Dampak Sistem Zonasi, Sekolah di Yogyakarta Ubah Pola Pembelajaran
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
YOGYAKARTA — Penerapan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) beberapa waktu lalu, membuat sejumlah sekolah di kota Yogyakarta mengubah pola pembelajarannya pada siswa.
Hal itu disebabkan karena adanya perubahan karakter maupun kualitas input siswa yang diterima tiap sekolah. Sekolah pun mau tak mau harus melakukan penyesuaian agar mampu menghasilkan kualitas lulusan yang diharapkan.
Seperti dilakukan SMP Negeri 2 Yogyakarta, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sekolah favorit di kota Yogyakarta. Kini didominasi siswa dari kalangan menengah ke bawah yang secara akademik memiliki nilai rendah.
“Dari sebanyak 238 siswa baru, hanya sebanyak 34 siswa saja yang memiliki nilai akademik di atas 25. Rata-rata nilai akademiknya di bawah 20. Padahal biasanya siswa kami memiliki nilai di atas 25,” ujar Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, SMP Negeri 2 Yogyakarta Supriyati, Kamis (16/8/2018).

Supriyati menyebutkan, mayoritas siswa dengan nilai akademik di bawah rata-rata itu, dikatakan berasal dari lingkungan sekitar SMP Negeri 2, seperti kawasan tepi sungai Code yang memiliki latar belakang sosial ekonomi menengah ke bawah.
Hal itu berdampak pada munculnya budaya maupun sikap perilaku siswa yang cenderung tidak ditemui pada angkatan-angkatan sebelumnya. Sehingga pihak sekolah pun mengambil kebijakan untuk fokus membenahi karakter siswa tersebut.
“Kalau untuk mengejar dan meningkatkan nilai akademik siswa susah. Sehingga kita komitmen untuk memperbaiki karakter terlebih dahulu. Sehingga diharapkan akan tumbuh semangat belajar, dan sikap perilaku positif pada mereka,” katanya.
Supriyati mencontohkan selalu mengajarkan untuk bertanggungjawab atas kebersihan kelas maupun ketertiban dalam proses belajar mengajar. Hal itu diperlukan untuk mengubah budaya sikap maupun perilaku yang biasa mereka lakukan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
“Selain itu kita juga menyiapkan para guru agar memiliki kemampuan mendidik para siswa dengan berbagai latar belakang ini. Sehingga guru bisa lebih sabar. Salah satunya melalui sejumlah diklat dan pelatihan,” katanya.