Pelaku Usaha: Pendampingan UKM Masih Belum Maksimal
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MAUMERE — Pemilik usaha Dapur Daun, Margareta Setia Rahayu menilai pendampingan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Sikka melalui dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM selama ini masih belum maksimal dan tidak fokus sehingga banyak kelompok usaha yang tidak berkembang usai mendapat pelatihan.
“Banyak kelompok usaha yang mati suri setelah mendapatkan pelatihan dan bantuan modal usaha. Harusnya pemerintah melakukan pendampingan terus menerus agar usaha yang dilakukan bisa berkembang,” harap Margareta, Selasa (10/4/2018).
Kepada Cendana News, pemilik usaha Dapur Daun yang memproduksi aneka keripik ini, meminta agar setelah dilakukan pelatihan, pemerintah juga membantu modal dan pelatihan mengenai manajemen, pemasaran dan kulitas produk yang dihasilkan.
“Harus dilakukan kunjungan terus menerus dan bila perlu selalu mendampingi hingga usaha yang dikakukan bisa berhasil. Banyak kelompok yang membuat produk tapi selalu terkendala dalam memasarkan produk,” terangnya.
Margareta juga berharap agar Pusat Jajanan dan Cinderamata (PJC) milik pemerintah kabupaten Sikka yang sudah didirikan, bisa diperbanyak kios-kiosnya. Dengan tujuan agar pengusaha kecil dan manengah bisa menempati kios-kios di areal tersebut.
Hal senada juga disampaikan Sherky Irawati ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) kabupaten Sikka yang menyesalkan kurangnya dukungan pemerintah dalam membantu memasarkan produk milik pengusaha UKM yang ada di kabupaten Sikka.
“Pengusaha harus sering diajak mengikuti pameran di luar daerah agar produk mereka bisa lebih dikenal masyarakat. Bisa juga diajarkan tentang bagaimana teknik pemasaran termasuk melalui penjualan online,” ungkapnya.

Dikatakan Sherly, pengusaha UKM di kabupaten Sikka sudah mulai berkembang terutama kaum wanita yang mulai mengembangkan usaha mereka. Pemerintah perlu membuka akses bantuan modal bagi para pengusaha kecil dan manengah dengan memberikan kemudahan.
Sementara itu, Kepala dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM kabupaten Sikka, Ir. Lukman, MSi mengatakan, pihaknya memiliki keterbatasan tenaga sehingga selama ini pendampingan hanya dilakukan kepada kelompok-kelompok yang serius mengembangkan usahanya.
“Setelah memberikan pelatihan, pemerintah juga membantu peralatan baik kepada kelompok UKM tenun ikat maupun produk lainnya. Pendampingan memang jarang dilakukan tapi pemerintah melakukan kontrol dengan melakukan pengecekan secara berkala kepada kelompok yang menerima bantuan,” tuturnya.
Tambah Lukman bantuan hanya sekedar sarana dan prasarana produksi agar kelompok bisa mengembangkan. Tetapi semuanya itu tergantung apakah mau bekerja keras.
“Ini juga akan menjadi perhatian pemerintah. Namun dari ratusan kelompok yang diberikan bantuan seperti kelompok tenun ikat hampir semua usahanya berjalan. Hanya UKM di sektor makanan dan minuman saja yang sebagian besar belum berhasil dan ke depannya akan diberikan perhatian khusus termasuk pendampingan,” ungkapnya.