Embung Payo Rapuih Kembali Digenangi Air

Editor: Irvan Syafari

Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V Maryadi Utama-Foto: M. Noli Hendra

PADANG — Embung yang ada di jorong Payo Rapuih, Nagari Batipuah Baruah, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, yang sebelumnya mengering, kini telah digenangi air.

Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V Maryadi Utama mengatakan, pihaknya telah turun langsung ke lokasi embung untuk mengetahui pasti persoalan mengeringnya embung tersebut.

Bahkan kini ketinggian air di dalam embung itu telah mencapai satu meter lebih. Air yang masuk ke dalam embung itu, salah satunya didapat dari aliran air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) di daerah tersebut.

“Dulu setelah Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit datang ke sana. Kita di Balai Sungai langsung merespon, dan melihat kondisi di lapangan,” katanya, ketika ditemui di acara Peringatan Hari Air Dunia XXVI 2018 di Kantor Balai Wilayah Sungai Sumatera V, Padang, Kamis (22/3/2018).

Sementara itu, Satuan Kerja Pelaksana Jaringan Sumber Air (Satker PJSA) IAKR Balai Sungai Wilayah Sumatera V Ali Ahmad mengatakan ketika Satker PJSA turun ke lokasi embung yang ada di Payo Rapuih itu, tidak ditemukan adanya penimbunan mata air dalam pengerjaan embung.

Penyebab embung itu kering, karena kecilnya sumber mata air yang ada di kawasan embung tersebut. Untuk memberikan sumber air tambahkan, Satker PJSA melakukan pengambilan air dari air PDAM dan penggunaan air di tempat masjid yang di tepi embung tersebut.

“Persoalan ini sudah selesai menjelang akhir 2017 kemarin, dan kini embungnya sudah digenangi air,” ucapnya.

Ketinggian air yang ada di dalam embung itu telah mencapai satu meter lebih. Dengan kondisi demikian, masyarakat sekitar telah dapat memanfaatkan air yang bersumber dari embung tersebut.

Embung Payo Rapuih ini memiliki luas genangan air 2,34 hektare dengan volume tampungan 46.900 M3. Embung itu dibangun dengan tujuan dapat dimanfaatkan untuk konservasi, irigasi, air baku, perikanan dan pariwisata.

Sebelumnya, salah seorang warga di Payo Mihibul Tibri mengatakan, dulu sebelum dibangunnya embung tersebut, lokasi embung ini dulunya adalah telaga. Dengan ketinggian air mencapai satu meter. Di dalamnya, dilepaskan ikan larangan yang dimanfaatkan untuk pembangunan Masjid Darussalam Payo, yang tepat berada di pinggir embung.

Namun, setelah dibangunnya embung, hanya terdapat sekitar 5 titik dalam lokasi embung yang digenangi air. Itupun sekedarnya saja, dengan tinggi kegenangan berkisar dari 5 cm hingga 45 cm. Selebihnya, kering kerontang. Terutama yang berada sekitar pinggiran embung.

Kini persoalan itu telah selesai, dan air yang ada di embung itu telah bisa memberikan sejumlah manfaat bagi masyarakat setempat.

Lihat juga...