Aktivitas Pendidikan di Sulteng Belum Berjalan Normal
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
JAKARTA — Aktivitas kegiatan belajar mengajar pascagempa dan tsunami di Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong di Sulawesi Tengah belum dapat berjalan maksimal.
“Berdasarkan data yang kita miliki ada 186 ribu peserta didik di 1.724 satuan pendidikan dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, SMK yang terganggu layanan pendidikannya,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Selasa (9/10/2018).
Sutopo juga menyebutkan, ada 22 orang guru meninggal dunia, 14 hilang dan dua orang menjalani rawat inap. Sedangkan untuk peserta didik, ada 22 orang siswa meninggal dunia, 33 hilang dan satu orang luka berat.
Disebutkan juga, kemungkinan banyak siswa yang terseret tsunami saat mengikuti Gladi resik festival Palu nomoni serta Bible Camp yang terhisap lumpur di Jono Oge Kabupaten Sigi.
Selain itu 422 unit fasilitas pendidikan rusak, yakni 5 unit PAUD, 205 SD, 45 SMP, 89 SMA, 74 SMK dan 4 SLB.
“333 unit sekolah darurat (kapasitas 7 ruang), 20 unit tenda sedang dipersiapkan. Dua tenda darurat sudah terpasang, satu unit tenda Standar UNICEF juga sudah didirikan di Patebo,” ungkapnya.
Sutopo menambahkan, beberapa sekolah yang sudah mulai aktivitasnya di antaranya SMPN 1 Palu, SMAN 1 Palu, SD Inpres, SMPN 6 Palu, SMPN 13 Palu, SMA PGRI Palu, SMAN 4 Palu.
Sementara itu Pemerintahan Daerah di Sulawesi Tengah, sudah mulai berjalan normal. Di mana Senin (8/10) Aparatur Sipil Negara (ASN) di berbagai instansi sudah kembali bekerja.