TAK sepenuhnya aku percaya, bahwa cinta dari mata turun ke hati. Sudah dua belas tahun aku hidup denganmu, Maryam. Meski mata kita tak melihat, tapi cinta sudah di hati. Itulah sebabnya aku tak percaya pepatah itu. Kau-aku, satu sama lain tak tahu seperti apa gerangan wajah kita. Jangankan untuk melihat wajah pasangan, wajah sendiri tak pernah tahu.
Aku tak percaya pepatah “kecantikan membawa cinta”, sebab meski aku tak melihat kecantikanmu, cinta tetap ada. Aku juga tak percaya pepatah, “cinta membawa kecantikan,” karena meski aku sepenuh hati mencintaimu, kau tak pernah menampakkan kecantikanmu padaku. Air mataku ricik susuri pelupuk, meluas dingin ke pipi. Kuelus dada yang di dalamnya penuh kerat dan sayatan nasib. Tapi, tak baik untuk ditangisi. Syukur, kita sudah bisa berdua begini, Maryam. Bercakap, tertawa, besentuhan dan berpelukan—sepasang tunanetra yang menampung cinta untuk sebuah cita-cita.
Aku dan kamu, Maryam. Tak perlu repot memasang cermin di tembok rumah. Tak perlu mengamati tingkat kekenyalan kulit wajah dan mengecek perubahan wajah kita dari masa ke masa sebagaimana orang normal itu. Karena wajahmu bagiku, dan wajahku bagimu, akan tetap seperti ini, tak akan kelihatan muda dan tak akan kelihatan tua. Ditutupnya mata kita adalah ditutupnya jalan ke arah perselingkuhan. Bagiku, tak ada perempuan selain kamu.
“Rahim! Maryam! Jagalah rumah tangga kalian dengan rasa cinta, kasih dan kesetiaan. Tabahlah pada setiap rintangan. Iringi setiap keinginan dan usahamu dengan doa. Pasti Allah akan melimpahkan keindahan dan kekuatan bagi rumah tangga kalian,” pesan almarhumah ibu kepada kita dahulu kala, usai akad nikah. Kita lantas hanya bisa saling raba, aku meraba pipimu dan kau mencium tanganku, lalu kita saling berpegang tangan di depan ayah dan ibu kita.
“Benar apa yang dikatakan Ibu Lutfa, Nak!. Doa dan ketabahan adalah modal meraih kemenangan,” sambung ayahmu yang suaranya kudengar sekitar setengah meter di sampingku. Aku hanya bisa mengangguk dan entah kamu, sedang telapak tangan kita terus erat berpegangan, hangat dan lembut. Lalu suara piring para tamu berdentingan, orang tua kita menyila undangan untuk makan dengan hidangan seadanya, ukuran hidangan dari keluarga miskin. Sedang kita diapit menuju kamar. Sound system kecil saat itu berhentak-menggema dengan lagu pangantan anyar.
Beruntung orang tuaku dan orang tuamu punya cara terbaik untuk membahagiakan anaknya yang tunanetra ini. Kau dan aku yang sama-sama buta, oleh mereka dinikahkan demi mencicip nikmat kebersamaan dalam keluarga, sebagaimana yang dirasakan orang-orang normal.
***
“Mas Rahim!”
Kau pegang tanganku dengan lembut. Lantas kita menempuh jalan pedusunan yang berbatu dan berliku. Angin mengipas rambut kita, hingga bisa kuhirup aroma jeruk nipis dari rambutmu sehabis keramas jelang Subuh.
Di jalan ini, ketukan suara ujung tongkatmu terus kudengar, seperti mengiringi kita dengan doa-doa. Sesekali kita kesandung atau menerabas semak perdu. Matahari menyapa dengan sentuh cahaya jingga, bagai urai benang halus dan hangat, dan orang-orang juga menyapa entah suka atau sebaliknya.
Jalan ini terlanjur kuhafal, tentu setelah tiga kali tikungan dan satu jembatan, selepas lewati dua pohon kersen, kita akan sampai di pintu masuk Pasar Anom Baru Sumenep. Duduk beralas sarung bekas, seraya kita sediakan sebuah mangkuk dan tangan kita menengadah pada orang-orang yang lewat sambil mengangkat tangan, mengemis kepada siapa pun yang punya hati. Setiap bunyi uang recehan yang jatuh ke mangkuk adalah penyemangat hidup kita. Kita tersenyum dan berterima kasih. Tak usai menyeka keringat yang cucur, sambil membuka payung ketika terik sudah menjilat kulit.
Jika duduk sudah terlalu lama, pantat kita akan sakit, maka kau dan aku berjalan dari lapak ke lapak, dari kios ke kios, meraba-raba jalan dengan tongkat kayu. Menghirup aroma kue dan masakan lain, dan cukuplah kita bersyukur dengan menelan ludah getir hingga ke tenggorokan—karena tak mampu membeli makanan itu, dan air liur kita memang sudah biasa menoreh garis-garis luka di dalam dada.
Seperti biasa, kita pulang seusai Salat Asar di musala pasar, memanggul buntalan kantong berisi sarung, payung, kain bekas, mangkuk dan barang-barang lain perlengkapan mengemis. Suatu waktu, di tengah jalan, sambil kau gerakkan tongkat kayu, tanganmu hangat menempel di lengan. Sejenak kau beri aba-aba untuk berhenti. Kau menyentuhkan uang hasil mengemis yang ada dalam plastik itu ke telapak tangan, seolah ingin memberikannya kepadaku.
“Kau ingin beli apa untuk makan malam?” tanyamu dengan embus udara bau kretek.
“Cukup terasi dan ikan kering, Mas. Kita harus menyimpan sebagian hasil mengemis ke celengan,” jawabku santun.
“Untuk apa kita harus menyimpan, Dik?” tanyamu dengan nada heran.
“Untuk membangun rumah?”
“Rumah?”
“Iya. Rumah untuk anak kita ini, Mas,” ungkapku padamu. Kutarik tanganmu dan telapakmu kusentuhkan ke perutku yang sedang hamil. Kau mengelus-elus perutku. Sejenak kita diam, hanyut dalam hening, angin menyapa dari tenggara.
“Benar, Dik. Kita memang harus menabung. Cerdas sekali kau!” kau memuji, dan dengan lembut lalu bibirmu mengecup keningku, hingga bekas bibirmu dingin kurasakan.
Sepulang kita mengemis, selalu setiap kaki tapaki jalan yang di tepinya ada bangunan pos ronda, bocah-bocah dan para remaja yang nongkrong di tempat itu meledek kita dengan kata-kata yang menyakitkan. Sudah biasa kita mendengar ocehan-ocehan “Dua pendekar dari gua hantu, pasangan buta, pasangan takut silau, dan ocehan lainnya”. Tapi kita tetap berlalu, menahan rasa sakit, kadang tak terasa ada butir dingin menggelinding dari sudut mata.
***
“Dik Maryam!”
Akhirnya kita bisa mendengar tangis bayi di antara kita. Yang lengking tangisnya lebih indah dari suara biola, lembut mengkidung bisik indah ke telinga, hingga kita selalu tersenyum mendengarnya, walau kadang ia membangunkan tidur kita saat dini hari. Dan kita mesti harus mengganti popok, lalu menimangnya ke halaman hingga ia tidur menjelang Subuh.
Pasti bayi kita yang laki-laki ini wajahnya kian rupawan di bawah sorot cahaya bulan. Tapi, ah! seperti apa bulan? Seperti apa bayi kita?. Kita tidak tahu, kita hanya menduga-duga, karena yang sepenuhnya milik orang tunanetra hanyalah kegelapan.
Sejak bayi kita lahir, kegiatan mengemis henti total. Setiap hari kau harus membuka gembok celengan dan mengambil uang yang ada untuk belanja. Kuraba celengan karet yang kau taruh di atas lemari itu, dan kuguncang-guncang, isinya seperti hanya tersisa di bagian dasar, pertanda uang tabungan sudah menipis.
“Keindahan tak selamanya hanya milik orang yang bisa melihat,” katamu suatu ketika, saat kita sedang menyuapi bayi kita di halaman. Aku tersenyum, tangan masih tak henti mengelus rambut bayi kita, ia sesekali merengek, tapi kadang seperti tertawa.
“Semoga kebahagiaan ini abadi,“ sambungku renyah.
“Amin. Semoga bayi kita ini tak malu punya orang tua seperti kita,” kau menyela.
“Iya. Semoga demikian. Bayi ini oleh Allah ditakdirkan lahir di tengah-tengah kita, berarti bayi ini adalah manusia tangguh yang akan turut membantu memikul nasib kedua orang tuanya yang tak melihat ini,” ucapku dengan napas yang dalam. Kau tak menjawab sesuara pun, hanya deru napas membingkai geletar angin, mungkin kau menjawabnya dengan senyum, tapi aku tak pernah tahu seperti apa senyum manismu itu.
***
“Mas Rahim!”
Di usianya yang tujuh tahun ini, sepulang belajar di TK, anak kita, Rahman, tak pernah lelah menuntun kita dengan tongkat tua yang ia pegang bagian ujungnya yang rapuh. Lewati jalan dusun, menyusur liku jalan berbatu, yang kadang menanjak dan menurun, melintasi jembatan bambu, tapaki jalan beraroma gula siwalan, lintasi sawah becek yang di tepinya melentang parit, hingga kita menyeberang dengan tertatih-tatih. Terik panas atau guyuran hujan sudah biasa menjadi santapan kita setiap hari. Tapi Rahman tak pernah mengeluh.
Rahman menuntun kita ke pemukiman padat penduduk, seperti biasa, untuk mengemis, mengetuk hati orang dari rumah ke rumah. Dan seperti biasa pula, dua kemungkinan yang akan kita dapatkan, kalau bukan uang, makanan atau kata maaf, pasti cemoohan dan ocehan. Saat kita dapat ocehan, air mataku rintik, kuelus kepala Rahman dengan lembut.
“Sabar ya, Nak. Hidupmu jadi harus begini karena punya orang tua seperti aku dan ayahmu,” suaraku dibelah isak.
“Rahman sabar kok, Bu. Rahman nanti kan mau dibelikan sepeda setelah uang kita banyak,” suara Rahman tegas, melambung ke sudut dadaku yang sepi.
Kita memang berjanji kepada Rahman, kalau ia akan dibelikan sepeda—seperti punya teman-temannya—bila celengan sudah berisi.
***
“Dik Maryam!”
Tibalah suatu pagi, petir menyentak-nyentak, dan mendung melinang pupuran gerimis halus. Aku, kau dan Rahman sama-sama menangis, semalam pencuri telah membawa celengan kesayangan kita yang sedianya akan digunakan untuk membeli sepeda Rahman.
Tangis Rahman memekik, seperti mata jarum menusuk-nusuk gendang telinga. Ia menepuk-nepuk pahaku atau kadang lari kepadamu, lalu berguling-guling di lantai. Jika mata kita bisa melihat, mungkin inilah di antara pemandangan terburuk dalam hidup kita. Para tetangga dan kerabat berdatangan ke rumah kita. Larut dalam duka orang buta.
Sore hari, setelah tak ada lagi tamu-tamu, Rahman mengajak kita jalan-jalan. Kita pun menurutinya. Menempuh jalan yang begitu jauh. Azan Maghrib berkumandang, dingin suhu mencucup kulit. Rahman menuntun kita entah di jalan apa, kita menurut saja, yang penting ia tidak menangis.
“Jalan ini menuju ke mana, Mas?” tanyamu berbisik.
“Jalan ini menuju surga, Dik,” jawabku mantap. ***
Catatan:
Pangantan anyar adalah judul lagu berbahasa Madura yang bermakna pengantin baru.
A Warits Rovi. Lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel pernah dimuat di berbagai media nasional dan lokal antara lain: Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Esquire, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Majalah FEMINA, Tabloid Nova, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Bali Post, dan lain-lain. Ia juga Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura Madura. Berdomisili di Sumenep.
Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Karya orisinil, belum pernah tayang di media online maupun cetak dan juga buku. Kirim naskah ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.