Probosutedjo Abdikan Diri untuk Kemajuan Bangsa, Negara dan Lingkungan
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
YOGYAKARTA — Selain berkepribadian sederhana, sosok almarhum Probosutedjo juga dikenal sebagai seorang yang selalu mengabdikan hidupnya untuk kemajuan bangsa, negara serta lingkungan di sekitarnya.
Menurut keponakan sekaligus anak angkat Probosutedjo, Cahyo Gunawan, semasa hidup almarhum telah berjasa besar bagi kemajuan dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul yang merupakan tempat kelahirannya.
“Beliau sangat menaruh perhatian besar pada dusun Kemusuk ini. Salah satunya di bidang pendidikan, dimana beliau telah membangun sekolah mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, hingga universitas di sini. Setelah semua sekolah jadi dan berkembang, langsung beliau serahkan kepada pemerintah,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan keponakan Probosutedjo lainnya, Aryo Winoto. Ia menyebut almarhum merupakan sosok guru bagi anak-anak maupun keponakannya dan cucu-cucunya. Dimana almarhum selalu mengajarkan untuk selalu menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi dalam hidup.
“Beliau selalu menanamkan kepada kita agar memiliki jiwa untuk maju. Baik itu memajukan desa, bangsa maupun negara,” katanya.
Tak hanya itu almarhum dikatakan Aryo juga kerap mengingatkan anak-anak maupun keponakan dan cucunya agar selalu memiliki kejujuran dan kesederhanaan dalam menjalani hidup.
“Beliau sering mengingatkan kita agar memiliki kejujuran dan kesederhanaan di dalam keluarga,” katanya.
Tak hanya itu saja, semasa hidup, Almarhum Probosutedjo ternyata juga sangat menyukai warna biru tua serta makanan khas Yogyakarta yakni sayur lodeh.
“Saat berada di Kemusuk beliau sangat suka makan dengan sayur lodeh,” ujar Cahyo Gunawan.

Menurut Cahyo, Almarhum Probosutedjo juga sangat menyukai warna biru tua. Hal itu dibuktikan dengan didominasi corak warna biru tua di sejumlah bangunan rumah milik almarhum yang berada di dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul.
Baik itu di rumah almarhum yang kini menjadi lokasi rumah duka, maupun corak warna pada Moseum Memorial HM Soeharto yang didirikannya.
“Beliau menyukai warna biru tua karena memiliki makna dalam. Kalau di langit, biru tua itu sangat tinggi dan kalau di laut biru tua itu sangat dalam. Memang beliau itu sangat menyukai kedalaman sesuatu,” katanya.
Bagi Cahyo sendiri, sosok almarhum Probosutedjo merupakan sosok yang sangat penting dalam hidupnya. Pasalnya pasca ayahnya meninggal, ia langsung dijadikan sebagai anak angkat Probosutedjo.
“Saat ayah saya meninggal, beliau langsung memanggil saya dan bilang : ‘kamu gak usah sedih, sekarang saya jadi pengganti ayahmu’. Itu sangat membekas di hati saya dan tak bisa saya lupakan sampai sekarang,” katanya sambil menahan air mata.