Tantangan Membuat Lelucon di Tengah Zaman Edan
Editor: Satmoko
JAKARTA – Agus Noor termasuk penulis lakon handal yang begitu produktif dalam membuat karya. Ia memang dikenal selalu kritis menyikapi keadaan dan situasi negeri ini. Dalam pertunjukan Romantisme dan Kegilaan Agus Noor, ia selalu merasa tertantang untuk membuat orang tertawa ketika situasi bahkan sudah begitu menekan.
“Konsep acaranya untuk menghibur diri dari kegilaan,” kata Agus Noor kepada Cendana News seusai pertunjukan Romantisme dan Kegilaan Agus Noor di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, beberapa waktu yang lalu.
Lebih lanjut, penulis lakon handal kelahiran Tegal itu menerangkan, “Saya pengin cari kontras saja, setelah teman-teman lihat ada dua paradoks tentang hal-hal yang ganjil, gila dan surealis, tetapi juga bisa dilihat dari sisi romantis dari karya saya. Mereka, para pembaca, mencoba menafsir, memilih dan membacakan bagaimana romantisme dan kegilaan bercampur aduk. Paradoks-paradoks yang ditampilkan,“ imbuhnya.
Menurut Agus, kita hidup dalam situasi politik yang ganjil. Seperti cinta yang sulit dipahami.
“Kayak menasehati orang gila jauh lebih mudah daripada menasehati orang jatuh cinta,“ ungkapnya.
Sebagai kreator, Agus Noor tak kering ide-idenya dan selalu produktif membuat karya. “Kalau pementasan ini diangkat dari buku ‘Lelucon Para Koruptor’ yang sangat politis, saya ingin setelah ini membuat buku yang romantis, yang tema-tema cinta, yang baper-baperlah, nyari duitlah,“ bebernya.
Agus Noor menyampaikan bahwa kita dalam situasi yang gila, yang ganjil, hukum yang terbolak-balik, logika yang terbolak-balik.
“Mana yang edan, mana yang nggak edan, sulit bedanya, karena kita mungkin juga edan. Orang edan butuh orang lain untuk mengerti bahwa kita edan. Bangsa ini nggak bisa selamat karena tidak ada yang tidak edan. Mungkin justru selamat kalau kita edan semua,“ selorohnya.
Setiap menggarap tema ia mengadakan riset. “Membaca, mendengarkan orang bicara, bertanya dan lain sebagainya,“ ujarnya.
Tantangan Agus Noor dalam pementasan ini adalah juga membuat lelucon yang membuat orang tetap bisa tertawa ketika situasi sudah begitu lucu. Tawa tak henti. “Saya tidak yakin kalau lelucon-lelucon saya itu masih bisa membuat orang tertawa. Itu menjadi kecemasan tersendiri. Tantangan lainnya menemukan dan mengolah berbagai lelucon yang ada di masyarakat untuk ditafsir dan kemudian memberi konteks dalam kekinian,” ujarnya.
Agus Noor optimis pada masa depan Indonesia yang lebih baik.
“Kan masih banyak orang yang baik. Saya percaya akal sehat. Satu fase yang memang harus dilalui bangsa ini untuk membenturkan sentimen-sentimen primodialisme dan nasionalisme, sentimen-sentimen agama dan sekulerisme itu memang harus dibenturkan agar terjadi dialektika. Fase itu memang harus dialami agar kita menjadi bangsa yang kritis,“ tegasnya.
Obsesi Agus Noor sedang menyelesaikan novel “Sindikat Pemalsu Kenangan”. Masalahnya ia kadang malas dan jenuh. Untuk mengatasi kejenuhan ia melakukan banyak hal.
“Menulis itu seperti bercinta dengan berbagai gaya agar tidak terjadi kejenuhan,“ tandasnya.