Politik Identitas Sunda dan Agama dalam Pilkada Jabar

Rumusan umum para analis politik, siapa pun kelompok partai yang bisa mendapatkan pengaruh suara besar di Jawa Barat, memiliki peluang untuk menjadi Presiden Indonesia.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik Jawa Barat, Provinsi yang paling padat di Indonesia ini, penduduknya berjumlah 47.379.389 jiwa. Jumlah tersebut membuat Pilkada Jawa Barat menjadi terasa istimewa. Pemikiran dan perkataan yang dilontarkan tokoh politik nasional, antara lain SBY, Megawati, Prabowo, dan tokoh politik lainnya, menjadi menarik dicermati. Mereka semua sepakat, Pilkada Jabar, Pilkada Jawa Tengah, maupun Pilkada Jawa Timur, menjadi penentu kemenangan Pilpres 2019.

Sebagai warga Jawa Barat yang sudah tinggal selama delapan tahun, saya sulit memperkirakan hasilnya. Meskipun, setiap hari saya dekat dengan segala aktivitas yang berbau kesundaan dalam aktivitas budaya, mengenal Sunda Wiwitan, mempelajari spiritual kerajaan, dan berbagai wilayah persebaran budaya Sunda. Barangkali, para ahli politik dan analis politik lebih mumpuni membuat prediksi.

Akhir Juni 2018 nanti, masyarakat Jawa Barat akan mencari pemimpin daerah yang baik dan ideal. Bagi saya, dimensi pemikiran politik Jawa Barat saat ini, tidak hanya sekedar Pilkada. Namun, figur pemimpin yang terpilih dalam Pilkada Jawa Barat nanti, akan memiliki dampak atas situasi Pilpres 2019.

Hasil Pilkada akan menghasilkan polarisasi kelompok politik pendukung, kelompok partai yang kalah, partai partisipan, tentu sudah diperhitungkan dan diprediksi.

Yang terlihat sekarang, dalam amatan saya, ada tiga kelompok partai yang dominan. Yaitu dominasi pimpinan Golkar, pimpinan Gerindra, Pimpinan PDIP, Pimpinan Nasdem, dan pimpinan Demokrat.

Demokrat bersama Golkar mengajukan Dedi Mizwar-Dedi Mulyadi, Gerindra bersama PKS mengajukan Sudrajat-Syaikhu, PDIP mengusung TB Hasanudin dan Anton Charlian, sedangkan Nasdem mengusung Ridwan Kamil dan UU.

Jawa Barat, sebagai bagian dari wilayah Jawa, merupakan sebuah wilayah yang memiliki jumlah penduduk beragam. Sehingga, pendekatan politik yang harus dilakukan, juga harus beragam. Jawa Barat bukan wilayah yang didominasi oleh satu kelompok saja. Kelompok masyarakat tersebut, antara lain, akademisi, budayawan, agamawan, pedagang, dan kelompok spiritual.

Tentunya, masyarakat Jawa Barat juga banyak berharap, kelak di kemudian hari ada tokoh putra Jawa Barat yang dapat duduk sebagai Presiden Indonesia. Sosok tersebut akan terlihat, manakala pilkada sudah selesai.

Pada momentum tersebut akan terlihat pemikiran dan kebijaksanaan politik dari pemimpin baru Jabar, dapat dinilai dan disetarakan dengan dimensi pemikiran politik tingkat nasional.

Kriteria Pemimpin Ideal bagi Jawa Barat 

Jika ditilik dari corak kehidupan masyarakat Jawa Barat, ada dua kekuatan hidup yang menjadi dasar, yaitu kebudayaan Sunda dan keimanan atas agama. Bagaimana pun, mayoritas masyarakat Jawa Barat beragama Islam. Satu tokoh muslim yang terkenal di Jawa Barat adalah Aa’Gym.

Apalagi, beberapa wilayah di Jawa Barat disebut kota santri atau daerah santri. Sehingga, keberhasilan kepemimpinan Jawa Barat sangat ditentukan oleh sikap pemimpin dalam menyelaraskan dua kehidupan berbeda dan bertentangan, namun dapat hidup berdampingan dan bersinergi. Bekal wawasan Sunda dan Agama Islam, menjadi faktor penentu dalam membangun politik identitas di Pilkada Jawa Barat.

Kriteria pertama yang layak memimpin Jawa Barat adalah pemimpin yang tidak membuat gaduh. Definisi tidak membuat gaduh, yaitu perilaku yang terkesan semaunya setelah terpilih dalam Pilkada. Pemimpin gaduh selalu lupa dengan janji, tidak peduli dengan kepentingan rakyat, bahkan melecehkan budaya dan adat tradisinya.

Pemimpin Jawa Barat, tentunya tidak perlu menjadi bagian dari situasi politik yang bermasalah, sebagaimana pada kegiatan pilkada DKI, lalu. Rakyat Jawa Barat sangat peduli dengan jalannya proses pemilu, sehingga tidak hanya mengandalkan hasil quick count, melainkan juga mengandalkan data manual yang dihimpun dari seluruh Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Kriteria kedua, menurut saya, seorang pemimpin Jawa Barat harus mampu menjadi bagian dari kelangsungan dan kelestarian wilayah. Bagaimana pun, Jawa Barat yang beribukota di Bandung, menjadi bagian dari masa lalu Indonesia. Jawa Barat menyimpan nilai perjuangan, cagar budaya, ideal untuk pariwisata, memiliki wilayah pegunungan yang asri, serta sejuk hawanya.

Maka, menurut saya, pemimpin Sunda yang dibutuhkan masyarakat Jawa Barat, yaitu pemimpin yang cakrawala berpikirnya Pancasila, bisa mengerti atas dampak situasi luar negeri bagi Sunda, namun bisa berpenampilan Sunda. Seorang pemimpin Jawa Barat yang ideal, harus juga mampu membangun gedung tinggi, namun tanpa menghilangkan cagar budaya dan kearifan lingkungan sekitarnya.

Kriteria ketiga, seorang pemimpin Jawa Barat perlu memiliki konsep ekonomi Sunda. Dalam aras pemikiran saya, konsep ekonomi Jawa Barat perlu dilandasi pemikiran budaya sunda, namun berorientasi pada ekonomi nasional. Sehingga, konsep ekonomi tersebut mampu menjadikan Jawa Barat sebagai bagian dari ekonomi nasional. Karena, wilayah Jawa Barat berbatasan langsung dengan DKI Jakarta yang merupakan pusat kegiatan perekonomian Indonesia. Bagaimana pun, wilayah penyangga pertama DKI Jakarta adalah Sunda atau Jawa Barat, termasuk berbagai kepentingan Jakarta atas Jawa Barat.

Kriteria keempat, pemimpin Jawa Barat harus bisa membangun harmonisasi kehidupan. Sepanjang sejarah Pemerintahan Indonesia, di Jawa Barat belum pernah terjadi ledakan konflik yang menjadi barometer situasi politik nasional. Bahkan, pada 1965, wilayah Jawa Barat dapat terhindar dari konflik Ideologi. Harmonisasi dalam kehidupan masyarakat di Jawa Barat bisa terjaga, karena sangat besar dipengaruhi oleh spiritualitas budaya Kerajaan Sunda.

Kemampuan seorang pemimpin untuk menjaga etika, tata krama, dan penataan diri dalam pergaulan di masyarakat, menjadi sangat menentukan, masyarakat mana yang bisa dipimpin olehnya.

Dalam sejarahnya, Jawa Barat menjadi tempat bagi pemimpin pasukan Mataram yang menetap di wilayah Jawa Barat, baik di jalur selatan maupun jalur utara. Jalur selatan dimulai dari Banjar – Tasik – Garut – Sukabumi – Bogor. Sedangkan jalur utara dimulai dari Cirebon – Indramayu – Purwakarta – Cikampek – Krawang – Bebelan.

Bagi saya pribadi, pemimpin ideal bagi Jawa Barat adalah sosok pemimpin yang memiliki figur yang diharapkan oleh alam dan kehidupan masyarakat Sunda, serta memiliki wawasan nasional. Dalam pandangan saya pribadi, kekuasaan Belanda di wilayah Jawa, khususnya di Jawa Barat, malah bisa diartikan sebagai wujud dari satu bentuk anugerah kehidupan yang dilimpahkan Tuhan kepada Bangsa Indonesia.

Saat itu, Bandung hampir saja menjadi ibu kota Indonesia yang dibangun Belanda dengan sangat indah arsitekturnya. Ketika VOC Belanda membangun kota Bandung, Jawa Barat menjadi satu simbol kebangsaan yang sudah dikenal luas di dunia.

Setelah dibangun oleh VOC, Bandung menjadi kota Indah yang memiliki varian pariwisata, serta kota budaya yang menjadi sumber inspirasi bangsa lain. Saat ini, angklung yang hanya terbuat dari bambu telah menjadi salah satu koleksi alat musik dunia. Jadi, betapa konyol ketika anak-anak muda Sunda justru bangga dengan budaya yang kebarat-baratan!

Dalam Pilkada Jawa Barat 2018 ini, rakyat Jawa Barat berharap, TNI dan POLRI mampu memberikan sikap netral dalam Pilkada. TNI dan POLRI diharapkan bisa membantu menciptakan Pilkada yang sehat, harmonis, serta terhindar dari kegaduhan dalam masyarakat. Dengan kerjasama TNI dan POLRI dalam pengamanan Pilkada Jawa Barat mendatang, tentu akan menghasilkan pemimpin daerah yang baik dan ideal. Agar kehidupan kebangsaan Indonesia dapat harmonis, serasi, selaras, seimbang, serta berkelanjutan, sebagaimana yang sudah berjalan selama ini di Jawa Barat.

Bagi saya, pemimpin yang baik dan ideal tidak harus berpikir baru, lalu melakukan perubahan agar dinilai dan terlihat modern. Jangan sampai pemimpin Jawa Barat justru pemimpin yang melakukan kamulflase dengan dalih pemikiran multi tafsir, mengaku Pancasila, tapi sebenarnya anti Pancasila.

Pemimpin yang baik dan ideal bagi kehidupan Jawa Barat, yaitu pemimpin yang  baik dan cerdas, namun mampu menutupi kekurangan dengan kebaikan dan kelebihannya.

Kita semua menunggu keridhoan Tuhan dalam Pilkada Jawa Barat mendatang.

Eko Ismadi adalah Pengamat Sosial Politik dan Militer

 

Lihat juga...