Begini Kegiatan Murid Sekolah di Lamsel Saat Ramadan
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Berbagai kegiatan dilakukan oleh anak usia sekolah mengisi Ramadan, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal. Mulai dari pesantren kilat hingga kegiatan bangun menjelang waktu sahur.
Topan Haryono, kepala Sekolah Dasar Negeri 1 Pasuruan menyebutkan, sesudah ujian akhir kenaikan kelas murid mengikuti kegiatan pesantren kilat yang diikuti kelas empat hingga enam selama tiga hari. Kegiatan positif tersebut bertujuan untuk menanamkan nilai keagamaan sejak dini.
“Kegiatan pesantren kilat menjadi jadwal rutin sekolah kami setiap Ramadan, secara kebetulan murid mendekati waktu bagi rapor setelah ujian kenaikan kelas dan ujian akhir sekolah,” terang Topan Haryono saat dikonfirmasi Cendana News pada kegiatan pembukaan pesantren kilat, Kamis (31/5/2018).
Selain digelar di kelas, beberapa pelaksanaan juga dilakukan di Masjid Miftahul Huda tak jauh dari sekolah. Praktek pelaksanaan Shalat serta membaca Alquran menjadi materi utama yang diajarkan sekaligus mengikuti kegiatan shalat tarawih berjamaah di masjid.
Sementara itu, Guru Pendidikan Agama Islam SDN 1 Pasuruan, Salim menyebutkan, selama kegiatan pesantren kilat, murid akan diajar oleh sebanyak enam tenaga pendidik. Tenaga pendidik yang memberikan pelajaran menyesuaikan dengan materi yang sudah dijadwalkan di antaranya materi Keimanan, Alquran, praktek ibadah (fiqih), Akhlak, Sejarah Islam (Tarikh), Muamalat.

“Kegiatan pesantren kilat sekaligus upaya menanamkan kepada murid untuk melaksanakan ibadah dengan baik sebagai bekal hidup sehari hari,” papar Salim.
Selain diisi dengan pesantren kilat, anak anak di dusun Kayu Tabu desa Kelawi juga melakukan tradisi membangunkan sahur. Ardi Yanto, warga setempat menyebutkan, tradisi kerap dilakukan anak usia SD hingga SMP.
Berbekal obor dari bambu dan sumbu serabut kelapa, anak anak bangun menjelang waktu sahur, bahkan sudah bangun sekitar pukul 02.30 dini hari untuk berkeliling kampung dengan membunyikan kentongan bambu.
“Anak anak mengisi kegiatan tersebut karena kegiatan belajar di sekolah siang hari sudah selesai ujian sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar,” cetus Ardiyanto.
Kegiatan membangunkan warga yang sahur tersebut diakui Adyanto menjadi tradisi yang masih dipertahankan hingga kini. Meski saat ini sudah banyak warga yang punya alarm dan speaker masjid untuk bangun waktu sahur, tradisi tersebut masih kerap dilakukan.
Proses membangunkan sahur dilakukan selain berkeliling dusun juga mendatangi setiap pintu rumah warga yang menjalankan ibadah.
