PADANG — Tidak semua barang yang terbuang itu punah begitu saja, ataupun dinilai merusak lingkungan. Serta tidak hina juga bagi orang-orang yang mengutip ataupun menggunakan barang-barang yang terbuang itu, menjadi sebuah kebutuhan diri sekelompok orang.
Mungkin saja, banyak orang yang mengira sampah merupakan suatu hal yang sangat mengganggu lingkungan. Anggapan ini akibat dari tidak adanya kesadaran sebagian masyarakat membuang sampah pada tempatnya.
Padahal apa yang mereka lakukan akan membuat dampak yang buruk, seperti banjir dan bahkan panyakit bagi masyarakat. Tidak banyak juga masyarakat memilih untuk mengumpulkan sampah di lingkungannya lalu membakarnya.
Namun, bagi masyarakat yang tinggal di Kelurahan Pasia Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, memiliki cara untuk memanfaatkan sampah-sampah dari rumah-rumah warga yang kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai nelayan.
Caranya ialah mengumpulkan sampah-sampah yang berupa sampah anorganik, seperti kemasan deterjen, kemasan sachet minuman, pewangi pakaian, dan kemasan susu bayi.
Alasan memilah-milah sampah yang perlu kumpulkan dari rumah ke rumah warga itu, karena nantinya sampah anorganik itu akan di jadi sebuah karijinan yang memiliki nilai jual yang tinggi.
Hal ini dilakukan oleh Lismidiar, seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan istri dari nelayan setempat. Ia mengisi waktu luangnya di rumah sembari menunggu sang suami pulang melaut, dengan melakukan sebuah pekerjaan yang dinilai sangat kreatif, yaitu kerajinan dari sampah anorganik. Berbagai jenis karjinan yang bisa dihasilkan oleh Lismidiar dari sampah-sampah itu, seperti tas jinjing, dompet, dan alas meja.
Sampah-sampah itu diakui Lismidiar didapatkannya setelah mendatangi rumah demi rumah warga di sekitar Kelurahan Pasia Nan Tigo. Biasanya Lismidiar mendatangi rumah demi rumah warga dengan rentang waktu dua hingga satu kali sepekan.
Mengingat sampah-sampah yang dicarinya itu ialah sampah anorganik, maka hanya sedikit jenis kemasan sampah anorganik yang dikumpulkannya.
“Untuk mengumpulkan sampah-sampah terkadang ada ibu-ibunya yang kasih, kadang-kadang mereka bilang tidak ada. Bagi saya itu hal yang wajar, namanya juga lagi mencari. Tapi, meski saya mendatangi langsung rumah demi rumah warga, tak jarang juga ada warga yang malah menghantarkan langsung sampah-sampah kemasan itu ke rumah saya,” ucapnya, Rabu (10/1/2018).
Dengan telah mendapatkan sampah-sampah yang dinilai banyak orang tidak bernilai itu, Lismidiar pun memulai mengerjakan kerajinannya dari sampah-sampah yang didapatkannya itu.
Warna dan desain kemasan sangat menentukan kecantikan dari kerajinan yang dihasilkan tersebut. Untuk melakukan kerajinan itu Lismidiar turut dibantu oleh sejumlah ibu-ibu rumah tangga yang ada di dekat rumahnya.
Ia menyebutkan, setiap jenis kemasan memiliki hasil kerajinan yang berbeda, seperti untuk kemasan deterjen. Untuk jenis kemasan deterjan itu hanya bisa membuat dompet dalam ukuran sedang. Dompet ini bisa digunakan menyimpan telpon genggam dan sejumlah uang, yang cocok untuk dibawa berbelanja ke pasar.
Lalu untuk kemasan sachet minuman, dengan memiliki bentuk kemasan dengan warna yang bagus, kemasan sachet minuman bisa menghasilkan kerajinan untuk alas meja. Lalu untuk kemasan-kemasan lainnya bisa dikreasikan menghasilakn tas jinjing.
“Cara membuat kerajinan dari sampah-sampah itu, memiliki langkah-langkah yang cukup panjang. Pertama kemasan itu digunting dengan ukuran yang ditentukan pula. Dalam pengguntingan harus memperhatikan tampilan desain dari kemasan tersebut. Setelah digunting, nanti akan di anyam dan dirangkai dengan bentuk menjadi tas, dompet, dan alas meja,” katanya.
Pengalaman yang didapatkan Lismidiar itu tidak terlepas dari adanya seorang dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Padang Sumatera Barat dalam sebuah pelatihan yang diadakan Posdaya Bahari pada 2015 lalu.
Lismanidar diajarkan bagaimana membuat kemasan yang secara kordat adalah sampah menjadi berbagai jenis kreasi, seperti tas jinjing, dompet, dan alas meja.
“Ini berkat Posdaya Bahari juga yang memberikan saya kesempatan untuk belajar membuat kreasi kerajinan dari barang bekas itu. Alhamdulillah, rezeki yang saya dapatkan cukup buat belanja,” ungkapnya.
Hingga kini cukup banyak pesanan yang ia terima dari sampah-sampah yang di anyamnya tersebut. Harga yang ditawari Lismanidar untuk kerajinannya itu, mulai dari Rp60.000 untuk dompet, hingga Rp150.000 dan Rp200.000 untuk sebuah tas. Harga-harga yang dipatok oleh Lis itu bukan tanpa sebab.
Baginya semakin sulit pengerjaan yang dilakukan, maka harga yang ditetapkannya semakin tinggi. Dari sekian jenis kerajinan yang ia kerjakan itu, tas dan dompet merupakan kerajinan yang paling banyak dipesanan oleh konsumen.
“Saat ini penjualannya belum masuk ke pasar-pasar, tapi hanya melalui masyarakat sekitar dan juga dari informasi yang tersebar dari mulut-mulut. Namun, tas milik saya ini sudah sampai ke Jerman, karena ada salah seorang dosen yang membawanya dan mempromosikannya di sana,” ucapnya.
Ibu dari dua orang anak itu tidak bisa mentaksir berapa penghasilan yang diperolehnya berkat usaha kerajinan dari sampah anorganik tersebut. Namun, dalam satu hari itu, katanya, ia bisa menghasilkan dua hingga tiga dompet atau tas.
Artinya, jika dihitungan dengan harga satu tas mencapai Rp150.000, maka dalam satu hari Lismanidar mampu untuk menghasilkan uang Rp300.000 hingga Rp450.000 per harinya.
Sementara itu, Ketua Posdaya Bahari, Sri Dewi Anggriani mengatakan adanya pelatihan yang diberikan kepada Lismanidar merupakan salah satu peran empat pilar yang dijalankan Posdaya Bahari, yakni pilar lingkungan. Posdaya Bahari memiliki sebuah tujuan untuk menciptakan lingkungan yang bersih bagi masyarakat.
Selain cara untuk mengadakan beberapa agenda gotong royong bersama. Juga ada upaya kreatifitas untuk melakukan pengelolaan sampah menjadi kerajinan, seperti yang dilakukan oleh Lismanidar. Kini, dari Lismanidar telah turut terus berkembang warga yang membuat kerajinan dari sampah anorganik.
“Dari yang saya lihat, dengan adanya kegiatan kerajinan itu, tidak ditemukan lagi sampah-sampah rumahan yang bertebaran di rumah-rumah warga. Kondisi yang seperti itu yang kita harapkan, lingkungan bersih, masyarakat pun bisa berkreasi dan menghasilkan uang,” ujar Sri.
Sehubungan dengan adanya hasil kreatifitas dari ibu-ibu rumah dalam melakukan pemanfaatan sampah, juga tidak terlepas peran dari seorang Penggiat Bank Sampah di Kota Padang Nina Dewi Sukmawati.
Ia menceritakan, tidak hanya di kawasan Kelurahan Pasie Nan Tigo yang telah berhasil melakukan kerajinan dari sampah, tetapi juga ada di beberapa daerah di Kota Padang.
Sebagai seorang yang turut peduli dengan sampah, Dewi mengaku telah banyak mengajarkan kerajinan yang terbuat dari sampah kepada sejumlah masyarakat di Kota Padang. Perjalanan dalam memanfaatkan sampah atau barang-barang bekas itu bukan tanpa kendala.
Persoalan yang datang ialah sulitnya mendapatkan barang-barang bekas. Karena untuk membuat kerajinan dari sampah-sampah itu, harus dipilih dan tidak bisa semua jenis sampah untuk dijadikan kerajinan.
Untuk itu, sebagai cara mengatasi kehausan bahan dalam membuat kerajinan dari barang bekas tersebut. Dewi membentuk Bank Sampah pada 2011 lalu. Melalui Bank Sampah, ternyat mampu mengumpulkan sampah-sampah yang layak digunakan sebagai bahan kerajinan. Di Bank Sampah juga, menerima penjualan barang bekas dari para pemulung yang ada di Kota Padang.
“Jadi Bank Sampah ini tidak hanya menguntungkan para pengrajin saja, tapi turut membantu para pemulung yang telah bersusah payah mencari dan mengutip sampah. Karena sampah yang dikutip dihargai dengan uang,” jelasnya.
Bank Sampah yang dibuat oleh Dewi itu bukan hanya sekedar mengumpulkan barang-barang bekas/buangan saja, tapi barang bekas itu dikelola menjadi barang yang bisa digunakan kembali, dan bahkan layak jual. Seperti halnya pengelolaan sampah anorganik, yakni plastik pembungkus makanan, kertas, dan kertas koran, plastik mainan, botol dan sebagainya.
“Khusus dari kertas surat kabar, kita sudah membuat tempat tisu, tempat air gelas, pot bunga, dan yang lainnya. Itu semua bukan disimpan, tapi juga telah banyak dijual juga,” katanya.
Hasil kreatifitas ibu-ibu rumah tangga itu, ikut membantu ekonomi kebutuhan sehari-hari, karena harga untuk tempat tisu yang terbuat dari kertas koran mampu terjual Rp50.00 hingga Rp150.000 per unitnya, tergantung besaran ukurannya.
“Ide-ide memanfaatkan barang bekas itu merupakan inspirasi dari nenek saya, yang dulu memanfaatkan kulit jagung menjadi barang yang layak jual. Jadi, saya pun mencoba kepada barang bekas yang dipungut pemulung, menjadi barang yang berguna, hasilnya sempurna, saya pun bisa,” ujar Dewi.
Ia mengakui, meski telah membagi pengalamannya kebanyakan orang, ia menyebutkan sebagai ajang saling belajar, karena dari hasil kreasi ibu-ibu rumah tangga tersebut, juga banyak muncul dari ide-ide mereka sendiri.
Barang-barang karya pengrajin dari hasil Bank Sampah itu pun ternyata juga telah dipasarkan hingga ke Pulau Jawa, namun belum dalam jumlah yang banyak. Cerita Dewi, meski demikian, barang hasil olahan barang bekas itu cukup laris di kalangan penggiat yang ada di Kota Padang.
Tidak hanya dalam bentuk sampah anorganik, sampah organik pun juga turut dikelolah oleh Bank Sampah untuk menghasilkan pupuk. Untuk pupuk ini, Dewi bersama sang suami melakukan renovasi/modifikasi terhadap komposter yang pernah diperkenalkan Pemerintah Kota Padang.
“Suami saya Nofriandi melakukan sedikit modifikasi, yakni membuang kawat yang ada di dalam tabung komposternya. Alasan dibuang kawat yang ada di dalam tabung itu, karena kawat akan menimbulkan efek karat terhadap pupuk yang dihasilkannya,” katanya.
Dewi memaparkan, hasil modifikasi komposter suaminya itu, mampu menghasilkan tujuh liter cairan pupuk dalam 15 hari, dan 1,5 liter pupuk padat.
“Sampah seperti rumput dan yang lainnya diiris kecil-kecil, dimasukan ke tabung komposter, lalu dibiarkan. Nah nanti akan menghasilkan pupuk, baik cair atau padat,” ungkapnya.
Untuk pupuk cair yang dihasilkan dari komposter itu, bisa digunakan sebagai pupuk pestisida yang dicampur dengan daun sirsak. Pupuknya juga berguna untuk cabai yang mengalami keriting. Sementara pupuk padat, digunakan untuk bibit tumbuh-tumbuhan.
Modifikasi komposter dari Bank Sampah itu telah dipasarkan di sejumlah kabupaten/kota di Sumbar, seperti Kabupaten Pasaman Barat, Solok Selatan, Solok, Pesisir Selatan, Mentawai, dan Kota Payakumbuh.
Harganya pun bervariasi dan tergantung ukurannya, seperti yang paling besar dijual Rp850.000 ukuran sedang Rp750.000, dan uang ukuran yang kecil Rp450.000.
“Luar dari Sumbar ada juga dijual, tapi hanya sedikit yakni sekira 5 hingga 10 unit yang dipasarkan di Bali dan Jakarta,” tutupnya.
Dewi berharap, hal yang dilakukan oleh Bank Sampah mampu membuat pihak Pemerintah Kota Padang untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Kepedulian yang dimaksud ialah mensosialisasikan kepada pelaku/rumah tangga untuk bisa memanfaatkan sampah, tapi bukan memperbanyak relawan sampah.
“Sampah ini jika tidak diatur dan dimanfaatkan, maka akan terus menumpuk. Dalam hal ini bukan relawan yang diperbanyak, tapi kesadaran dari pelaku yang perlu diingatkan lagi,” tegasnya.
