Panen Buah Lokal, Buka Lapangan Usaha Pedagang Musiman
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Kehadiran sejumlah pedagang buah mangga di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) mulai marak saat panen mangga melimpah di wilayah tersebut.
Zulhan, salah satu pedagang buah menyebut, usaha berjualan buah sudah ditekuninya semenjak dua tahun terakhir. Beberapa jenis buah lokal yang kerap dijual dominan merupakan buah lokal seperti melon, semangka, durian, jeruk, pepaya serta jenis buah lain. Berbagai jenis buah tersebut dipasok dari sejumlah kecamatan di Lamsel langsung dari petani.
Zulhan menyebut, sebagian besar buah yang dijual merupakan buah segar lokal sehingga pelanggan tidak khawatir akan adanya zat pengawet.
Ia menyebut, sejumlah buah yang dijual terutama buah impor diakuinya jarang dijual di wilayah tersebut karena pasokan buah lokal melimpah. Buah jeruk disebutnya dipasok dari wilayah Kecamatan Palas, buah naga dari Kecamatan Sragi, buah melon dan semangka berasal dari Kecamatan Bakauheni.
Berkat usaha tersebut, ia mengaku, bisa mendapatkan omzet ratusan ribu per hari disamping usaha warung kebutuhan pokok miliknya.
“Distribusi dan pasokan buah lokal yang lancar didukung oleh hasil pertanian petani untuk memenuhi kebutuhan pedagang buah di wilayah Lampung Selatan. Berpengaruh pada harga. Selama ini buah segar kerap dipasok dari luar wilayah membuat harga lebih mahal,” terang Zulhan, salah satu pedagang buah di Jalan Lintas Sumatera KM 2, saat ditemui Cendana News, Selasa (30/10/2018).
Zulhan bahkan menyebut, melimpahnya hasil panen sejumlah komoditas pertanian berupa melon, semangka, mangga kerap dilirik oleh masyarakat untuk mencoba peruntungan.
Sejumlah pedagang buah musiman disebut Zulhan memanfaatkan posisi Jalinsum yang dekat dengan pelabuhan Bakauheni. Sebagian hasil panen buah diakuinya kerap menjadi oleh-oleh bagi masyarakat yang akan menuju ke Pulau Jawa melalui pelabuhan Bakauheni.

Penjualan buah lokal kerap terpengaruh dengan pasokan dan distribusi. Pada musim buah mangga yang melimpah, ia menyebut, sebagian buah dibeli dengan sistem borongan saat buah tua.
Buah yang sudah siap matang dibeli dari petani dengan harga Rp5.000 per kilogram. Setelah dipajang di tempat berjualan buah mangga dijual dengan harga Rp10.000 per kilogram. Buah tersebut di antaranya disimpan di lokasi penjualan sehingga bisa matang sebelum dijual.
Proses menyortir buah kerap dilakukan untuk memilih buah yang masih mentah, setengah matang hingga matang sempurna.
Usaha jual beli buah lokal memiliki risiko cukup tinggi terutama saat buah tidak laku terjual. Buah segar yang tidak laku terjual diakuinya kerap membusuk sehingga ia harus mengalami kerugian.
Faktor risiko tersebut menjadi salah satu penyebab dirinya harus mencari solusi untuk tetap mempertahankan buah dalam kondisi segar. Cara-cara tradisional dengan proses pemeraman menggunakan daun pisang kering menjadikan buah yang dijual lebih awet.
“Risiko pembusukan sejumlah buah segar membuat harga dari petani cukup murah, tetapi jika tidak terjual pedagang bisa merugi,” beber Zulhan.
Beberapa jenis buah diakuinya hanya bisa diperoleh saat terjadi musim panen. Sementara ada beberapa jenis buah yang ada sepanjang waktu. Sejumlah buah dikirim oleh distributor yang memasok buah untuk dijual kembali.
Kualitas buah yang segar dengan varian rasa manis dan kecut kerap diminati oleh pembeli. Buah durian asal Bengkulu mulai membanjir di wilayah tersebut, meski saat ini ia memilih tidak berjualan buah durian karena butuh modal besar.
Santi, salah satu pembeli asal Way Baka, Bakauheni, menyebut, buah segar lokal menjadi pilihan baginya untuk menyiapkan asupan buah bagi keluarganya. Kebutuhan buah sangat cocok untuk menghadapi kondisi cuaca yang masih kurang bersahabat. Kerap terjadi panas dan hujan.
Daya tahan tubuh disebutnya bisa dijaga dengan rajin mengonsumsi buah meski dengan menggunakan buah lokal yang kerap dijual di sepanjang Jalinsum.
Santi mengungkapkan, saat ini keberadaan sejumlah pedagang buah musiman membuat warga bisa memiliki banyak pilihan. Buah segar lokal yang dijual diakuinya merupakan hasil pertanian di wilayah Lampung sehingga dirinya tidak khawatir buah segar tersebut menggunakan bahan berbahaya.
Harga yang ditawarkan juga lebih terjangkau dibandingkan membeli di pasar modern. Membeli buah lokal dibandingkan membeli buah impor, disebut Santi, sekaligus mendukung pemberdayaan warga dan petani.
Tibanya puncak panen mangga di Lamsel juga ikut mendukung sektor usaha kuliner di wilayah Bakauheni.
Emi, salah satu pemilik usaha kuliner hasil ikan laut khas Bugis mengaku, buah mangga kerap bisa dimanfaatkan untuk varian pencipta rasa serta sambal. Sesuai dengan tradisi kuliner masyarakat Bugis, buah mangga yang sedang melimpah bahkan bisa diolah menjadi kaloko (asam mangga kering).

Kaloko dari asam, diakuinya, bisa menghemat pengeluaran tanpa harus membeli bahan bumbu. Kaloko atau asam mangga kering dibuat dari buah mangga muda yang diiris selanjutnya dijemur.
Kaloko bisa dipergunakan untuk bahan bumbu memanfaatkan potensi buah lokal yang melimpah. Berkat dukungan pasokan buah lokal tersebut, selain bisa dipergunakan untuk bumbu pindang, sambal mangga, buah mangga matang juga menjadi bahan baku es buah dan jus.
“Potensi panen buah mangga ikut memperkaya khazanah makanan tradisional. Selanjutnya bisa ikut mendukung usaha kuliner,” terang Emi.
Selain didukung oleh melimpahnya buah tersebut, potensi usaha kuliner di wilayah Bakauheni disokong wilayah yang dekat dengan laut. Hasil laut dipadukan dengan hasil pertanian membuat sejumlah usaha kuliner cukup berkembang di wilayah Bakauheni.
Kondisi tersebut semakin didukung dengan telah beroperasinya Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar pada seksi 1 sepanjang 9 kilometer yang ikut memperlancar distribusi dan menjamurnya usaha kecil kuliner tradisional.