Peminat Budidayakan Ikan Kerapu di Sumbar Cukup Banyak
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
PADANG — Menjalani usaha budidaya ikan kerapu ternyata cukup banyak peminatnya di Provinsi Sumetera Barat. Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat mencatat ada sebanyak 300 nelayan yang tersebar di empat daerah yang melakukannya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat, Yosmeri mengatakan, empat daerah yang melakukan yakni di Kabupanten Pesisir Selatan, Pasaman Barat, Kepulauan Mentawai, dan sebagian kecil ada di Kota Padang dan Kota Pariaman.
“Budidaya ikan kerapu di Sumatera Barat ini cukup banyak. Dari catatan di Dinas Kalautan Perikanan ada sekira 1.500 petak dengan jumlah pembudidaya mencapai 300 orang,” katanya, Senin (9/4/2018).
Ia menyebutkan ikan kerapu yang banyak dibudidaya itu merupakan jenis cantik yaitu blasteran kerapu cantrang dan batik. Untuk jenis kerapuh batik ini, waktu panennya bisa mencapai 14 bulan.
Memang sebuah waktu yang lama untuk memanen ikan kerapu yang dibudidaya di dalam kerambah tersebut, tapi soal penghasilan nelayan yang memanennya, cukup menggiurkan.
“Secara umum produksi perikanan budi daya di Sumatera Barat ditargetkan bisa mencapai 257.809 ton pada tahun 2018 ini,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang nelayan pembudidaya ikan kerapu di Sungai Nipah, Kabupaten Pesisir Selatan, Ujang mengatakan, cukup banyak kerambah yang ada di Sungai Nipah.
Setidaknya ada sekira puluhan petak kerambah di kawasan pantai daerah Sungai Nipah. Alasan masyarakat setempat melakukan budidaya, karena harga yang menggiurkan.
“Harga ikan kerapu per kg saat ini mencapai Rp150.000. Terkadang untuk satu ekor ikan mencapai berat 1 kg,” ujarnya.
Ia menjelaskan untuk satu petak kerambah itu terdapat 30 ekor bibitu. Apabila dihitung hingga masa panen yang mencapai 1,5 tahun, untuk satu petak keramba itu ada bisa mendapatkan 20 ekor dengan berat masing-masing ikan mencapai 1 kg.
Artinya, jika dikakulasikan apabila satu orang memiliki 10 petak kerambah. Maka apabila setiap panennya, nelayan mendapatkan penghasilan mencapai Rp20 juta.
“Memang agak lama, tapi saat memanennya akan mendapatkan penghasilan yang menggiurkan. Hanya saja, membudidaya ikan kerapu tidak bisa dijadikan mata pencarian utama, karena waktu panen yang lama itu,” pengakuannya.