Mengenal Budaya Lampung di TMII
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Anjungan Lampung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menampilkan dua rumah adat sebagai bangunan induknya. Yaitu, rumah adat Nuwou Balak dan Nuwou Sesat.
“Kedua rumah adat tersebut biasanya digunakan untuk pertemuaan para tokoh adat dan masyarakat Lampung, untuk memperkenalkan berbagai aspek budaya tradisional,” kata Staf Tata Usaha Anjungan Lampung TMII, Suparwoto, kepada Cendana News, Jumat (8/6/2018).
Dia menjelaskan, Nuwou Balak aslinya merupakan rumah tinggal bagi kepala adaT, yang dalam bahasa Lampung disebut Balai Keratun.
Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan, yaitu lawang kuri atau gapura, pusiban atau tempat tamu melapor, ijan geladak, yakni tangga naik ke rumah, dan anjung-anjung, yaitu serambi depan tempat menerima tamu, serta serambi tengah atau tempat duduk anggota kerabat pria. Lapang agung atau tempat kerabat wanita berkumpul, dan kebik temen atau kebik perumpu atau kamar tidur anak penyimbang batin atau anak ketiga.
Tapi, sebut dia, di anjungan Lampung ini ruangan tersebut digunakan untuk tempat peragaan berbagai aspek budaya daerah. Di ruangan ini dapat pengunjung saksikan perpaduan atau tempat duduk sang penyimbang adat bila sedang memimpin sebuah upacara adat.
Terdapat pula kutamara, yakni pelaminan bagi anak gadis penyimbang yang akan menari, dan bermacam siger atau mahkota yang diletakan dalam vitrin kaca dengan benda seni yang lain.
Ditampilkan pula pakaian adat pengantin Lampung, tempat tidur pengantin, dan tempat tidur orang tua.

Sedangkan rumah adat Nuwou Sesat, jelas Suparwoto, adalah bangunan di atas tiang yang megah itu merupakan balai pertemuan adat, tempat para purwatin atau penyimbang mengadakan musyawarah.
“Rumah adat ini disebut Sesat, karena itu balai agung,” ujarnya.
Bagian-bagian dari bangunan ini adalah Ijan Geladak, tangga masuk yang dilengkapi dengan atap yang disebut Rurung Agung. Anjungan, serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, Pusiban yakni ruang tempat musyawarah resmi.
Ada ruang Tetabuhan tempat menyimpan alat musik tradisional. Alat musik Lampung dinamakan Talo Balak (Kulinttang). Ruang Gajah Merem, yaitu tempat beristirahat bagi penyimbang.
Menurutnya, kekhasan rumah sesat ini adalah hiasan payung-payung besar di atapnya atau rurung agung berwarna putih, kuning dan merah. Ini melambangkan tingkat kepenyeimbangan bagi masyarakat Lampung Pepaduan.
Mengingat Lampung adalah daerah yang luas, kaya dan subur, kata Suparwoto, masyarakat tradisonalnya terdiri dari dua golongan, yaitu Lampung Pepaduan yang tinggal di pedalaman dan memegang teguh ajaran adat.
Sedangkan golongan lain adalah Lampung Peminggir, yakni masyarakatnya tinggal di pesisir.
Namun demikian, kata dia, masyarakat Lampung sudah tidak demikian lagi. Provinsi ini merupakan daerah transmigrasi pertama di Indonesia, yang terjadi di awal abad 20.
Kini, penduduk Lampung terdiri dari berbagai suku yang ada di Indonesia. Maka, masyarakatnya digolongkan menjadi dua golongan, yaitu Lampung asli dan Lampung pendatang. Ini sesuai dengan slogan dari lambang pemerintah daerahnya “Sang Bumi Ruwa Jurai”.
