Tangkapan Nelayan Minim, Pedagang Ikan Sulit Peroleh Pasokan
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Hasil tangkapan sejumlah nelayan pesisir yang berlabuh di tempat pelelangan ikan dermaga Bom Kalianda Lampung Selatan mengalami penurunan sejak tiga pekan terakhir. Alhasil pasokan ikan laut segar menjadi terbatas akibat hasil tangkapan minim dampak dari angin barat yang melanda wilayah perairan Kalianda.
Kondisi tersebut diakui oleh Sumini (50) pedagang ikan di pasar ikan higienis Kalianda yang kesulitan memenuhi kebutuhan ikan jenis tertentu.
Sumini mengungkapkan dalam kondisi nelayan mendapatkan ikan dalam jumlah banyak (halong) dirinya kerap bisa membeli ikan melalui proses lelang dengan jumlah 50 hingga 100 kilogram per hari.
Namun tiga pekan terakhir dirinya hanya bisa membeli maksimal 50 kilogram ikan berbagai jenis bahkan harus bersaing dengan peserta lelang lain yang rata-rata merupakan pedagang ikan keliling serta pedagang ikan di pasar ikan.
“Kelangkaan ikan memang bisa dilihat dari minimnya nelayan yang mendarat di dermaga hingga proses lelang. Biasanya ada sekitar sepuluh baris ikan yang dilelang sekarang hanya maksimal enam baris,” terang Sumini, salah satu pedagang ikan yang tengah melakukan transaksi pelelangan ikan di tempat pelelangan ikan dermaga bom Kalianda, Senin (5/2/2018).

Hal tersebut diakui Udin, salah satu petugas lelang di TPI Kalianda, yang menyebut dalam kondisi pasokan ikan membaik dalam sehari proses pelelangan ikan bisa mencapai sebanyak tiga ton ikan. Namun dalam beberapa pekan ikan yang dilelang maksimal hanya dua ton.
Selain faktor cuaca yang masih belum mendukung untuk kegiatan melaut, Udin menyebut, sebagian nelayan bagan congkel yang kerap mendarat di Kalianda melakukan proses ngebabang atau tradisi pulang kampung di antaranya ke wilayah Banten dan sebagian ke Lampung Timur, selama kondisi cuaca tidak bersahabat. Imbasnya, hasil ikan yang biasanya didaratkan di TPI Kalianda berkurang dibandingkan sebelumnya.
“Kondisi akan normal kembali jika cuaca membaik dan nelayan yang ngebabang atau pulang kampung sudah kembali ke Kalianda,” terang Udin.
Dampak kelangkaan ikan tersebut, sejumlah ikan bahkan disebutnya tidak bisa ditemui dalam jumlah banyak di antaranya jenis cumi cumi, rajungan, tongkol, manyung dan selar. Kenaikan harga ikan diakuinya terjadi pada ikan Selar yang semula dijual Rp15.000 kini dijual dengan harga Rp20.000. Ikan Tongkol naik menjadi Rp40.000 per kilogram yang biasanya Rp30.000, ikan ekor kuning Rp30.000 dari biasanya seharga Rp25.000. Serta sejumlah ikan lain yang rata-rata mengalami kenaikan sebesar Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram.
Para pelele atau pedagang ikan keliling yang mengikuti proses pelelangan, selain Sumini di antaranya Yati (30) menyebut, terpaksa harus membeli ikan laut segar dalam jumlah terbatas dengan maksimal sekitar 40 kilogram ikan. Yati bahkan melengkapi dagangan ikan miliknya dengan ikan air tawar berupa ikan patin, gurame, nila dan ikan emas.
Ikan air tawar disebutnya masih stabil dijual di antaranya jenis ikan patin Rp22.000 hingga Rp24.000 per kilogram, ikan gurame dijual Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram, nila dijual dengan harga Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram.
Ikan air tawar yang dijual keliling dengan motor tersebut diakuinya selain diperoleh dari hasil budidaya ikan air tawar yang ada di Palas, sebagian merupakan ikan air tawar dari wilayah Cianjur Jawa Barat yang dijual oleh para pengepul ikan air tawar di Kalianda.