan, dana, dan infrastruktur. Ia membutuhkan impian yang dapat dirasakan generasi muda.

Salah satu yang paling realistis adalah olahraga.

Papua memiliki modal talenta, pengalaman pembinaan, dan infrastruktur olahraga yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan nasional. Maka pemerintah perlu menjadikan Papua sebagai salah satu pusat kaderisasi atlet nasional. Saya menyebutnya sederhana: Papua Kampung Atlet.

Ini bukan proyek memindahkan seluruh pembinaan atlet nasional ke Papua. Indonesia tetap membutuhkan banyak pusat pembinaan. Papua justru diberi posisi khusus sebagai salah satu pusat unggulan dengan ekosistem lengkap. Berupa pencarian bakat di seluruh wilayah, pembinaan lintas cabang olahraga, pendidikan, asrama, gizi, kesehatan, sport science, pelatih, serta kompetisi rutin dan berjenjang.

Pemerintah pusat, melalui Kemenpora, menjadi orkestrator: menyusun blueprint 15–20 tahun. Menetapkan standar, menyediakan dukungan fasilitas dan tenaga ahli, menghubungkan Papua dengan federasi serta pelatnas, dan menjamin kesinambungan program.

Pemerintah daerah menjadi pelaksana di lapangan. Membangun sentra pembinaan. Mengintegrasikan sekolah dan klub. Menyediakan dukungan pendidikan dan Kesehatan. Menjaga kesinambungan kaderisasi.

Masyarakat menjadi basisnya: keluarga, sekolah, klub, komunitas, dan dunia usaha ikut menemukan talenta. Membangun budaya olahraga. Menyelenggarakan kompetisi. Menciptakan industri olahraga.

Sebab yang dibangun bukan hanya atlet. Olahraga harus menjadi ekosistem karier: atlet, pelatih, wasit, juri, manajer, pengelola pertandingan, tenaga sport science, media, hingga pengusaha olahraga.

Tujuannya bukan sekadar medali. Tujuannya menciptakan sumber kebanggaan dan masa depan.

Jika narasi separatis menawarkan mimpi tentang negara sendiri, Indonesia harus menawarkan mimpi yang tidak kalah kuat: Papua yang besar karena menjadi salah satu tempat lahirnya manusia unggul Indonesia.

Terlebih, proyek pemisahan menghadapi persoalan politik, kerangka hukum internasional, dan realitas geopolitik. Terlalu banyak energi akan terbuang jika masa depan terus dibayangkan melalui pertentangan.

Jauh lebih produktif membangun proyek masa depan. Papua dapat menjadi Kampung Atlet, sekaligus lumbung pangan Pasifik, pusat pendidikan, ekonomi kelautan, dan keunggulan biodiversitas.

Pertanyaannya bukan lagi semata “merdeka atau tidak?”. Melainkan: “Akan menjadi apa Papua bagi Indonesia dan kawasan Pasifik?”

Itulah pertanyaan masa depan yang layak diperjuangkan.

 

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...