Peluang Usaha Budidaya Ikan Gabus Menjanjikan

YOGYAKARTA – Ikan Gabus atau biasa disebut ikan Kutuk, merupakan ikan predator yang biasa ditemukan di sungai. Ikan dengan bentuk kepala mirip ular ini ternyata memiliki kandungan minyak Albumin sangat tinggi, yang dikenal sejak lama memiliki khasiat luar biasa untuk pengobatan. 

Tak heran, nilai jual ikan Gabus sangat tinggi, jauh melebihi ikan pada umumnya seperti ikan lele atau ikan nila. Dagingnya yang empuk serta mudah dicerna juga membuat ikan Gabus dapat dinikmati semua kalangan mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga orang tua.

Umi Kartika Sari– Foto: Jatmika H Kusmargana

Sayangnya, dengan segala keunggulannya itu, konsumsi ikan gabus masih banyak disuplai dari tangkapan alam. Belum banyak petani ikan yang memilih terjun menekuni budidaya ikan Gabus sampai saat ini. Peluang bisnis tersebutlah yang ditangkap oleh warga desa Cerme, Panjatan, Kulonprogo Umi Kartika Sari.

Ditemui Cendananews, Senin (15/1/2018), di rumahnya, wanita asal Lampung yang membudidayakan ikan Gabus di lahan pekarangan rumahnya tersebut mengatakan, budidaya ikan kutuk tidak sulit. Sari menuturkan budidaya yang dilakukan hampir sama seperti budidaya ikan air tawar pada umumnya.

Ia mengaku memiliki sebanyak 17 kolam ukuran 3×5 meter yang dibuat dari terpal. Sumber air berasal dari air sumur yang diangkat menggunakan pompa. Sementara sumber makanan hanya memanfaatkan pelet sebagaimana pelet ikan pada umumnya.

“Perlakuannya sama seperti ikan air tawar pada umumnya. Tidak sulit, bisa dengan sistim kolam terpal yang relatif murah. Air menggenang pun tidak masalah. Kalau bisa mengalir akan lebih bagus. Yang penting dari air sumur, jangan dari pam,” katanya.

Untuk proses pemijahan, Sari mengaku memilih ikan indukan yang telah berumur 1,5 tahun. Satu ekor ikan jantan dicampur dengan 4 ekor ikan betina dalam sebuah kolam. Dikatakan tanpa diberikan media, ikan akan melakukan proses pemijahan sendiri.

“Setelah bertelur, tinggal dipindahkan ke kolam lain agar tidak dimakan induknya. Dalam waktu beberapa minggu ikan bisa dijual dalam bentuk bibit. Sedangkan untuk dijual dalam bentuk konsumsi membutuhkan waktu pembesaran sekitar 7 bulan,” jelasnya.

Dari budidaya yang dilakukan, Sari saat ini sudah memiliki sekira 300 lebih petani sebagai mitra kerja. Para petani yang tersebar di DIY dan Jawa Tengah itu biasa mengambil bibit dari Sari untuk kemudian dibersarkan di kolam masing-masing. Setelah siap konsumsi, ikan kemudian diambil kembali oleh Sari, untuk di proses menjadi obat Albumin.

“Untuk bibit ikan Gabus saya jual Rp1000 per ekor ukuran 3-4cm. Dalam sebulan saya bisa produksi sebanyak 25ribu bibit. Dari 25 ribu bibit bisa dihasilkan sekitar 2 ton ikan siap konsumsi dengan harga jual Rp50ribu per kilo,” tandasnya.

Meski telah mampu memproduksi ikan Gabus dalam jumlah cukup banyak, sampai saat ini Sari masih kuwalahan memenuhi kebutuhan ikan gabus untuk diolah menjadi obat minyak Albumin. Sehingga potensi bisnis budidaya ikan Gabus ke depan disebutnya masih terbuka sangat luas.

Lihat juga...