Proyek Pergantian Otak
CERPEN KEN HANGGARA
MENGGANTI otak manusia dengan otak sapi bukan perkara gampang. Hal pertama yang dibutuhkan adalah otak manusia yang sehat walafiat. Dengan atau tanpa izin pemilik otak, terlebih dahulu kita pastikan apakah orang tersebut benar-benar waras atau tidak?
“Akan berbahaya jika orang yang Anda tangkap ternyata menderita penyakit saraf. Penelitiannya akan kacau dan Anda dibawa ke pengadilan internasional sebab menyebar paham ketidakwarasan,” kata seorang pemesan.
Memang begitulah pekerjaan saya: menculik dan mengganti otak manusia dengan otak sapi. Tidak ada tujuan lain selain demi kemaslahatan umat. Paling tidak itulah yang bisa saya katakan kepada sahabat semasa kuliah.
“Sekarang kerja apa?”
“Mengganti otak manusia dengan otak sapi.”
“Wah, ada pekerjaan begitu?”
“Oh, ada. Itu kerja kemanusiaan.”
“Tugasnya apa saja?”
“Menculik dan mengganti otak si korban dengan otak sapi, demi penelitian besar.”
“Kalau keluarga mereka tahu, apa mereka tidak marah?”
“Kalian bayangkan saja otak suami atau istri kalian kuambil dan kutukar dengan otak sapi!”
Saya tidak bisa menjelaskan terlalu detail pada mereka tentang apa saja yang saya lakukan selama bekerja. Mereka hanya perlu tahu bayaran yang saya terima. Dari satu proyek pergantian otak, saya bisa beli mobil satu dan rumah satu. Itu belum komisi dari perusahaan, jika secara kebetulan saya berhasil mendapatkan otak manusia jenius.
“Di mana-mana ada banyak orang jenius. Bahkan, kita tak bisa menduga jika pada suatu hari Anda temukan orang jenius berjualan tempe penyet di dekat stasiun. Atau ada orang jenius berjualan rokok di depan pabrik sepatu. Kadang dunia sangat aneh. Orang jenius tidak bernasib baik, sementara orang berotak dangkal, dengan gampang mendepak mereka yang berotak jenius dari rantai kehidupan manusia.”
Barangkali itulah tujuan para klien, para pemesan saya, yang selalu dan tak pernah henti menghendaki saya mengganti otak manusia dengan otak sapi, lalu membawa otak manusia yang segar dan gembur seperti tofu untuk dibawa ke laboratorium mereka demi penelitian besar.
Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi saya harus memastikan otak yang saya bawa benar-benar berasal dari manusia waras. Itu hal pertama. Hal kedua yang kita butuhkan dalam mengganti otak manusia dengan otak sapi adalah: seekor sapi yang juga sehat walafiat. Kita tidak bisa membawa otak sapi yang tidak waras dan penuh dengan belatung untuk dipasang ke kepala manusia normal. Itu sebuah kejahatan.
Seekor sapi harus benar-benar dipastikan kesehatan fisik dan mentalnya, baru kita bisa mencuri otaknya untuk dibawa kepada para korban. Ya, sekali lagi, otak sapi hanya bisa saya dapatkan dengan mencurinya, karena saya tidak mau rugi dan para klien yang punya perusahaan besar bertujuan mulia juga tidak mau memodali saya; mereka cuma minta otak manusia segar.
“Terserah mau Anda tukar otak manusia-manusia itu dengan otak kadal, otak ikan, otak ayam, otak kangguru, otak serigala, otak macan, atau otak biawak; kami tak peduli! Yang kami mau tahu: Anda datang membawa otak manusia bermutu dan kami bayar sesuai jumlah yang kami janjikan!” kata mereka.
Karena saya pikir kepala manusia terlalu besar untuk diisi otak-otak hewan tertentu, dan karena di dekat rumah saya terdapat sebuah peternakan sapi milik haji paling pelit sejagat raya, saya berpikir mencuri otak sapi bukan dosa yang patut membawa saya ke lubang neraka.
“Lagi pula sapi-sapi tidak butuh otak. Mereka cuma butuh rumput untuk bisa terus hidup dan menjadi gendut, dan ketika tiba saatnya, disembelih untuk dikonsumsi! Maka, sapi jelas tidak butuh otak. Sedangkan para korbanku butuh!” terang saya pada istri.
Istri mendukung. Bayaran gede dari proyek pergantian otak bisa digunakan buat pamer barang-barang bermerek kepada ibu-ibu tetangga yang suka nyinyir bahwa saya memelihara tuyul.
Istri selalu bilang kalau saya tidak suka tuyul dan saya beriman; saya hafal beberapa ayat suci dan tidak pernah menipu sesama manusia. Para korban tidak akan mati, sebab otak mereka saya tukar dengan otak sapi. Bukankah itu jelas?
Demikianlah, pekerjaan saya pun berlaku sejak hari di saat saya putuskan saya ke kandang sapi milik haji pelit itu. Saya ambil otak sapi tanpa izin. Esoknya, saya bawa itu ke mana pun saya pergi. Saat di jalan saya temui manusia yang kiranya waras, walau tidak terlalu pintar, saya bius mereka dan saya bawa ke tempat sepi.
Di tempat sepi itu, saya belah tempurung kepala mereka dan saya ganti begitu saja otak mereka yang amis dan gembur seperti tofu dengan otak sapi. Apa mereka menyadarinya? Tidak. Saya akan pergi dengan cepat sebelum manusia-manusia tadi sadar otaknya telah berganti menjadi otak sapi.
Otak manusia yang masih segar saya bawa dengan kantung plastik biasa agar tak ada yang curiga. Seperti orang membawa soto ayam saja atau seperti orang baru pulang dari pasar guna membeli daging sapi buat istri yang hamil di rumah dan ingin dibuatkan soto daging sapi.
Saya harus pasang tampang saya secara wajar. Jika di angkot ada yang menghirup bau amis dan bertanya apa yang saya bawa, saya bilang saja itu daging ayam. Beres, ‘kan?
Otak itu tidak saya bawa ke rumah untuk dimasak jadi soto atau rawon, tapi saya bawa ke laboratorium besar tempat para klien atau pemesan berkumpul. Saya telah hafal hari-hari sibuk di saat para profesor beserta pimpinan kelompok mafia berkumpul jadi satu dan membuka pelelangan otak ilegal, yakni pada hari Senin sampai Jumat.
Pada hari-hari itu, saya dapat bayaran lebih besar karena mereka semua berebut untuk dapat membawa otak yang masih segar ke ruangan pribadi. Ya, di tempat busuk itu ada begitu banyak ruang praktik dengan profesor-profesor yang bersaing untuk mendapatkan entah berapa banyak penemuan-penemuan baru setiap bulannya.
Sayang sekali, saya tidak diperkenankan untuk tahu lebih detail penemuan macam apakah yang mereka kejar. Demi kalimat ‘untuk kemaslahatan umat manusia’, saya pikir apa yang saya lakukan ini, dengan atau tanpa restu negara, pada akhirnya akan berujung pada kebaikan.
Istri selalu menyebut saya pahlawan. Anak-anak menyebut saya superhero. Semua itu saya nikmati selama kira-kira empat tahun, sampai suatu hari seorang klien telepon. Saya harus datang tanpa membawa otak manusia. Saya kira saya dipecat.
Performa saya selalu baik, lebih baik ketimbang para pengganti otak lainnya yang sering kali muntah-muntah atau bahkan menangis tidak tega karena menganggap mengganti otak manusia normal dengan otak sapi adalah perbuatan terkutuk. Bagaimana mungkin saya dipecat?
Datang tanpa membawa otak manusia membuat saya agak canggung. Di sabuk saya, pisau dan gergaji untuk membelah tempurung kepala manusia masih kering dan bersih. Tidak ada noda darah. Seorang profesor menyuruh saya masuk ke ruangannya.
“Sekarang Anda letakkan saja pisau dan gergaji itu. Anda tidak butuh itu lagi. Anda secara resmi diberhentikan,” katanya.
“Seratus tujuh puluh empat manusia sudah saya ambil otaknya dan saya ganti otak mereka dengan otak sapi. Tak ada komplain dari para klien, termasuk Anda sendiri, Pak Profesor. Itu artinya pekerjaan saya bagus. Performa saya sebagai pengganti otak sangat bisa diandalkan. Apa ada yang menjegal saya?”
Profesor itu tersenyum. Anda hanya buang-buang waktu saja, katanya pendek, lalu menjentikkan jemari. Beberapa orang bertubuh besar mendadak masuk ruangan itu dan meringkus saya.
Saya berontak, tapi mereka besar-besar seperti kingkong dan saya tidak bisa melawan. Saya diikat ke tempat tidur khusus dengan sabuk-sabuk besi. Saya dibius dan merasa hidup di kepala orang lain. Saya masih sadar, tetapi indera perasa saya mati total.
Profesor itu mengambil pisau dan gergaji, dan ia minta maaf, karena seperti yang sudah kami pahami: mengganti otak manusia dengan otak sapi bukan perkara gampang. Hal pertama yang dibutuhkan adalah otak manusia yang sehat walafiat. Dengan atau tanpa izin pemilik otak, terlebih dahulu kita pastikan apakah orang tersebut benar-benar waras atau tidak?
Karena saya pernah terlibat dalam hal ini, barangkali, bagi profesor itu, sebuah izin mengganti otak tidak membuatnya melanggar aturan. Sebagai sesama penggelut proyek ini, berkhianat menjadi barang paling memalukan yang bisa profesor itu kenang seumur hidupnya. ***
Gempol, 2016-2018
Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), dan novel Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018).
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media manapun baik cetak atau online. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com