Musim Hujan Pengaruhi Kualitas Panen Bawang Merah
Editor: Satmoko
BALIKPAPAN – Musim penghujan yang terjadi selama beberapa pekan mempengaruhi kualitas bawang merah yang ditanam petani di Kota Balikpapan. Hal itu terlihat dari kualitas yang dihasilkan kurang bagus akibat musim penghujan.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Balikpapan, Yosmianto menjelaskan, akibat hujan yang terjadi terus menerus menyebabkan kualitas panen bawang merah.
“Kualitas bawang merah kita lagi tidak bagus karena hujan terus. Bukan soal itu saja harga bawang juga sedang rendah di tingkat petani dengan harga jual Rp15-17 ribu,” terangnya Senin (12/2/2018).
Padahal hasil pertanian komoditas bawang merah yang dihasilkan petani Balikpapan saat ini mengalami pertumbuhan setiap tahun. Hasil produksi bawang merah per hektare mencapai 20-21 ton, dari sebelumnya hanya mencapai 10-12 ton per hektare.
“Meski belum memenuhi kebutuhan untuk masyarakat Balikpapan, tapi ada peningkatan dalam penanaman. Ditambah Bank Indonesia Balikpapan juga melakukan pelatihan dan pembinaan pada sebagian petani di Balikpapan dalam budidaya bawang merah,” papar Yosmianto.

Persoalan yang ditemui pada harga yang turun pada masa panen tiba, pihaknya mengatakan masih mencari pola penjualan yang tepat untuk para petani agar harga juga tidak terlalu anjlok.
“Petani kita belum terbiasa jual langsung, sekarang kita lagi upayakan membantu untuk mencari pola yang tepat,” pungkasnya.
Adapun pola yang akan diarahkan dengan menjual hasil panen bawang merah melalui pasar tani atau bekerjasama dengan Perum Bulog.
“Memang penjualan masih agak seret, masih dicari polanya. Arahnya jual lewat pasar tani atau kerja sama dengan Bulog,” sebut pria yang akrab disapa Yos.
Dalam penanaman bawang merah, menurutnya, kendala yang ditemui juga pengadaan bibit untuk penanaman. Dari pengadaan bibit yang dikelola oleh petani masih belum memenuhi kebutuhan bibit bawang merah untuk petani sendiri.
“Pengadaan bibit yang dikelola petani masih jauh banget dari kebutuhan bibit. Kebutuhan bibit per hektare itu sekitar 1 ton, kalau kurang yang pasok dari luar daerah,” tandas Yos.
Sementara itu, sebagian petani yang dibina oleh Bank Indonesia Balikpapan memiliki kewajiban dari hasil panen yang dihasilkan 50 persen untuk bibit. Sedangkan melalui APBN, 30 persen hasil panen diperuntukkan bibit.
Sebelumnya, sejumlah petani di Balikpapan optimis melalui pelatihan yang dilaksanakan hasil panen akan memperoleh kualitas yang lebih baik dan pengadaan bibit untuk petani dapat dipenuhi di kota sendiri.
