Pesona Air Terjun Mayung Polak Lombok Timur

Editor: Koko Triarko

LOMBOK – Selain pantai, air terjun menjadi salah satu objek wisata yang cukup ramai dikunjungi masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Barat, selama masa libur panjang berlangsung.
Objek wisata air terjun di NTB, utamanya di Pulau Lombok yang masuk Unesco Global Geopark (UGG) Rinjani, memang sangat banyak dan bisa dikunjungi setiap saat sebagai pilihan liburan.
Air Terjun Mayung Polak, Desa Timbanuh, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, salah satunya, merupakan air terjun yang masuk dalam kawasan UGG Rinjani yang memiliki pesona dan keindahan mengagumkan.
Mulai dari pesona air terjunnya dengan lokasi yang terletak di antara celah pegunungan hingga pemandangan alam memukau, masih hijau dan alami, dan mampu memberikan sensasi tersendiri dan mendatangkan rasa tenang.
“Indah dan damai sekali rasanya bisa liburan ke air terjun Mayung Polak, apalagi dengan pemandangan alam sekitar dengan aneka tumbuhan dan pepohonan lebat yang masih hijau dan rindang”, kata Sufardi, warga Desa Kabar, Lombok Timur, Rabu (20/6/2018).
Air Terjun Mayung Polak sekilas tidak terlihat seperti air terjun pada umumnya, karena hanya memiliki tinggi sekitar tiga meter. Namun, yang menjadi kelebihan air terjun ini adalah lokasinya yang masih sangat terjaga kealamiannya.
Selain tenang, wisata air ini juga menyajikan pemandangan alam yang cukup indah. Di sekitar aliran air ini banyak ditumbuhi berbagai macam  tanaman hutan, di antaranya beringin, jambu-jambuan, stroberi hutan  dan beragam jenis bunga anggrek.
Rai, warga asal Desa Kendang Nangka, Lombok Timur, mengatakan, selain sebagai tujuan wisata dan rekreasi, Air terjun Mayung Polak juga dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.
“Biasanya kami datang bersama anak-anak murid ngaji saya setiap khataman Alquran untuk berobat sekaligus mengajak anak-anak rekreasi”, kata Rai, yang juga guru ngaji.
Burhan, pemuda lainnya mengatakan,  berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat, nama Air Terjun Mayung Polak bermula dari cerita gerombolan hewan kijang (mayung) yang hidup di kawasan hutan. Jumlahnya sangat banyak. Suatu hari, salah satu dari gerombolan kijang itu terjatuh ke dalam jurang di sekitar air terjun tersebut.
Peristiwa itu mengakibatkan keempat kakinya patah, sehingga gerombolannya pun terpaksa pergi dan membiarkan kijang itu sendiri. Dalam keadaan sulit itu, setelah beberapa hari terlewati, kijang tersebut mulai merasa lemah dan kehausan, dengan sisa kemampuannya diseretkan tubuhnya untuk mencapai aliran air.
Setelah puas minum, Sang Kijang kemudian menyeret tubuhnya masuk ke dalam air untuk membersihkan tubuhnya, dan secara tiba-tiba saat itu kaki kijang langsung sembuh secara ajaib dan normal kembali dari patah tulang.
“Demikianlah kisahnya, dan tempat tersebut sejak saat itu dinamakan Air Terjun Mayung Polak. Dalam bahasa masyarakat Suku Sasak Lombok, kata ‘mayung’ berarti Kijang dan kata ‘polak’ berati patah” katanya.
Untuk bisa sampai ke lokasi air terjun, warga maupun wisatawan harus melewati hutan dan semak belukar. Bagi para wisatawan baru, pasti akan mengira akan tersesat, mengingat lokasi air terjun Mayung Polak ini berada di tengah hutan, sehingga membutuhkan waktu 20-30 menit dengan berjalan kaki dari pintu gerbang, melewati jalan setapak bebatuan.
Sementara jarak tempuh dari Kota Mataram mencapai 42 kilometer atau memakan waktu dua jam perjalanan. Harga tiket masuk juga cukup murah, Rp5.000 per orang.
Lihat juga...