Bercocok Tanam, Pengisi Waktu yang Menghasilkan Uang
LAMPUNG — Mencintai dunia pertanian dan perkebunan, membuat Ngadirun (66) terus melakukan kegiatan bercocok taman beragam jenis tanaman di lahan miliknya seluas satu hektare.
Ngadirun, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, yang tinggal di Jalan Lintas Sumatera KM 72 tersebut mengaku melakukan penanaman dengan pola multy purpose tree species (MPTS) yang diperolehnya dari kearifan lokal masyarakat Lampung dalam membudidayakan berbagai jenis tanaman.
Sebanyak lima puluh jenis tanaman, dikembangkan di lahan seluas satu hektare, di antaranya sukun, jengkol, kelapa, lada, petai, jambu, kakao, pisang serta puluhan jenis tanaman yang bisa hidup berdampingan tanpa saling mengganggu.
Berbagai tanaman tersebut diakui laki-laki yang hanya lulusan SMP itu merupakan tanaman hasil budi daya peninggalan orang tua, yang sebagian ditanam olehnya sejak masih muda.
“Hasil berbagai tanaman tersebut saya jual ke pasar, terutama jenis kelapa, jengkol, petai, sementara jenis lain dibeli oleh para pengepul, di antaranya kakao dan lada, untuk kebutuhan hidup sehari-hari selain dari hasil sawah,” terang Ngadirun, Senin (22/1/2018).
Selagi tenaganya masih kuat, Ngadirun memanjat setiap pohon kelapa, jengkol dan petai serta jenis tanaman bernilai jual. Seperti tidak mengenal musim, sehingga memberi penghasilan setiap pekan baginya. Beberapa tanaman merupakan jenis buah musiman seperti durian kemuning, keong yang mengalami puncak masa tua pada Januari ini.
Sebagian pohon buah yang mulai berproduksi bahkan harus membutuhkan bantuan anak-anaknya, karena kini dirinya sudah tak mampu lagi memanjat pohon.
Berbagai jenis tanaman buah menghasilkan tersebut mampu memberikan penghasilan sekitar Rp1 juta per pekan, dari kakao, kelapa yang berbuah sepanjang musim. Meski sudah tidak cukup kuat untuk menangani pekerjaan berat dalam mengurus kebun, Ngadirun memutuskan melakukan proses penanaman jenis tanaman yang bisa dikembangkan dengan menggunakan pot yang dikenal dengan tanaman buah dalam pot serta jenis tanaman lain dengan perawatan mudah.
“Sebagian pekarangan saya khususkan untuk menanam buah pepaya california, matoa, nangka mini dengan proses perawatan mudah dan pohon tidak terlalu tinggi, sehingga saya masih bisa memanen tanpa menggunakan alat bantu,” terang Ngadirun.
Beberapa jenis tanaman buah seperti pepaya california, jambu kristal, jambu jamaica, jambu madu deli hijau (MDH) dikembangkan dari hasil pembibitan sebanyak 50 batang dari Pekanbaru Provinsi Riau dan kini mulai berusia empat tahun dan sebagian sudah berproduksi.
Puluhan bibit dengan pengembangan sistem cangkok disebutnya menjadi peluang untuk dijual dalam bentuk tabulampot, dengan memanfaatkan jenis drum bekas dan ban bekas yang dimodifikasi menjadi media tanam.
Tabulampot lengkap dengan pot disebutnya banyak dijual ke pemilik hobi tanaman mini dan berbuah dalam waktu cepat dengan harga per batang Rp50.000 hingga Rp100.000. Pengembangan dengan sistem cangkok disebutnya bisa memperbanyak bibit jambu madu deli hijau dengan indukan langsung didatangkan dari Pekanbaru dan mulai banyak disebar di areal kebun miliknya.
Hobi menanam yang mulai banyak dilakukan masyarakat terutama pemilik lahan terbatas disebutnya memberi peluang untuknya mengisi hari tua. “Saya menyediakan kebun pembibitan sebagai lokasi untuk membuat bibit berbagai jenis tanaman untuk saya tanam sendiri sebagian untuk dijual,” terang Ngadirun.
Selain sebagian tanaman merupakan jenis pohon buah, berbagai tanaman untuk kebutuhan konsumsi juga sengaja ditanam berupa ubi madu, singkong daun keriting, singkong arab untuk dimanfaatkan sebagai sayuran dan konsumsi keluarganya.
Jenis tanaman berfungsi sebagai obat, kata Ngadirun, dominan ditanam di sela berbagai jenis tanaman tersebut, seperti sirih, tapak dewa, kayu putih, kayu manis serta jenis tanaman lain.
“Sebagian lahan yang saya miliki berisi berbagai jenis tanaman dan saya rawat untuk mengisi masa tua saya, karena anak-anak sudah merantau,” terang Ngadirun.
Selain mengisi waktu luang sembari mengurus tanaman perkebunan utama berupa pisang, kakao, kelapa, Ngadirun juga masih sempat melakukan perbanyakan bibit tanaman buah yang didatangkan dari wilayah lain.
Selain memberi manfaat dalam menghijaukan pekarangan, perbanyakan bibit yang sebagian dibeli oleh para kolektor tanaman menjadi sumber penghasilan bagi Ngadirun dan bisa memenuhi kebutuhan sayuran dan buah segar bagi keluarganya.