MOGADISHU – Tentara Somalia menyerbu sebuah sekolah yang dikelola kelompok al Shabaab pada Kamis (18/1/2018) malam. Pihak berwenang Somalia menyebut, 32 anak-anak diselamatkan dari rekrutan kelompok gerilyawan tersebut.
Menteri Penerangan Somalia Abdirahman Omar Osman menyebut, kelompok al Shabaab merekrut anak-anak untuk ideologis pelintiran yang dijalani. “Ke-32 anak-anak itu aman dan pemerintah merawat mereka. Sangat disayangkan bahwa teroris merekrut anak-anak untuk ideologi pelintiran mereka,” kata Omar Osman, Jumat (19/1/2018).
Pelibatan anak-anak disebut Omar Osman sebagai fakta bahwa kelompok yang disebutnya sebagai teroris tersebut sedang dalam kondisi putus asa. Hal itu dipengaruhi oleh kekalahan dalam perang pernyataan menolak terorisme. Dan semakin banyak orang yang menolak terorisme.
Al Shabaab mengatakan pasukan pemerintah, yang didampingi pesawat tanpa awak, menyerang sekolah tersebut di wilayah Shabelle Tengah. Dikatakannya, empat anak-anak dan seorang guru terbunuh karena serangan tersebut. Sementara pemerintah Somalia tidak memberikan komentar dan konfirmasi atas laporan adanya korban jiwa atau penggunaan pesawat tak berawak.
“Mereka menculik sisa siswa. Human Rights Watch bertanggung jawab atas kematian siswa dan guru mereka karena menunjukkan keberadaan mereka,” kata Juru bicara militer Al Shabaab Abdiasis Abu Musab.
Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan minggu ini, kelompok pembela HAM yang berbasis di New York Human Rights Watch mengatakan, sejak September 2017, al Shabaab telah memerintahkan para tetua desa, guru di sekolah agama, dan masyarakat pedesaan untuk menyerahkan ratusan anak berusia delapan tahun.
Milisi Al Shabaab yang terhubung dengan al Qaida berjuang untuk menggulingkan pemerintah Somalia yang didukung PBB. Mereka disebut menetapkan peraturannya sendiri berdasarkan interpretasi yang ketat terhadap hukum syariah Islam.
Somalia telah dilanda oleh konflik sejak awal 1990an. Dimulai ketika para panglima perang berbasis klan menggulingkan penguasa otoriter Mohamed Siad Barre sebelum kemudian saling bertempur satu sama lain. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah yang dipimpin oleh pemerintah federal Mogadishu telah muncul.
Pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika yang mendukung pasukan Somalia secara bertahap kembali mengambil alih wilayah wilayah dari gerilyawan. Sebelumnya Human Rights Watch mengatakan bahwa kelompok bersenjata tersebut telah merekrut ribuan anak untuk diindoktrinasi dan menjadi petempur garis depan selama beberapa dasawarsa belakangan.
Sekolah agama pada 2015 ditekan untuk mengajarkan kurikulum al Shabaab. “Kelompok tersebut harus segera berhenti menculik anak-anak dan melepaskan semua anak dari kelompok mereka. Pemerintah Somalia harus memastikan anak-anak ini tidak dilukai,” kata peneliti senior Afrika Human Rights Watch Laetitia Bader.
Sebelumnya, Menteri Perencanaan, Investasi dan Pembangunan Ekonomi Somalia Gamal Hassan mengatakan, bahwa Dia tidak terkejut dengan laporan perekrutan anak yang agresif oleh kelompok tersebut. Dia tidak memberikan tanggapan apapun terhadap bagaimana pihak berwenang melindungi anak-anak dengan lebih baik.
“Al Shabaab terus melakukan kegiatan gelap, tidak bermoral dan melawan hukum kemanusiaan. Saya tidak terkejut mereka melakukan itu. Mereka biasa melakukan itu, dan sekarang mereka terus melakukan itu,” tandas Hassan. (Ant)