Lahan Pertanian Rusak, Dinas PUPR Minta Pelaksana JTTS Perbaiki Drainase

LAMPUNG — Keluhan ratusan petani penggarap lahan padi sawah dan perkebunan jagung di wilayah Desa Klaten Kecamatan Penengahan mulai direspon. Para petani terdampak proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar paket I Bakauheni-Sidomulyo selama satu tahun terakhir.

Dalijo, salah satu petani pemilik lahan sawah mengaku merasakan dampak kerusakan akibat luapan air sungai dengan kecilnya ukuran drainase pembuangan air di JTTS STA 18.

Keluhan perubahan lingkungan dampak dari proyek pembangunan atau akibat pekerjaan manusia tersebut diakuinya sudah disampaikan kepada pihak desa melalui kepala desa, UPTD Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang termasuk ke pelaksana proyek sejak 2016.

“Selama proses pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera, petani memang was was terutama saat musim hujan. Saluran drainase kerap tersumbat dan air meluap merendam lahan pertanian,” ujar Dalijo.

Ibrohim, petugas dari UPT Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Rayon II Kecamatan Penengahan dan Bakauheni menanggapi keluhan petani itu. Dia mendampingi Budi Santoso, Kepala Unit Pelaksana Tekhnis Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Rayon II Kecamatan Penengahan dan Bakauheni menyebut sudah melayangkan surat ke pelaksana pengerjaan proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Proyek ini dikerjakan oleh PT Perusahaan Perumahan (PP) persero untuk melakukan peninjauan kembali beberapa item pekerjaan yang berkaitan langsung dengan infrastruktur pertanian masyarakat.

Menurut Ibrohim berdasarkan surat bernomor 600/10/UPTD.PUPR-PB/VII/2017 tertanggal 21 Juli 2017 pihak UPTD PUPR Rayon II Kecamatan Penengahan dan Bakauheni meminta peninjauan kembali pembangunan item pekerjaan terutama dalam pembuatan Box Curvert (BC) dan RCP.

Kondisi kedua saluran tersebut diakui Ibrohim perlu ditinjau kembali dengan kondisi di lapangan terutama saat musim penghujan sekaligus memperhatikan curah hujan maksimal yang berpotensi mengakibatkan banjir.

“Patokan kami adalah saat sebelum ada proyek pembangunan jalan tol trans Sumatera petani di wilayah ini tidak pernah mengalami banjir dan bahkan lahan terendam air hujan dan material tanah,” terang Ibrohim saat ditemui Cendana News di lokasi terdampak banjir, Rabu (10/1/2018)

Selama satu tahun terakhir pasca proses pembangunan JTTS di STA 16 hingga STA 18 membuat sebagian petani penanam padi dan jagung mengalami kerusakan, akibat terendam air hujan penyebab banjir yang ditimbulkan oleh pengaruh pembangunan bukan akibat faktor alam.

Dampak pembangunan Reinforced Concrete Pipe (RCP) atau pipa beton bertulang yang berukuran kecil menjadi penyebab aliran air tidak tertampung.

Sebagai saluran air di lokasi tersebut seharusnya dibuat saluran air dengan box curvert (BC) yang dibuat dengan ukuran memadai memperlancar aliran air.

Fokus perhatian UPTD PUPR Rayon II menurut Ibrohim berada pada saluran BC di STA 16+873 yang dibuat hanya berukuran 3 x 3 meter, RCP di STA 17 +787 hanya dibuat dengan diameter 1 meter dan jari jari 1,2 meter.

Sementara RCP di STA 18+ 075 hanya dibuat dengan diameter 1 meter dan jari jari 1,2 meter. Ia bahkan menyebut sudah memperingatkan sejak awal dampak kecilnya saluran di titik tersebut yang terakhir berdampak lahan pertanian warga terendam banjir pada Selasa (9/1/2018) dan mengalami kerusakan.

“Atas koordinasi dengan aparat desa dan juga pelaksana proyek tol proses pengerjaan pembenahan saluran air dikerjakan hari ini agar petani tidak was-was saat hujan,” papar Ibrohim.

Berdasarkan rencana selain proses pendalaman dan pelebaran saluran drainase yang akan diganti dengan BC dari semula menggunakan RCP. Diharapkan saluran tersebut akan memperlancar aliran air dan tidak mengakibatkan kerusakan pada lahan pertanian terutama saat musim hujan.

Selain perubahan saluran drainase tersebut proses pembuatan akses jalan antar desa yang sempat terputus selama hampir dua tahun akan dilanjutkan dengan pembuatan jalan rigid beton.

Jiman, salah satu petani yang juga berada di dekat saluran drainase dan irigasi di dekat JTTS tersebut mengaku ikut mendukung proyek pembangunan jalan bebas hambatan tersebut.

Namun ia mengaku dampak bagi masyarakat petani yang tidak terdampak langsung harus tetap diperhatikan khususnya dalam kebutuhan air untuk mengolah lahan persawahan.

Akibat beberapa saluran irigasi dan RCP yang berada di dekat JTTS khususnya di STA 18 +075 sebagian masyarakat selain mengalami kerugian secara material. Akibat kerusakan lahan pertanian sebagian warga juga mengaku kuatir dampak jangka panjang akses jalan yang bisa tergerus aliran air.

Masyarakat berharap saluran irigasi dan drainase terdampak JTTS bisa dibangun secara permanen agar tidak mengalami kerusakan dan memberi dampak negatif bagi lahan pertanian warga setempat.

Ibrohim,petugas dari UPTD PUPR Rayon II Penengahan,Bakauheni saat meninjau lokasi terdampak banjir sekaligus perbaikan drainase -Foto: Henk Widi.
Lihat juga...