Integrasi Kakao-Peternakan Untungkan Petani Penengahan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Warga desa Banjarmasin yang berprofesi sebagai petani memanfaatkan limbah dari tanaman kakaonyo untuk dijadikan pakan ternak.

Irwansah (30) menyebutkan, ia sudah mengintegrasikan pola peternakan kambing dengan kakao sejak lima tahun terakhir. Hasilnya kulit kakao tidak menjadi limbah karena menjadi tambahan pakan bagi ternak kambing.

Irwansah menyebut setiap hari bisa memanen sebanyak 10 kilogram buah kakao atau 7 kuintal dalam sepekan. Sebagian kulit kakao hasil pemecahan buah akan dikumpulkan untuk disortir yang layak untuk pakan. Kulit dicacah serta dimasukkan dalam ember khusus agar mudah diberikan pada ternak kambing.

“Saya kerap mencampurkan cacahan kulit kakao bersama suplemen organik cair yang dijual di toko pertanian kadang diganti menggunakan air garam untuk perangsang nafsu makan kambing,” terang Irwansah saat ditemui Cendana News tengah memberikan pakan kulit kakao bagi ternak kambing miliknya, Senin (9/4/2018).

Potensi kulit kakao bisa menjadi alternatif pakan memiliki dampak positif untuk pertumbuhan ternak. Kulit kakao bisa menjadi sumber asupan gizi bagi hewan ruminansia (pemamah biak) tersebut. Pemberian tetap diselingi dan dicampur dengan pakan hijauan dari rumput gajahan serta rumput rambat dari kebun.

Integrasi kakao dan kambing selama lima tahun diakuinya bahkan cukup berhasil. Kambing yang dibeli dengan harga Rp700ribu untuk bibit usia tujuh bulan bisa dijualnya dengan harga Rp1,4juta usia setahun bahkan lebih saat hari raya.

Selain dijual dengan tujuan penggemukan untuk kambing jantan, kambing betina miliknya dipergunakan untuk pembibitan. Bermula dari empat ekor kini ia sudah memiliki sebanyak sembilan ekor.

Selain memanfaatkan hasil kulit kakao, masa awal panen kakao disebutnya memiliki harga yang cukup bagus. Per kilogram kakao kering pasca dijemur satu hari dibeli pengepul seharga Rp22ribu dan kering empat hari bisa mencapai Rp33ribu.

Harga akan semakin tinggi saat puncak musim panen kakao yang diprediksi memasuki bulan Juli mendatang.

Selain bagi ternak kambing,integrasi kakao dan ternak juga diterapkan pada sapi dengan sistem kakao sapi (siskapi). Alpen (40) salah satu pemilik enam ekor sapi jenis limousin memanfaatkan sebagai asupan tambahan pakan. Pakan utama berupa hijauan rumput gajah, jerami dan suplemen organik cair disebutnya merangsang pertumbuhan sapi.

Kulit kakao
Kulit kakao yang sudah dicacah diberi air garam untuk tambahan pakan ternak kambing [Foto: Henk Widi]
Pemberian pakan kulit kakao diakuinya dicampur dengan pakan ampas tahu, dedak dan suplemen organik cair. Hasilnya pertumbuhan dan perkembangan ternak sapinya cukup baik dan dirinya bisa melakukan efesiensi.

Siklus pemberian pakan berselang dilakukan dalam sepekan dengan pakan buatan, pakan hijauan dan kreasi dari kulit kakao.

Potensi integrasi kebun kakao dan ternak sapi disebutnya telah memberi keuntungan ekonomis. Harga bibit sapi usia delapan bulan seharga Rp15juta bahkan bisa dijual saat usia dua tahun seharga Rp23juta bahkan lebih menyesuaikan bobot dan kondisi ternak sapi. P

ermintaan daging sapi terutama saat hari raya kurban membuat usaha ternak sapi terintegrasi dengan kebun kakao menjadi investasi menjanjikan baginya.

Lihat juga...